want to be apart of…

Ada sebuah keinginan dalam hati untuk menjadi bagian dari sebuah masyarakat Minang, meskipun saya bukan orang Melayu. Rasanya jika melihat teman-teman yang berasal dari Minang sangat iri. begitu rasa persaudaraan mereka sangat kuat. Sebenarnya saya juga melihat hal itu pada orang jawa dan Batak, dimana mereka bertemu satu ras langsung akrab mirip sodara.
hanya saja, ada satu hal yang cukup menggelitik urat kagum saya.
Continue reading

Advertisements

kerja keras dan rela berkorban

January 28,
Barangkali itu motto yang sangat dipegang oleh makhluk kecil penggugah inspirasi bernama SEMUT. atau mungkin sudah dijadikan sebagai suatu ajaran suci yang harus dianut dan ditanamkan dalam-dalam di benak setiap semut. Sudah hampir sejam-an ini aku hanya duduk menatap monitor sambil sesekali melirik ke arah barisan semut yang panjang, rapi, dan disiplin. Selain itu ada yang bertugas sebagai detektor, dia mencari hingga kemana-mana apapun yangbias dijadikan makanan mereka. biarpun beberapa ekor sudah aku binasakan karena menggerayangi Cracker, jus mangga, dan bungkus plastik berisi madu kemasan, juga bibir gelas yang mungkin mengundang insting ber’makanan’ mereka. kemanapun sumber makanan itu dipindahkan, mereka akan terus mencari dan mencari. Dan tak berapa lama, mereka akan berkerumun di dekat sumber makanan itu. Pun ketika kupindahkan bungkus madu itu ke dalam genangan air, mereka dengan setia mengikutinya. dan dalam hitungan sekian menit sudah banyak bangkai semut mengapung di atas genangan air itu. Meskipun begitu, semut yang lain tetap mengunduh sumber makanan itu kendati banyak rekan mereka yang mati. Gelas yang kupindahkan sekitar satu meter dari tempatnya semula pun sudah didatangi dua atau tiga ekor semut. satu semut sudah terapung di atas air yang masih bersisa di dalamnya.
Sedari tadi, hanya mengamati. Tapi apa ya kira-kira yang bisa didapat dari menyaksikan itu semua. Sebagian manusia ada yang tetap saja bermalas-malasan, menggilas beberapa ekor semut yang sampai ke tangannya. Baru kerja sebentar udah merasa capek, bosan, dsb, dsb. ketika ada masalah dia lari menghindar dan ketika tlah selesai baru datang lagi dengan muka manis tanpa dosa yang jels-jelas sekali dibuat-buat.
Apa ini, apa itu…
Siapa ini, siapa itu
Ini itu…
Lihat dulu…
kalau belagu….Muke loe jauuuhhhh…………
Berbahagialah semut dengan anugerah yang begitu besar, meskipun kecil tapi kau lebih hebat dari manusia yang berkali-kali lipat besar tubuhmu yang tetap saja menopang dagu… Menunggu waitress mengantarkan makanan ke mulutnya…

semut #4

January 9, 2009
Pui si semut sedang berjalan-jalan setelah jenuh dan penat menghampirinya seharian ini. Lelah mencari makan. Tanpa sengaja dia kembali memasuki ruangan milik seseorang yang sama tiga minggu lalu. Seseorang dengan benda putih keras membungkus kaki kanannya. Pui pernah merayap sebentar di sana ketika yang punya kaki sedang tidur pulas dan merasakan betapa kerasnya selubung itu. Tetapi dia tidak tertarik untuk melongok ke dalam selubung itu meskipun tercium aroma yang mengundang penasarannya. Bayangan teman-temannya yang mati sia-sia karena memasuki selubung itu kembali hadir. Dia bersegera meninggalkan benda putih padat yang aneh itu, mencari perlindungan dalam sarang nyaman, bergabung kembali dengan teman-temannya yang lain.
