Dunia, aku orang paling beruntung!

Rasa minder dan tak enak hati kadang hadir jika merasa kita tak seberuntung orang lain. Melihat teman-teman dengan gembira menenteng gadget terbaru atau naik kendaraan yang keren. Pergi sana pergi sini beli sana beli sini. Segala bisa lancar dengan uang yang banyak. Sedang kita hanya punya Hape keluaran lima tahun lalu, itupun second. Tongkrongan biasa (dalam kamus keren nggak bakalan masuk), kurang menarik (nggak modis), dan uang Cuma pas buat menenangkan kawasan timur tengah aja.

Hal itu yang terkadang mengikis ke-Pede-an diri yang mati-matian dibangun. Pede bisa saja hancur begitu saja hanya karena melihat diri nggak sehebat dan sekeren orang lain. Yang parahnya, kita mulai menyalahkan orang lain dengan alasan yang seenaknya saja kita buat sendiri.

Namun, Continue reading

Biru

Biru…
Wajahmu…
Senyummu…
Harummu…
Setenang nyamannya hatiku…

Biru…
Ciptakan kesan dalam jiwa
Setiap kali ku melihatmu
Berbinar mataku menyambutmu
Kukecap setiap jejak kehadiranmu dalam benakku

Biru…
Kubiarkan merasuk dalam kalbu
Biar kuresapi maknamu
Biar engkau tinggal sejenak di dalamnya
Keindahan itu hanya untukku

Biru…
Syukurku pada Tuhanku atas ilham penciptaanmu
Terima kasih telah mau hadir
Mewarnai kehidupanku, hingga nanti

Untuk perempuan | “Nggak perlu perawatan mahal kok…!”

Tak jarang kita melihat perempuan dengan setengah mati mempertahankan bentuk tubuhnya, atau dengan uang jutaan rupiah hanya untuk membuat wajahnya tampak merona dan menarik. Jalan lain dengan operasi misalnya, mempermak bentuk bibir, hidung, dagu, atau menambah ini itu. Berbagai perawatan dilakoni, tak jarang menghabiskan tenaga, pikiran, dan biaya yang tidak sedikit.

Namun, ternyata jika kita mau mengikuti tuntunan agama kita yang mulia, kita nggak perlu kok mahal-mahal merawat wajah dan tubuh kita. Sedikit tips ini mungkin dapat menjadi alternatif (yang syar’i dan murah meriah) agar kita tak pusing-pusing lagi dengan keadaan tubuh kita yang (tetap saja menurut kita) kurang menarik.
Continue reading

Ketika Iman Dipertanyakan

Iman, dalam terminologi bahasa berarti percaya, sehingga ada rukun iman dalam islam yang mempercayai adanya Allah, malaikat, rasul dan nabi, kitab-kitab, hari akhir, serta qada’ dan qadar sebagai ketentuan Allah.
Iman dikatakan dapat naik dan turun, tidak stagnan seperti iman malaikat kepada Allah. Suatu ketika orang bisa saja menjadi begitu alim, rajin beribadah, atau berbuat kebaikan lainnya. Namun suatu saat bisa saja orang menjadi malas, tak ada semangat dalam beribadah, atau berat sekali untuk berbuat kebaikan.

Iman dapat berarti sebuah rasa takut akan adanya Allah, ketentuan, dan adzab-Nya. Kadang kita bisa saja menilai para pemabuk, pembuat maksiat, atau orang-orang yang sering melanggar agama sebagai orang yang tak beriman. Namun, mampukah kita mengukur kadar iman seseorang?

