Cinta itu Pilihan

Jika engkau masih ragu mengenai cinta itu pilihan atau takdir, maka dengarkanlah!

Cinta itu adalah pilihan. Sedangkan takdir adalah keputusan yang telah kita pilih. Dalam kehidupan beragama, kita meyakini dan mengimani adanya qada dan qadar. Qada adalah sesuatu yang belum terjadi atas kita. Sedangkan qadar (takdir) adalah sesuatu yang telah terjadi pada kita.

Cinta, sama seperti kedua istilah tadi. Kita dapat meminta sebelum cinta itu datang. Sebelum terjadi, kita masih bisa meminta apapun dan seperti apa cinta yang kita inginkan. Sedangkan takdir terletak di ujung usaha manusia. Setiap yang kita lakukan, maka takdir itulah yang kita dapatkan.

Nah, terkadang Tuhan memberikan sesuatu kepada kita, tapi menurut kita tidak sesuai dengan yang kita minta. Maka, yakinilah bahwa itulah kebaikan Tuhan, dia tahu apa yang kamu butuhkan, bukan yang kamu inginkan.

Maka, memintalah sebelum cinta itu datang. Mendekatlah kepada pemilik takdir dan cinta. Lalu, berusahalah dengan segenap hati atas permintaan dan pilihan cinta yang kita inginkan. Kemudian, berserah atas semua cinta yang akan diberikan Tuhan. Yakin saja, apapun itu, itulah cinta terbaik buat kita.

So, jangan menyerah … jangan menyerah … jangan menyeraaaaaaaaaaah …!

Advertisements

Balikan…oh, Balikan

Ada temen yang nanya, “Kenapa sih harus balikan sama mantan?”

Aslinya saya nggak tahu jawabannya karena saya ngak pernah punya mantan dan saya (tentu saja) nggak pernah balikan sama mantan, yang otomatis pula saya nggak punya alasan atau sebab kenapa harus balikan sama mantan. Ah, ribet banget sih bahasanya.

Iseng saya tanyakan lagi pertanyaan yang sama kepada teman saya yang lain, “Kenapa sih harus balikan sama mantan?”

Tanpa diduga sebelumnya, saya mendapatkan sebuah jawaban yang mencengangkan. Teman saya itu dengan santainya menjawab, “Ya memang harus balikan sama mantan, nggak mungkin kan balikan sama orang baru.”

Akhirnya saya mikir, kayaknya emang bener deh, nggak mungkin kan balikan sama yang baru, pasti balikannya harus sama mantan.

Continue reading

Berpoloslah, Sebelum Anda Dipaksa Polos

sewa-piring-di-tangerang Beberapa hari ini, saya sedang teringat-ingat kejadian-kejadian polos yang pernah saya lakukan, baik dulu ketika masih unyu, ataupun ketika sudah mendadak kuyu. (Lho…?) Kepolosan-kepolosan yang tak tertanggungkan, yang ketika diingat kembali di masa sekarang akan membuat saya terkadang bersemu merah, bersemu ijo, atau mungkin bersemu biru. Bukan karena saya malu, tapi karena saya terlambat menyadari bahwa saya ternyata begitu lugu (lutung gunung).

Kepolosan pertama yang saya ingat adalah ketika kelas IV SD, saat mewakili SD tempat saya sekolah untuk lomba baris berbaris. Pada saat seleksi di SD tetangga, saya mengikuti semua aba-aba yang diberikan penguji. Hingga pada aba-aba ‘balik kiri’ pun saya ikuti. Saya tak pernah tahu jika balik kiri dalam aturan baris berbaris itu ada. Tapi itulah saya, berusaha mengikuti seleksi itu sepenuhnya, meski tanpa dukungan sekolah semestinya, tanpa persiapan sama sekali.

Kepolosan kedua, agak memalukan karena saya benar-benar kelihatan lugu di depan seorang perempuan. Waktu itu kelas V SD, saya kembali mewakili SD saya untuk olimpiade tingkat kabupaten. Lagi-lagi tanpa persiapan dari sekolah, bahkan saya harus ngojek hingga ke kecamatan bersama bapak saya, pakai uang sendiri. Hmm….

Continue reading

Katanya, Lebih Enak Sakit Hati daripada Sakit Gigi

Daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini…biar tak mengapa

Eh, malah keterusan. Maaf nih, siang-siang gini enaknya dengerin dangdutan sambil leyeh-leyeh. Padahal niatnya pingin bikin postingan tentang sakit hati.