Pui melihat manusia itu sedang bersandar di dinding kamarnya. Dia mendengar sedikit percakapan sendiri manusia itu. Manusia itu mengatakan bahwa semut-semut yang telah memasuki selubungnya itu membuatnya jengkel karena selain gigitan itu membuat sakit, dia juga harus menahan nyeri saat mencoba menggerak-gerakkan jarinya mengusik semut yang sedang menggigitnya itu. Lalu karena kesal dia membunuh beberapa semut yang keluar dari selubung itu. Tapi manusia itu lalu berkata bahwa semut itu tak sedikit pula yang memberi andil dalam proses penyembuhan lukanya. Karena dia menggerak-gerakkan jarinya berkali-kali oleh ulah semut itu, otot-otot di sekitar lukanya kembali aktif dan mempercepat kembalinya posisi tulang jari itu di kakinya. Dia sebenarnya sedikit menyesal, tapi dia juga tak ingin mengambil risiko lukanya akan terinfeksi karena gerayangan dan gigitan semut-semut itu. Dia hanya menyadari bahwa tak selamanya kakinya itu akan dia biarkan tanpa gerakan yang berarti, tapi melakukan gerakan-gerakan yang konsisten pada waktu tertentu dapat membantu pemulihan jari-jari kakinya itu. Disamping telah kesal kepada semut-semut itu, menusia itu juga terdengar mengucapkan terima kasih. Sayang semut-semut itu tak bisa mendengar karena sudah lebih dulu mati. Biarlah Pui sendiri yang akan menyampaikan itu untuk teman-temannya, paling tidak dia bisa mewakilinya dari golongan semut yang mendapat ucapan terima kasih sore itu. Dia lalu melenggang meneruskan jalan-jalan yang sempat terhenti. Lalu beringsut pulang ke sarangnya untuk segera menyambut malam yang datang.

semut #3

January 9, 2009
Pui si semut sedang berjalan-jalan setelah jenuh dan penat menghampirinya seharian ini. Lelah mencari makan. Tanpa sengaja dia kembali memasuki ruangan milik seseorang yang sama tiga minggu lalu. Seseorang dengan benda putih keras membungkus kaki kanannya. Pui pernah merayap sebentar di sana ketika yang punya kaki sedang tidur pulas dan merasakan betapa kerasnya selubung itu. Tetapi dia tidak tertarik untuk melongok ke dalam selubung itu meskipun tercium aroma yang mengundang penasarannya. Bayangan teman-temannya yang mati sia-sia karena memasuki selubung itu kembali hadir. Dia bersegera meninggalkan benda putih padat yang aneh itu, mencari perlindungan dalam sarang nyaman, bergabung kembali dengan teman-temannya yang lain.
Pui melihat manusia itu sedang bersandar di dinding kamarnya. Dia mendengar sedikit percakapan sendiri manusia itu. Manusia itu mengatakan bahwa semut-semut yang telah memasuki selubungnya itu membuatnya jengkel karena selain gigitan itu membuat sakit, dia juga harus menahan nyeri saat mencoba menggerak-gerakkan jarinya mengusik semut yang sedang menggigitnya itu. Lalu karena kesal dia membunuh beberapa semut yang keluar dari selubung itu. Tapi manusia itu lalu berkata bahwa semut itu tak sedikit pula yang memberi andil dalam proses penyembuhan lukanya. Karena dia menggerak-gerakkan jarinya berkali-kali oleh ulah semut itu, otot-otot di sekitar lukanya kembali aktif dan mempercepat kembalinya posisi tulang jari itu di kakinya. Dia sebenarnya sedikit menyesal, tapi dia juga tak ingin mengambil risiko lukanya akan terinfeksi karena gerayangan dan gigitan semut-semut itu. Dia hanya menyadari bahwa tak selamanya kakinya itu akan dia biarkan tanpa gerakan yang berarti, tapi melakukan gerakan-gerakan yang konsisten pada waktu tertentu dapat membantu pemulihan jari-jari kakinya itu. Disamping telah kesal kepada semut-semut itu, menusia itu juga terdengar mengucapkan terima kasih. Sayang semut-semut itu tak bisa mendengar karena sudah lebih dulu mati. Biarlah Pui sendiri yang akan menyampaikan itu untuk teman-temannya, paling tidak dia bisa mewakilinya dari golongan semut yang mendapat ucapan terima kasih sore itu. Dia lalu melenggang meneruskan jalan-jalan yang sempat terhenti. Lalu beringsut pulang ke sarangnya untuk segera menyambut malam yang datang.

