Mendadak OVJ

OVJ sevenfold

Siapa yang tidak tahu OVJ alias Opera Van Java. Komedi yang tayang setiap malam di salah satu stasiun TV swasta Indonesia itu telah menjadi salah satu tontonan wajib bagi kita. Bagaimana kita bisa tertawa dengan gaya gombalnya Andre, tingkah latahnya Parto dan Azis Gagap, goyangan Sule, dan juga candaaan khas Nunung.

Siapa juga yang menyangka bahwa OVJ ini pun bisa kembali mengulang sukses acara serupa di stasiun TV saudara tuanya, yaitu Extravaganza yang dulu juga sempat menjadi ikon stasiun TV tersebut. Dan kini, OVJ-lah anak emasnya.

Pada awalnya, jalan cerita dalam OVJ memiliki benang merah atau ada jalan cerita yang dibangun dalam setiap segmennya. Tapi, lama kelamaan jargon ‘walau ceritanya agak sedikit ngawur’ menjadi inti dari setiap tayangan OVJ dimana pemain bebas saja membelokkan jalan cerita begitu saja atau bahkan menghancurkan jalan ceritanya.

Continue reading

Advertisements

Tasbih

Kresna BertasbihDSC00822

Menurut kamu apa yang lebih penting dari sebuah tasbih?

Ya, tasbih adalah sesuatu benda yang kerap kali dipakai ketika orang berzikir atau berdoa. Tasbih terdiri dari sejumlah manik-manik yang diuntai dalam sebuah tali dan kemudian ujungnya dibuat simpul sehingga berbentuk kalung atau gelang.

Tasbih tidak hanya ditemukan pada umat Islam saja, ternyata penganut agama lain juga memakainya (jika tak percaya, coba perhatikan beberapa film yang dibintangi Bo Bo Ho). Mungkin perbedaannya terletak pada jumlah butiran dalam tasbih itu atau terletak pada hiasan yang ada di ujung tasbih.

Tasbih bisa diibaratkan sebagai sebuah artian ‘tasbih’ yang sesungguhnya, yaitu perputaran yang tiada henti. Seperti telah kita buktikan dengan adanya tasbihnya bulan mengelilingi bumi, tasbihnya planet-planet mengelilingi matahari, tasbihnya untaian DNA kita, bahkan tasbih partikel terkecil semacam atom.

Lalu, kembali ke pertanyaan di atas tadi, kira-kira apa yang lebih penting dari sebuah tasbih?

Continue reading

A Convers#tion

Sebuah percakapan saya dengan Delisa pada suatu hari, dalam sebuah perjalanan sepulang kami dari sekolahnya Delisa.

Delisa : “Eh, Om…. Foto Delisa yang ini mirip Ummi gak sih?”

Saya : Mengernyitkan dahi. “Mmm, kok matanya beda ya…”

Delisa : “Masa’ si Om? Mungkin mirip Abi… wkwkwk….”

Saya : “Iya tuh…. Cuma jilbabnya yg mirip.” Be right back

Delisa : “Emang, itu kan jilbab Ummi, Om. Om, Delisa mau es krim…!”

Saya : “Boleh…. Tapi udah maem belum?”

Delisa : “Blom, masakan Ummi gak enak.”

Saya : “Kalo beli ikan goreng di warung depan kena marah Ummi nggak ya?”

Delisa : “Ayo kita beli aja di sana, Om. Abi kemana ya?”

Saya : “Umm…Abi kan yang punya warung itu. Kok lupa sih, De? Dah laper banget ya?”

Delisa : “Hehe…iya. Om kok pinter sih? Belajar apa kalo di sekolah?”

Saya : “Siapa? Om? Mmm, Om belajar untuk berhenti belajar.” Sambil tersenyum simpul.

Delisa : “Itu kan punyanya Ummi. Kok Om tau si? Emang Ummi pernah bilang sama Om?”

Saya : “Oh, iya ya. Om abis baca buku nih. Ada kata-katanya gitu. Hihihi….”

Delisa : “Emang Umminya Delisa bisa nulis? Membaca saja sulit. Wkwkwk…. Om penulis ya?”

Saya : “Bukan, Om pembaca. Delisa suka baca? Buku Om banyak di rumah. Ada buku Ummi juga di sana.”

Delisa : “Delisa sukanya es krim. Buku Om juga ada di lemari Ummi. Kemarin sore Delisa jalan-jalan ke toko buku sama Ummi….”

Saya : “Oya? Dibeliin buku apa sama Ummi?”

Delisa : “Buku apa nggak tahu, belum dibuka. Orang Delisa gak suka baca. Enakan juga es krim.”

Saya : “Eh, di toko buku nggak ada yang jual es krim ya, De?”

Delisa : “Ada dong. Om, main-main ke rumah Delisa ya…?!”

Saya : “Lha, ini kan mau ke rumah Delisa. Tapi, kita beli maem dulu kan?”

Delisa : “Hehe…”

Beberapa lama kemudian, setelah kami selesai makan siang hasil dari membeli di warung depan dan menganggurkan masakan Umminya Delisa.

