Because of You(r)self

15239boomerangPernah mendengar teori bumerang-nya suku aborigin? Yah, gampangnya itu yang akan kita jadikan sebagai contoh dalam tulisan kali ini. Maknanya kurang lebih adalah apa yang kita perbuat akan berbalik pada diri kita sendiri.

Tentu kita pernah merasa (atau melakukannya), bahwa pada suatu saat, kita akan begitu tergesa ketika menghadap Allah, dalam artian: shalat. Mungkin karena pekerjaan atau kesibukan lain yang seolah membuat shalat hanyalah sesuatu yang harus kita selesaikan dengan cepat agar pekerjaan tersebut bisa segera kita lanjutkan. Saya juga pernah. Dan semoga apa yang saya rasakan juga anda rasakan, bahwa ketika kita begitu tergesa dalam shalat, maka perasaan kita pun menyuruh kita agar bersegera menyelesaikannya.

Padahal,

Continue reading

We should’nt call ourselves: ‘hamba’

Terkadang kita lebih nyaman menggunakan kata ‘hamba’ ketika berkomunikasi dengan tuhan, entah itu ketika mengadu ataupun saat meminta sesuatu, atau ketika kita bersedekah. Seolah, kata ‘hamba’ itu telah mewakili segenap kerendahan kita di mata tuhan.

hamba-allahTapi, sesungguhnya tak seharusnya kita menggunakan kata ‘hamba’ di depan tuhan, hanya Allah-lah yang berhak menggunakan kata ‘hamba’ kepada semua ciptaan-Nya. Seperti telah Allah sebutkan dalam QS 51:56, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Konsekuensi sebuah kata ‘hamba’ tentu juga menuntut sikap dan perbuatan yang sebanding kepada ‘tuan’-nya. Lantas, sudah sejauh mana kita telah bersikap dan berbuat di saat kita memposisikan diri kita sebagai ‘hamba’. Sebagai seorang ‘hamba’ tentu kita sudah sangat paham atas hal-hal apa yang telah dilarang ‘tuan’ kita, serta hal-hal apa saja yang disuruh dan disukai ‘tuan’ kita.

Jadi, tidak etis rasanya ketika kita menyebut ‘hamba’ tapi kelakuan kita sama sekali tidak mencerminkan seorang hamba; yang patuh, yang taat, dan tidak membangkang.

Maka, mulailah mengukur diri, sudah patutkah kita menyebut diri kita: ‘hamba’ Allah. (?)