suatu hari, ketika…

Januari 9, 2009
Aku bingung atas apa yang akan aku lakukan. Sudah sekian hari aku berada dalam keadaan seperti ini. Aku rindu sekali berjalan. Aku rindu bekerja. Aku rindu melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain melalui tangan dan kakiku. Aku belum mampu melakukan hal itu. Berjalan saja susah, belum lagi aku harus mengandalkan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhanku. Untung saja untuk urusan tertentu aku masih bisa memenuhinya sendiri.
Aku ingin menata kamarku, menyapunya hingga bersih, mengepel lantainya hingga wanginya tercium sampai sore nanti. Langit-langit dan dindingnya bersih dari sarang sang spider. Jendelanya bebas dari debu dan daun jendela dapat dengan mudah terbuka mengatur jumlah udara dan cahaya yang masuk ke dalam. Setelah semua selesai, aku akan merapikannya lagi, meletakkan barang-barang itu ke tempatnya semula, atau aku akan menyusunnya dengan posisi lain yang manis. Menata tumpukan-tumpukan barang menjadi sebuah pemandangan yang manis. Lalu aku akan menata letak tempat tidur, memasang spreinya dengan yang baru dan wangi, mengganti sarung bantal dan guling, serta merapikan selimut. Menggantungkan sarung dan sajadah yang biasa kupakai untuk shalat. Meletakkan meja kecil untuk komputer kecilku yang manis dan mungkin meletakkan beberapa buah bingkai berisi foto-foto orang yang kucintai, atau lukisan-lukisan abstrak hasil karyaku… hi..hi… Aku tak pandai melukis, aku hanya pandai memanipulasi dan memodifikasi tulisan, itu saja. Karena mungkin kau tak mau lagi menggambar. Aku mungkin sedikit terbius oleh bunyi sebuah hadis yang melarang kita menggambar manusia dan binatang, aku bukan ingin memasung sebuah kreatifitas karena aku sendiri pun bisa sedikit menggambar. Sewaktu SD aku selalu mendapat nilai 8 untuk gambar pemandanganku. Entah mungkin sang guru sudah bosan berkali-kali aku menggambar hal yang sama, jadi beliau selalu menghadiahiku dengan nilai 8.
Yang tadi, aku tidak melarang orang lain untuk menggambar. Bahkan adikku sendiri yang suka menggambar tokoh, aku suruh saja dia untuk terus menggambar, menumpahkan ide dan kreatifitasnya. Dan suatu waktu dia bercerita bahwa dia berhasil menciptakan tokoh rekaan karya dia sendiri, sayang aku belum sempat untuk melihatnya. Aku biarkan dia berkreasi hingga dia tahu dan paham sendiri dengan hal itu. Aku tak mau mengusiknya.
Setidaknya aku hanya menyuruh diriku sendiri untuk berhenti menggambar karena beberapa alasan :
 Aku memang tak pandai menumpahkan ide dalam bentuk lukisan atau gambar manusia dan binatang. Menggambar sebuah pohon yang sempurna saja susahnya minta ampun.
 Aku lebih suka mendesain huruf dan tulisan karena bentuknya tidak terikat dan aku bebas untuk memutarnya sejauh mungkin yang aku bisa.
 Mungkin karena telah meyakini bahwa nanti aku akan diminta menghidupkan apa yang telah aku ciptakan.
