Activ…is

_1010298d

Dulu tak pernah membayangkan akan menjadi seorang aktivis. Dari SD sampe SMA saya paling kuper sama dunia per-aktivis-an. Saya nggak pernah ikut jadi anggota OSIS, disuruh jadi anggota Rohis pun mangkir. Satu-satunya organisasi yang sempat saya ikuti adalah Pramuka, itupun cuma setahun.

Sewaktu awal masuk SMA, saya pernah menulis surat untuk ‘ehm’ saya (jaman jahiliyah dulu) sepanjang 4 lembar kertas double folio. Maklum, kami berpisah saat saya baru saja masuk SMA, bukan pisah sih… istilahnya LDR atawa Long Distance Relationship. Kalo CDR mah, ntu merek suplemen tulang.^^

Dalam surat super panjang (dan iseng) itu saya mengungkapkan keinginan yang begitu menggebu-gebu selama belajar di SMA. Maklum, ini SMA favorit dan saya ingin jadi siswa terkaporit…lho?

Continue reading

Advertisements

Hati Ini Milik Siapa?

Lovie

Hati merupakan hal sensitif dan sangat rentan dalam diri kita. Jika kita bertanya hati ini milik siapa, tentu saja jawabannya bisa saja beragam. Buat sepasang sejoli (entah halal atau tidak) pasti akan saling ‘lebay’ bilang, “Hatiku hanya untukmu.” Keadaan ini diperparah dengan banyaknya lagu-lagu yang tak kalah ‘lebay’ dan semakin mendukung bahwa hati ini hakikatnya milik manusia semata.

Allah menganugerahkan sebuah organ dalam tubuh kita, organ yang sangat penting, yaitu hati. Namun, tak banyak tahu bahwa ‘hati’ yang dimaksud bukanlah organ hati atawa liver. Ini hanya masalah penyebutan atawa redaksi saja, sebenarnya organ itu adalah jantung. Dalam beberapa penelitian membuktikan, jantung disebut memiliki ‘otak’ sendiri, bekerja sendiri, dan dialah yang turut merasakan apapun yang kita rasakan.

Continue reading

Ubah (belajar kata)

Kali pertama ini kita membahas kata ‘ubah’ yang seringkali salah penggunaannya dalm karya sastra, baik fiksi maupun nonfiksi. Bahkan ada yang masih menggunakan ejaan lama apalagi EYD (ejaan yang dilebaykan). Sumber saya ambil dari KBBI.

Mari kita simak. Alienberubah

###

ubah v, ber·u·bah v 1 menjadi lain (berbeda) dr semula: wajahnya agak ~ ketika dirasanya sambutanku tidak begitu hangat; dunia rupanya sudah ~ , wanita sekarang berambut pendek; 2 bertukar (beralih, berganti) menjadi sesuatu yg lain: ia bersemadi, lalu badannya ~ menjadi raksasa; paham politik partai itu ~; 3 berganti (tt arah): ~ arahnya;~ akal 1 gila; 2 berganti (pikiran, haluan, arah, dsb); ~ ingatan gila; ~ mulut berubah kata-katanya (pendapatnya); mengingkari janji; ~ pendirian berubah pendapat (paham, keyakinan, dsb); ~ pikiran berubah akal; ~ setia tidak patuh lagi;

Continue reading

Khutbah Jum’at #2

Jum’at lalu (8/4) saya kembali menunaikan kewajiban bagi umat muslim di masjid kesayangan para mahasiswa, Masjid At Ta’lim Sendik BRI. Sebenarnya saya bukan tak ingin shalat di masjid dekat rumah, tapi shalat di sini memiliki kesan tersendiri, nyaman, bersih, dan kita begitu menikmati setiap jamuan di masjid ini.

DSC00897Saya hanya berhasil mengingat beberapa poin dalam khutbah jum’at karena khutbah kali ini rasanya agak panjang. Mungkin karena gelar sang khatib ‘Khatib Batuah’ sudah keburu disebut, maka beliau berkhutbah layaknya ceramah. Tapi tak apa, saya tuliskan beberapa poin penting dalam khutbah kali ini.

Ada lima hal yang menghalangi seseorang untuk menjadi jujur. Lima hal tersebut adalah:

Continue reading

Tanda-tanda akhir Jaman #1

  tree

Mengutip isi dari khutbah jum’at minggu lalu di Masjid Sendik BRI, tempat idola para mahasiswa. Baru sekarang bisa posting.

Ada empat hal yang akan Allah angkat dari muka bumi. Pengangkatan empat hal ini makin menguatkan pertanda bahwa akhir jaman telah semakin dekat.

Empat hal tersebut adalah

1. Diangkatnya keberkahan atas rejeki

Uang dan Kekuasaan-New Rasanya kita sudah bisa melihat fenomena ini, tak perlu menunggu lagi bahwa esok hal ini baru akan terjadi. Tanda-tandanya sudah bisa kita lihat, dimana kekuasaan tidak lagi membawa berkah, rejeki yang kita terima juga tak lagi membawa berkah.

Kasus terbaru adalah indikasi pegawai salah satu bank yang menggelapkan uang nasabah. Hal ini menunjukkan bahwa sudah memiliki jabatan tinggi dan kenikmatan hidup tak menjamin rasa puas itu datang. Belum lagi kasus para pejabat tinggi yang akhirnya berakhir di balik jeruji. Jabatan tak lagi menjadi berkah.

Catatan Perjalanan

Hari ini saya memutuskan akan pergi ke Pasaraya. Sebenarnya malas sekali pergi ke sana jika tak ada keperluan penting semacam berburu koran minggu, membeli kaos kaki, kumpul komunitas atau pergi ke toko buku. Pemandangan yang disajikan di Pasar Kota Padang ini sungguh membuat saya mual. Orang-orang Minang sudah makin bangga dengan budaya barat yang lebih menonjolkan diri daripada isi.

DSC00598 Sepasang muda-mudi bisa kita temukan di setiap sudut Lapangan Imam Bonjol, entah sudah halal atau tidak, tapi rasanya belum lah. Perempuan-perempuan berbaju seksi wira-wiri tanpa malu lagi mempertontonkan tubuh mereka di depan umum. ABG-ABG labil Kota Padang kian parah, bergaya aneh tak tentu arah.

Ah, membincangkan keburukan kota ini tak ada habisnya. Lebih baik menyimak catatan kecil perjalanan saya hari ini.

Niatnya hari ini hanya ingin ke optik untuk mengganti kacamata karena sudah mulai tak nyaman dipakai dan bingkainya patah. Saya tak bisa hidup tanpa kacamata, rasanya hidup tak nikmat. Hahaha, lebay…!

Sedari malamnya saya merencanakan akan pergi dengan teman serumah, tapi ternyata dia ketiduran dan saya memutuskan untuk pergi sendirian. Pergi sendirian ke Pasaraya punya sisi enak dan nggaknya. Enaknya, kita bisa jalan kemana saja tanpa ada yang komplain. Saya sangat suka jalan kaki dan begitu menikmatinya. Nggak enaknya, tak ada teman ngobrol ketika duduk di Warung Sate KMS atau berteduh di Pondok Es Rumput Laut, atau ketika mampir di Cendol Pattimura. Lho, kok makanan aja nih isinya? Hehe…

Oke saya lanjutkan.

Continue reading