Dalam suatu cerita dikisahkan ada seorang penjahat yang telah membantai seratus orang selama hidupnya. Ketika dia merasa ajal sebentar lagi akan menjemputnya, dia berpesan kepada para pengawalnya agar nanti jasadnya jangan dikubur, namun dibakar hingga menjadi abu, lalu abunya disebar ke udara, tanah, dan lautan. Akhirnya penjahat itu meninggal dan para pengawalnya melakukan apa yang telah menjadi wasiat tuannya. Abu jasadnya disebar ke udara, bumi, dan lautan. Namun, atas kuasa Allah, malaikat kembali mengumpulkan semua abu yang telah tercerai berai tadi dan menyatukannya kembali, dan ditiupkan kembali ruh ke dalam jasad yang telah menjadi abu. Malaikat bertanya perihal wasiat terakhirnya itu. ternyata dia takut bahwa Allah akan menemukannya dan menanyakan segala perbuatannya ketika hidup. Dia takut akan adzab Allah. Lalu Allah membebaskan penjahat itu dan memasukannya ke dalam syurga.

Terlihat bahwa sekecil apapun iman dalam diri seseorang tetap mendapat perhatian dan balasan dari Allah. Seperti cerita yang dituturkan oleh Ustadz Jefri, ketika beliau sedang ada di perempatan jalan, lalu datanglah seorang waria yang berdandan menor. Sambil menyandang bass kotak waria itu menyanyikan lagu wajib para waria, “Aku tak mau kalau aku dimadu…” dan seterusnya. Dan ketika Uje membuka kaca mobil, si waria terkejut. “Eh, Uje.” Dengan serta merta dia mengganti lagunya, “Perdamaian, perdamaian…”

Uje menuturkan bahwa seorang waria pun masih mempunyai iman yang membuat dia segan dan langsung mengganti lagunya dengan nasyid. Hal ini menandakan masih adanya iman di dalam diri waria itu.

Dan belum tentu kadar iman seorang yang rajin shalat dan puasa lebih tinggi dari seorang biasa saja menjalankan perintah agama, jika dia tak memiliki rasa belas kasihan, rasa syukur dan ikhlas, serta ketakutan bahwa semua yang dilakukannya dipantau oelh Allah dan ia pertanggungjawabkan nantinya.
Dan bagaimana Allah akan membalas keimanan hamba-Nya hanya Allah yang berhak menilainya.

Pacar vs Tuhan

Orang yang sedang kasmaran susah dipegang, entah kata-katanya, janjinya, atau pendiriannya. Bisa saja hari ini dia bilang akan menemani kita, tapi bisa saja semenit berubah ketika pacarnya nelpon minta jemput.

Fenomena yang seringkali terjadi dalam kehidupan ini. Tak hanya di kota-kota besar namun sudah merambah hingga ke pelosok desa. Sinetron-sinetron disinyalir memperparah keadaan ini dengan mengajarkan bahwa punya pacar itu wajar dan pacaran itu sah.

Dan parahnya, seringkali Tuhan menjadi nomor dua. Dewi ‘pacar’ lebih penting untuk dipuja daripada Tuhannya. Ketika adzan berkumandang tak bersegera untuk ambil wudhu dan pergi ke masjid atau shalat. Tetapi ketika telpon berdering dan sang pacar bilang, “Yang, jemput akyu donks…!” maka dia akan sigap menggosok gigi, cuci muka, semprot minyak nyong-nyong sana-sini dan bersegera meluncur ke TKP. Shalat? Entar aja deh di mushala sebelah rumah yayang. *Gubraks…

Sebulan pertama jadian adalah waktu-waktu romantis. Seperti lirik lagu Maia yang lebay itu, “Mau makan kuingat kamu… Mau tidur kuingat kamu… Mau b**** kuingat kamu…” Sama Tuhan, auk dah…gelap…!!!

Seperti sebuah kata-kata manis yang pernah kubaca, ‘Hubungan Tuhan bisa dilihat dari shalatnya’. Dan ini (sangat) tidak berlaku pada ‘hubungan pada pacar dapat dilihat dari berapa seringnya ngapelin’ (dodol…). Mari kita lihat sedikit perbedaannya
Continue reading