 Aku tak ingin menggambar. Tapi aku akan tetap suka dengan gambar atau orang yang pandai menggambar karena setiap ujung jari manusia menyimpan rahasia tersendiri.
Tulisan ini tak perlu dikaji karena hanya curahan satu sisi hati saja.
Aku masih memperhatikan keadaan kamarku. Aku masih mendapati onggokan baju kotor yang menumpuk begitu saja karena belum sempat aku rapikan. Beberapa handuk masih menggantung di sana-sini. Di balik pintu, di dekat jendela, dan di gantungan baju. Untung saja sisa-sisa kerapihan beberapa hari yang lalu masih ada dan terpertahankan, hanya sedikit berdebu.
Aku jadi lebih iri lagi mendengar beberapa kesibukan di luar sana. Aku ingin bergabung. Ada suara orang berteriak, meja di tarik, kursi-kursi dikeluarkan dan disusun, suara sapu yang membentur-bentur dinding, aroma cairan pel, lalu ditambah gemerincing gelas yang beradu dan menunggu bibir siapa yang terlebih dulu menciumnya pagi ini. Suara orang-orang, atau yang lebih tepatnya beberapa mahasiswa yang duduk-duduk di gazebo untuk sekedar berbincang-bincang atau membicarakan tugas kuliah mereka, lalu lalang kendaraan bus kampus Unand yang berkejaran dengan sepeda motor mahasiswa dan mobil-mobil dinas para dosen dan pejabat universitas. Ditambah lagi cericit induk burung yang segera mempersiapkan sarapan pagi bagi mulut-mulut yang menganga di sarangnya. Semua berdengung di kepalaku dan membuat aku pusing. Aku ingin segera keluar dari sini. Menyandang tas, menapaki tangga-tangga gedung kuliah yang terkadang membuat nafas tersengal, memberhentikan bus lalu berebut masuk ke dalam, bertemu teman-teman kuliah, mendengarkan dosen sambil terkantuk-kantuk karena ceramahnya yang panjang dan membosankan, atau dengan serius memperhatikan dan memecahkan sebuah masalah dengan sepenuh hati hingga lupa bahwa jam kuliah sudah berakhir, berdebar-debar menunggu giliran presentasi di depan kelas, atau gugup karena tidak selesai mengerjakan tugas untuk hari ini, bahkan belum sempat membuatnya karena terlalu asyik menonton TV, memainkan bookworm adventure, atau tidur bermalas-malasan sambil memainkan tombol HaPe-ku. Atau mungkin terlalu asyik memikirkan seseorang yang baru saja hadir atau yang sudah berlalu. Berseliweran di kepalaku hingga kadang setelah itu aku akan tersenyum, lalu muram dan menangis, lalu tertawa hingga beberapa temanku berkata, “Dia sudah gila!”
Ya… Dunia ini telah membuatku gila. Hanya karena segala yang ada di dunia aku jadi gila. Perjalanan, hidup, pekerjaan, cerita, makan, harta, uang, kedudukan, wanita… ups… ada wanita!
Bicara tenang wanita, aku tak begitu sukses dalam hal ini. Aku hanya pernah satu kali pacaran jarak jauh dan itu pun hanya cinta-cinta monyet. Aku heran kenapa disebut cinta monyet. Apa cinta seekor monyet tak begitu penting bagi pasangan monyetnya? Tapi mereka berhasil. Beberapa keturunan lahir, dan lalu beranak-pinak. Apakah itu bukan cinta? Jadi ingat syair lagu A. Rafiq, penyanyi dangdut idola bapakku. “segala makhluk yang bernyawa memiliki cinta”. Aku pikir sudah seharusnya istilah itu segera diganti, hanya saja aku belum tahu pasti apa istilah pengganti yang tepat untuk itu.