Delisa : “Om, Delisa disuruh Ummi pergi ngaji dulu. Ntar main lagi ya, Om. Assalamu’alaikum.”

Saya : “Iya, De. Wa’alaikumsalam.”

***

Apa yang ada dalam pikiran anda setelah menyimak percakapan di atas?

[bukan] Imam Biasa

Foto0159

Banyak orang menanyakan kenapa saya tak serajin dulu shalat berjamaah di masjid.

Nggak ada yang nanya tuh…!

OK. Nggak masalah. Saya cuma mau kasih tahu saja jikapun ada nanti yang bertanya, katakan saya sedang (di)pulang(kan) ke rumah orang tua saya. Hahaha…. Nggak kok. Saya cuma agak sebel karena semakin hari kok imam shalat makin asal-asalan.

Kok gitu?

Iya. Menurut saya, orang itu begitu membuat ‘mudah’ makna apa itu imam. Imam adalah pemimpin dalam shalat berjamaah. Itu saja. Tetapi tidak dipelajari bagaimana menjadi imam shalat yang benar.

Continue reading

Nilailah Diriku Sepuas Hatimu

Aha…

Ini hanya sedikit catatan (atau lebih tepatnya coretan) dan mungkin yang paling tepat adalah tamparan (dan juga jambakan) dari teman-teman saya. Hanya sekelebat kesan yang mereka dapatkan selama bersama 90 hari dalam sebuah kepanitiaan. Tentunya ada yang udah temenan lama, ada juga yang baru (masih unyu-unyu). Jadi ya, komentarnya relatif lah ya… *ngeles

Saya merasa beruntung sekali kertas kecil berlipat dua ini masih bisa terselamatkan setelah gempa 7,9 skala richter yang sempat main ke Padang dua tahun lalu. Bukan karena bangunan tempat tingal saya rubuh, hanya karena saya panik sehingga keluar rumah cuma pake celana selutut (untung kebawa sama lutut-lututnya). Setelah membereskan rak buku yang berserakan, saya hampir tak mendapatkan kertas kecil ini. *panik, keliling kota Padang pake sepeda roda tiga

Foto0264

Ntu bukan bayangan antu, tapi bayangan tangan saya.

Akhirnya ini kertas saya temukan tiga bulan kemudian nyungsep di belakang rak buku, kejepit sama seekor cicak galau yang malang. Nggak ding, ini catatan ditemukan dalam kondisi selamat sehat wal afiat tanpa kekurangan sesuatu apapun. Cuma agak lecek dan kulitnya agak kecoklatan. Begitu rapuh. *hiks…bikin selamatan tiga hari tujuh malam

Kenapa ini kertas sampai begitu berharga buat saya? Nggak tahu. Bagus, akan saya kasih tahu.

Continue reading

Oportunistis

Edisi : Ibu Kost-ku Sayang, Ibu Kost-ku Malang

Saya tinggal di Padang, tapi dalam edisi bukan berarti bahwa ibu kost saya tinggal di Malang. Ibu kost saya juga tinggal di Padang (rumahnya di sebelah rumah kost-nya yang mana adalah tempat tinggal saya). Dan yang mau saya ceritakan di sini bukanlah sekedar kemalangan saja, tapi lebih dari itu.

Sudah berkali-kali saya memergoki ibu kost saya bertingkah seperti itu. Buat sedikit gambaran saja, ibu kost saya ini sudah punya cucu, jadi bisa dibayangkan kan berapa umurnya sekarang? Oke, dan satu lagi… ibu kost saya ini perempuan. Bisa dibayangkan kan bagaimana cerewetnya? Wooops…

Seperti pagi ini, ibu kost saya melihat sebuah sepeda teronggok di garasi (sebenarnya yang dimaksud garasi di sini adalah ruangan agak luas yang menyatu dengan dapur, berisi beberapa ekor sepeda motor dan seonggok sepeda beneran). Lalu dengan sedikit basa-basi si ibu kost saya ini berencana ingin membeli itu sepeda, padahal temen saya itu berniat tulus dan ikhlas membeli sepeda itu untuk program penyusutan kawasan timur tengah alias perut. Bahkan sepeda itu baru tiga minggu yang lalu dia beli.

Eladalah…

Continue reading

Dlemingan Pagi-Pagi

 

Pagi ini tiba-tiba mendung menyelimuti, dan tepat setelah saya kembali dari membeli sarapan, hujan pun turun mengguyur. Lumayan buat adem-adem. Rasanya pingin nyanyi Hujan Turun-nya 507 😀

Hujan, merupakan berkah dan rejeki yang diberikan Allah kepada kita para penghuni bumi. Hujan adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada kita. Sungguh beruntung bukan orang-orang yang dikasih-sayangi?

rain-1

Dan, pagi ini pun untuk kesekian kalinya saya mendapat kasih sayang dan perhatian dari teman-teman se-kost. Tak tanggung-tanggung, hampir setiap hari saya dikasih perhatian seperti ini. Mereka sungguh baik sekali.

Ape hal?

Continue reading