Marbot

Istilah marbot merujuk pada orang-orang yang mengurus masjid dan biasanya tinggal di sekitaran masjid atau bahkan di masjid. Jika dilihat dari artinya, maka marbot-lah yang sehari-hari mengurus masjid, membersihkan, merapikan, dan menyiapkan segala sesuatu agar jamaah yang datang ke masjid merasa nyaman.

Sulit sekali menemukan marbot yang benar-benar menghamba pada Allah untuk mengurus rumah-Nya. Kebanyakan karena alasan faktor upah yang kurang cukup atau tidak adanya fasilitas baginya membuat mereka terkadang tidak maksimal mengurus masjid. Padahal, seharusnya pertanggungjawaban ini diserahkan kepada pemilik rumah ini, bukan pada pengurus masjid yang doyan nyuruh ini itu.

Pada sebagian masjid, marbot dipilih selalin pandai mengurus masjid, dia juga pandai menajdi imam, adzan, dan sebagainya dan biasanya usianya telah lebih dari 30 tahun atau pada usia dinilai telah matang dan mampu bekerja maksimal untuk masjid. Namun, tak jarang pula kita temui marbot-marbot yang dipilih dari para mahasiswa dengan alasan bisa menggajinya murah, mudah diatur, mau tinggal di masjid, dan sebagainya.

Saya sering menemukan hal-hal kurang menyenangkan di masjid karena perilaku marbot ini.

Marbot bisa diibaratkan sebagai sebuah kepanitiaan yang akan menyiapkan tempat dan segala sesuatunya bagi tamu-tamu Allah yang datang untuk menyantap hidangan dari Allah. Tentu saja masjid akan dibersihkan, karpet ditata rapi dan lurus, diberi minyak wangi, dan hala-hal menyenangkan lain yang membuat jamaah akan betah duduk di masjid.

Terkadang yang terjadi sebaliknya. Marbot ini akan sibuk menyiapkan yang terbaik hanya ketika orang-orang dinas (yang sok tahu) itu datang melakukan safari atau kunjungan ke masjid-masjid, ketika ada pak walikota (yang terbiasa dilayani, bukan melayani) atau pak kapolsek. Padahal urusan sebenarnya adalah menyambut tamu Allah, bukan menyambut tamu undangan pengurus masjid (yang kebanyakan dari mereka hanya mengotori masjid dengan asap dan abu rokok).

DSC00924

Imbasnya, pada waktu-waktu shalat biasa, kadang lantai tidak disapu, karpet-karpet yang digelar kebanyakan bau, kasar, dan berdebu, lantai selasar tidak dipel, dan jarang yang menyemprotkan minyak wangi ketika menjelang shalat. Hal ini tentu akan membuat jamaah merasa tidak betah di dalam masjid dan memilih masuk masjid ketika akan iqamat dan pulang lebih awal, shalat pun menjadi tidak nyaman karena saat sujud malah harus menahan nafas.

Padahal tugas mereka tak hanya adzan, lalu mengimami, selesai, mengobrol… Tugas mereka komplit, mulai dari menyiapkan untuk menyambut jamaah hingga melepas mereka kembali ke rumah masing-masing. Anda tentu bisa membayangkan kerjanya seperti panitia-panitia seminar atau talkshow dan semacamnya yang menuntut kesempurnaan dalm bekerja karena akan menjadi imej bagi penyelenggara.

Yang terjadi sebaliknya, banyak marbot yang justru mengabaikan hak-hak ‘kenyamanan’ milik para jamaah. Karpet terbaik hanya dikeluarkan ketika ada kunjungan gubernur, di pel hanya ketika ada perayaan maulid nabi misalnya, dan di cat ulang hanya karena besok lebaran. Belum lagi jika kita membahas kamar mandinya, hmm…saya yakin sudah banyak dari anda yang menutup hidung 😀

Saya tahu dan paham kerja marbot itu berat karena saya pernah melihat bapak saya dulu sangat berdedikasi dalam mengurus masjid (bukan ingin sombong, hanya sebagai contoh dan bahan introspeksi saja). Satu jama menjelang shalat jum’at beliau sudah berangkat untuk meyapu lantai masjid, menyiapkan karpet, memberi minyak wangi dan sebagainya. Pada hari biasa, setengah jam sebelum shalat beliau sudah stand by di dalam masjid.

Jika memang keterbatasan kerja ini hanya dikarenakan balasan materi yang tidak seberapa tentu saja tidak bisa dijadikan acuan karena pekerjaan ini LPJ-nya langsung ke Allah jika benar-benar mengabdikan diri menjadi marbot. Siapa sih yang mampu membayar upah marbot setingkat PNS? Saya pikir jarang sekali pengurus masjid yang berpikiran seperti itu, memikirkan kesejahteraan marbot agar para jamaah yang berkunjung ke masjid pun bisa sejahtera pula.

Menjadi Imam Shalat

dsc02873

Imam, secara umum kita memaknai sebagai orang yang berdiri paling depan, memimpin shalat berjamaah, baik di masjid atau di rumah. Namun makna ini jadi begitu sempit ketika ditambahi kata dibelakangnya, Imam Masjid. Imam ini kerjanya cuma mengimami shalat saja, sementara suaranya tidak dipakai ketika rapat pengurus masjid. Kadang, imam dan marbot itu disamakan saja orangnya.

Secara luas, imam adalah orang yang memimpin dan punya orang yang dipimpin. Dalam keluarga, bapak adalah seorang imam. Dalam rumah tangga, suami adalah imam dari seorang istri. Dalam kelas, ketua kelas adalah imam kelas.

img005-1

‘Imam’ dalam keluarga dan rumah tangga. Termasuk imam yang disukai, terbukti semua orang senyum.

2655-dari-inilah-com

Orang-orang yang pada rebutan jadi ‘imam’. Saya yakin kita sudah tahu kualifikasi masing-masing toh…

Continue reading

Saya Nggak Suka Sepak Bola

 

 

Masa kecil adalah masa-masa indah penuh bahagia. Bohong kalo orang bilang masa kecil gue kurang bahagia lantaran sering liat gue main boneka sepulang sekolah, meski udah kelas enam. Tapi itu ada ceritanya kenapa kok gue sampai sebegitu dekatnya sama boneka.

Ceritanya gini… (auuuum….backsound srigala) lo pikir ini acara KisMis?

Ibu gue adalah seorang penjahit, tapi sama sekali bukan sodaranya penjahat, ibu gue baik banget. Dulu waktu remaja, (asli cantik banget, pas gue liat aja naksir..hohoho) ibu gue pernah ikut kursus menjahit gitu lah, sama seperti remaji-remaji lain. Jadi, sewaktu menikah sama bapak gue dan dapet anak gue, kemahiran menjahitnya makin cihuy. Ibu bikin pola-pola pakaian dari kertas, trus dipasangin ke boneka-boneka mainan gitu. Nah, karna gue masih balita, jadi dari kecil gue dah mainin boneka ibu gue. Jadinya ampe gede juga gue tetep suka ma boneka. Kadang kalo pas pulang ke rumah, gue suka rebutan boneka ma adek gue yang paling kecil.

Udah dulu deh ya main boneka-bonekaannya, kan gue mo cerita knapa gue ampe nggak suka ma sepak bola.

Continue reading