Lalu semasa SMA aku hanya berani mengagumi beberapa wanita, mulai yang berambut panjang hingga yang berjilbab. Oya, aku masih ingat puisi pertamaku yang tercipta karena aku jatuh cinta pada seorang gadis yang selalu berjilbab dan aku sangat suka saat dia mengenakan jilbab berwarna putih. Suatu saat aku membelikan dia sebuah jilbab, lalu keesokan harinya saat upacara bendera dia memakainya dan sengaja berlalu didepanku. Aku sangat suka sekali melihatnya waktu itu. Puisi empat bait itu mengungkapkan betapa kagumnya aku padanya. “Dan hanya jilbab itu, yang telah mengikat kagumku padamu”. Namun, tak berani aku menyatakan, hanya berani berucap salam. Dia sungguh menawan.
Aku juga pernah kehilangan,, tapi aku sudah tak ingin mengingatnya lagi. Hingga beberapa temanku yang usil dan ingin tahu mencoba mencukil informasi tentang hal ini. Sudahlah… cukup. Aku tak akan mampu berbuat apa-apa lagi jika mengingat dia.
Tanpa sengaja aku melihat ke arah kakiku yang penuh dengan coretan-coretan. Mulai dari sekedar sapaan, pujian, makian, iseng, sekedar menuliskan nama dan tanda tangan, hingga sebuah gambar bunga mawar yang jelek sekali. Jika kuperhatikan gambar itu lebih mirip dengan bunga rumput yang tumbuh di pinggiran hutan, tumbuh liar dekat payau yang berisi beberapa macam ikan air tawar dan kadang biawak yang tidak terlihat dari atas karena keruhnya payau itu. Keruh karena dasarnya yang berupa lumpur, atau karena banyaknya jasad renik yang hidup di sana hingga tak mampu pandangan menembus dasar payau itu. Hanya lebih sering terlihat beberapa ekor ikan cucut kecil hilir mudik menggetarkan ekornya.
Melihat-lihat coretan itu aku jadi teringat kepada staf atau lebih tepatnya adik-adikku yang terpaksa bekerja sendirian mengangkatkan sebuah acara yang oleh gubernur harus dibuat besar dan kolosal. Kemarin salah satu dari mereka hanya datang sebentar, meminta tanda tangan untuk proposal lalu pergi lagi seperti capung yang berhenti sebentar menyentuhkan ujung ekornya ke air lalu terbang lagi entah kemana. Bagaimanapun aku harus menghargai segenap semangat dan asa yang tersisa di dada dan hati mereka, di tengah kecaman kuliah dan ancaman ketinggalan materi kuliah. Mereka tetap bersemangat, hingga kadang aku dibuat malu sendiri. Juga saat-saat sewaktu aku menjadi ketua atau seorang koordinator. Entah kenapa? Padahal mereka tak dibayar, lagipula siapa yang akan membayar. Ini kan sebuah organisasi nirlaba dengan niat lillahi ta’ala. Jadi ya siap-siapa aja nombok segalanya. Tapi ini pula yang kadang membuat organisasi itu menjadi tidak profesional. Biarpun segala yang dikeluarkan bersifat lillahi ta’ala, tapi apa salahnya jika kita mengusahakan untuk paling tidak mengembalikan materi mereka atau sekedar memberikan penghargaan atas jerih payah dan dana yang mereka keluarkan.
Saat menjadi ketua… mungkin jika disebut sebagai ketua aku belum memenuhi kriteria seorang ketua (pemimpin) yang baik. Setidaknya seorang ketua itu harus menguasai tiga sifat (dalam falsafah jawa), yaitu:
Ing ngarso sung tulodo; di depan bisa jadi panutan dan contoh,
Ing madya mangun karso; di tengah mampu menghimpun semangat, dan
Tut wuri handayani; di belakang memberikan dorongan dan motivasi.