Saya pernah sakit hati, makanya saya tidak setuju dengan syair lagu di atas. Buat saya, lebih baik sakit hati daripada sakit gigi. Karena, ketika sakit hati saya masih doyan makan dan intensitas tidur kian bertambah. Sementara, ketika sakit gigi, saya tak bisa makan enak dan yang enak-enak, serta tidur kadang kerap terganggu.

Nah, apalagi sakit hati karena cinta. Pengalaman sakit hati pertama kali adalah ketika SMA, saat cewek yang saya taksir menolak dengan cara paling halus, tapi menusuk.

“Kita temenan aja yah. Lagian aku lagi nunggu cowok yang udah setahun PDKT sama aku.”

Lah, apa bedanya sama saya. Saya juga udah hampir setahun mencuri perhatiannya. Tapi ya mau berbuat apa lagi, nasi telah menjadi bubur, dan bubur telah dimakan cacing. Mati kau!

 

Continue reading

Antara Hak dan Kewajiban

DSC00057Mulai awal bulan lalu kami memberlakukan sistem piket rumah yang baru. Selain terjadwal, kali ini diberlakukan sanksi denda bagi anggota yang saat kebagian jatah piket tapi tidak melaksanakannya. Tidak mahal memang, hanya beberapa ribu rupiah saja untuk sekali melalaikan piket.

Tujuan sanksi denda ini tentu saja bukan menakut-nakuti, hanya sekadar mengingatkan bahwa tugas piket ini biarpun sepele tapi sangat penting. Sepele karena tugasnya hanyalah menyapu lantai, mencuci piring, memasak nasi, dan membuang sampah. Penting karena jika tidak dilaksanakan satu hari saja, maka piring akan berserakan di dapur, gelas-gelas kotor, dan sampah tentu saja akan semakin menumpuk.

Awalnya berjalan lancar saja. Tapi, seperti kebiasaan orang Indonesia yang hangat-hangat tahi ayam, makin hari ada saja yang mangkir piket. Sehingga kadang teman lain yang ingin makan harus memasak nasi dulu plus mencuci piring dan gelas sendiri.

Continue reading

Banyak Sekali Ingin, Tapi…

HP Soner Naite 

HP saya yang lama

Sepertinya minus mata saya kian bertambah dan saya belum punya uang untuk beli kacamata. Sebenarnya ada sih, tapi nggak untuk beli kacamata. Sama aja atuh, Di. Sedangkan harga kacamata kian lama kian mahal saja, setidaknya untuk ukuran mahasiswa. Hihihi…saya masih mahasiswa.

Akibat hal ini, fokus mata saya makin kabur. Saya suka pergi ke luar rumah tanpa memakai kacamata. Ketika pergi, patokan saya hanyalah benda-benda berukuran besar – yang mana masih terlihat jelas oleh mata saya – semacam papan reklame, tembok, atau tiang listrik.

Ketika shalat pun saya melepas kacamata. Akibatnya pandangan saya tidak fokus meski sudah menghadap ke tempat sujud. Pikiran pun kadang ikut-ikutan ngelayap ke mana-mana. Ah, saya nggak mau nyalahin setan, dari dulu emang udah salah. Sempat kepikiran buat lasik, tapi….

Kemarin sempat ingin punya HP baru yang kameranya cihuy. Asli, semenjak kehilangan HP saya yang kemarin, minat memotret saya menurun drastis. HP yang lama memang tak bagus-bagus amat kameranya, tapi lumayanlah untuk sekedar bereksperimen menjepret gambar.

 

Sempat ikut lomba yang hadiahya lumayan gede buat borong tahu brontak, dan sangat berharap menang agar HP baru segera di tangan. Apa boleh buat ketika tak ada yang menang satu pun. Hmm…harapan punya HP baru pun masih harus ditunda lagi.

Dari beberapa buku yang terbit – yang mana ada karya saya di situ – belum saya punya. Pingin banget punya semua koleksi buku yang ada sayanya di situ. Pingin borong gitu. Tapi apa daya, masih belum menang lomba.

Apalagi – dengan kejamnya – beberapa agency buku membuka bazar buku yang menarik tapi harganya miring sepanjang Januari-Februari ini. Nggak tahan pingin beli semuanya, tapi….

Yah, memang harus bersabar lagi. Ada yang masih harus diperjuangkan lagi selain punya kacamata baru, HP baru, atau buku baru.

Ada banyak ingin memang, tapi….