Mungkin jadi panutan boleh lah, tapi untuk membangun sebuah kekuatan dan tim yang solid itu sungguh tidak mudah, bagaimana harus menggabungkan segala macam isi kepala orang-orang lalu mengarahkan mereka pada satu tujuan. Kemudian saat sang ketua berada di belakang barisan harus mampu memberikan dorongan motivasi dengan contoh-contoh atau sikap-sikap yang bisa mereka tiru dan anut. Belum selesai aku membaca buku potret rasulullah karya ‘Amru Khalid dan buku berjudul 100 tokoh di dunia. Tapi aku bisa menyimpulkan bahwa mengidolakan seorang manusia bernama Muhammad adalah tepat, dan meneladani sifat-sifatnya adalah benar. Sungguh seorang panutan, contoh, dan penyemangat yang sukses. Tak hanya urusan dunia, tapi juga akhirat. Jutaan umat hingga sekarang mengagungkan namanya tiap saat.
Tapi kadang tetap saja namanya masih kalah populer dibandingkkan Bunga Citra Lestari, Shireen Sungkar, Glenn Alinsky, Giring Nidji, atau Kaka Slank sekalipun di hati pemuda Indonesia sekarang, termasuk aku. Bahkan terkadang aku terlalu mengagumi Eross Candra dan grupnya Sheila on 7 daripada mengagumi Muhammad. Aku hampir hafal semua lagunya dan kudendangkan tiap saat, tapi shalawat dan barzanji sudah pudar dalam ingatan. Bersemangat mencari tahu tentang mereka, berbagai majalah dibeli. Tapi membaca kisah nabi setebal 500 halaman saja butuh waktu berhari-hari, lebih lambat saat harus menamatkan AAC dan KCB I & II.
Sepertinya keadaan di luar sana mulai agak tenang. Hanya terdengar beberapa kali pintu kamar mandi terbuka dan tertutup. Suara anak burung juga juga sudah tak seramai tadi. Semua orang mungkin sedang sibuk sarapan karena di luar sana terdengar denting sendok dan mangkuk beradu. Ruang komputer juga sudah tenang, hanya sesekali tuts-tuts keyboard itu terdengar berisik. Mungkin Roza sedang menyelesaikan tugasnya.
Aku menguap lagi. Menguapkan kebosanan yang sama berhari-hari hingga memenuhi langit-langit kamarku. Untung saja ventilasi dengan setia mengatur sirkulasi yang terjadi. Membawa hawa-hawa kebosanan itu keluar entah kemana dan menggantinya dengan udara segar yang baru.
Kulihat otot-otot di tubuhku mulai mengecil dan aku mulai terlihat lebih kurus. Sudah beberapa minggu aku merindukan bisa joging lagi, melewati bersihnya udara sepanjang perumdos lalu kembali menikmati polusi sepanjang jalan kampus. Melihat-lihat orang yang berpasang-pasangan, kadang-kadang di depan bundaran, kadang-kadang di sudut-sudut, di balik sepeda motor, di pinggir alan, di balik papan bertuliskan “FAKULTAS TEKNIK”, DI ‘DPR’, di depan lapangan bola san saro, di helipad rektorat, di bawah perdu dan pepohonan, dan masih banyak lagi. Ada yang sibuk berlari, belajar motor, berjalan, memainkan skiping rope, main bola, mejeng, dan segala bentuk kegiatan penampakan diri terlihat di sini. Ternyata Unand merupakan tempat rekreasi yang asyik. Apalagi kalau di pondok berdua sambil melihat ke arah indahnya Batu Busuk. Amboi… Kadang-kadang terlihat semak-semak bergoyang. Ternyata beberapa ekor anak anjing sedang berebut memainkan bola tenis yang melenting keluar dari lapangan saat pak rektor dan beberapa dosen sedang mengasah kemampuan mereka atau sekedar melepas penat di hari libur.
Beberapa artis lokal kadang juga memanfaatkan keindahan Unand sebagai lokasi bagi pembuatan video klip lagu-lagu mereka. Sewaktu aku tinggal di asrama pernah memergoki seorang artis sedang berlenggak-lenggok mengikuti arahan sang sutradara. Dan di beberapa VCD milik bapakku, aku juga menemukan beberapa buah lagu yang memakai Unand sebagai latar video klip mereka.
Bersambung…

new year… new hope

December 28,
Tahun baru…
Sebagian orang menyambutnya dengan gegap gempita. Bermacam-macam perayaan dilakukan, mulai dari kembang api aneka bentuk dan ukuran, hingga parade yang tentu tak menghabiskan biaya yang sedikit. Ada sebagian lagi yang memaknai sebagai sebuah pencarian jati diri. Menyelami kembali yang sudah terjadi dan menaksir apa yang akan terjadi.
Tahun baru 2009, entah secara kebetulan atau memang sudah waktunya berpapasan, nyaris bersamaan dengan tahun baru hijriyah milik umat islam. Ini tentu akan menjadi sebuah fenomena dimana tahun baru umat islam itu sendiri akan lebih sepi, bahkan memang sepi dibandingkan perayaan tahun baru masehi yang notabene itu adalah produknya orang sebelum islam. Parahnya, umat islam sendiri merasa bahwa momentum tahun baru islam ini memang tak ada nilainya sama sekali. Mereka menanti-nanti dan mempersiapkan segala rencana untuk menghabiskan waktu menanti detik-detik pergantian tahun masehi dengan matang. Sedangkan untuk perayaan tahun baru islam mungkin hanya milik pengurus masjid yang tentunya punya planing untuk PHBI, akan ada sedikit perayaan di masjid-masjid, atau hanya milik segelintir umat islam yang benar-benar merasa bahwa tahun baru hijriah ini tak main-main. Mereka kembali mempersiapkan diri bermunajat menyerahkan segala urusan satu tahun ke depan kepada penciptanya.
Beberapa tempat hiburan tentunya juga sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut tahun baru 2009. Contoh kecil, di kota Bukittinggi yang sangat terkenal dengan jam gadang-nya itu. Hampir setiap tahun akan ada perayaan pesta kembang api yang aakn muncrat dari bawah jam gadang sehingga benar-benar meriah. Tapi apalah yang mereka lakukan di sana. Ini hanya sebagian, mereka saling membawa pasangan mereka yang kebanyakan belum muhrim, berdua dengan sepeda motor, atau berkelompok pergi dengan mobil menuju pusat keramaian itu. Setiba di sana mereka duduk, sedikit memberi rizki kepada penjaja makanan di sana, bercengkarama, bercanda, menanti saat-saat pergantian tahun. Setelah dekat, mereka menghitung dalam-dalam detik demi detik menuju tahun baru…hingga setelah terdengar teriakan “nol” suasana akan sangat riuh antara decak kagum orang-orang yang menyaksikan pesta kembang api dan iring-iringan musik yang hingar bingar. Mungkin mereka akan sampai rumah dini hari atau ada juga yang pagi hari. Sesampai di rumah hanya letih dan langsung istirahat. Esok pagiya, tak ada kesan yang membekas hanya selain sentuhan tangan sang pacar, cahaya kembang api, atau hingar bingar suara iringan musiknya. Hampir merasa seperti tak punya dosa saja pagi itu.
Kalau begitu bagaimana dengan kota-kota besar lainnya? Tentu sangat megah lagi. Berbagai konser musik akan digelar yang tentunya mendatangkan artis-artis terkenal yang mampu menarik massa yang banyak dengan iming-iming yang sama, sebuah pesta kembang api yang megah dan ribuan suara terompet. Di televisi hanya akan dihiasi acara party, nyaris tak kan ada ditemui acara tahun baru adalah acara introspeksi diri.
Dan bagaimana pula nasib tahun baru hijriah yang jatuh tiga hari sebelum tahun baru masehi? Saya tak mampu membayangkannya. Mungkin akan menjadi sebuah perayaan kecil yang bermakna di hati uamt islam yang tafakur, mulai dari senja saat hari berganti hingga larut malam ia bermunajat kepada Allah. Berbagai doa dipanjatkan dengan harapan tahun baru akan menjadi tahun terbaik dalam hidup. Wajah-wajah yang berlinang air mata mengenang begitu banyak dosa yang dilakukan selama satu tahun yang lalu dan membayang dosa apa lagi yang akan ia perbuat tahun depan.
Fenomena antara masehi dan hijriah ini memang lazim terjadi mungkin untuk saat ini. Seingat saya, umat islam hanya akan bergegap gempita saat menyambut hari raya idul fitri. Ramadhan datang hanya seperti orang tak dikenal, apalagi perayaan-perayaan kecil yang kadang tak mengundang simpati umat islam umumnya, hanya sebagai rutinitas milik kelompok-kelompok pengajian masjid atau risma yang hatinya tergerak dengan momentum itu.
Perang pola pikir mungkin sudah mencapai puncak kemenangan dimana hampir semua umat muslim dapat diperdaya dan dilenakan dari tugas seharusnya sebagai seorang muslim. Mulai dari gaya berpakaian, sikap, hingga konsumsi mereka sudah bergaya barat. Seolah budaya timur itu ketinggalan jaman dan sudah kalah mode.
Entahlah dosa apa lagi yang akan terjadi tahun depan. Mudah-mudahan umat islam mampu memaknai dua tahun baru ini sebagai sebuah introspeksi diri dan evaluasi diri, sehingga mampu menyusun sebuah rencana yang matang untuk satu tahun ke depan.
SELAMAT TAHUN BARU HIJRIAH DAN TAHUN BARU 2009

puisi semut

December 27,
Menulis, bukanlah kegiatan rutinku. itu kulakukan hanya untuk pelampiasan karena aku tak pandai untuk berbicara. aku lebih suka mengatakan lewat pihak ketiga, tulisan. meskipun tak sedikit yang mencibir, katanya sebagai cowok terlalu penakut jika melakukan hal itu saja…bicaralah. tapi biarkan saja lah, aku tak begitu ambil pusing. toh, masih ada cewek yang mau mengerti dengan perilakuku yang inio… he he he
Menulis, aku pun tak rutin melakukan tiap hari. kadang aku lebih suka berbicara sendiri dengan diriku yang satu lagi. kadang kami bercanda, berdebat, berkelahi, bahkan marahan. itu yang membuatku sedikit pelupa kali ini dan terlampau sering mengacuhkan sesuatu. aku jadi lebih sering mengiyakan, tapi ketika kembali dikonfirmasi aku hanya bengong sambil nanya “yang mana sih?”
Menulis, beberapa waktu lalu ada orang yang memanasiku dengan kegiatan rutinnya menulis, birpun sekedar mencoret-coret diary-nya di waktu malam sebelum tidur. tapi itu hanya membangkitkan hasrat menulisku sebentar saja, setelah itu diary-ku kembali tergeletak manis di laci meja belajar. padahal biarpun cuma diary, katanya itu bisa membangkitkan kembali kepercayaan diri, dimana kita ternyata masih bisa menyayangi diri sendiri dengan menuliskan pengalaman hidup, sehingga saat-saat tertentu kita bisa kembali mengenangnya (mungkin saat itu kita akan tersenyum atau meneteskan air mata)
Menulis, aku kembali coba rintis di sini. soalnya aku kadang kesel banget sama yang namanya ide, dia nongol sering nggak bilang-bilang. kadang waktu aku bangun tidur n masih belekan, kadang pas lagi b****, kadang pas lagi shalat…kan ganggu banget ke’khusyuk’an aku…he he he.. jadi saat ini aku punya motto “sedia kertas sebelum hujan…ide, soalnya ntar bisa kebanjiran n meluap-luap ampe nggak ketampung lagi”. di meja belajarku terutama di rak-rak, bertumpuklah dan saling berselap-selip beberapa kertas yang pernah jadi pelampiasan hasrat menulisku. cuma satu masalahnya kenapa aku masih males nulis, aku sukanya mood-mood-an. jadi kadang semangat, kadang juga ogah. payah deh…
Menulis,…tuh kan ….mulai deh males lagi…