Anjing

Anjing ashabul kahfi part 2 Anjing itu baik. Manusialah yang membuatnya menjadi ‘anjing’. Manusia seenaknya saja memakainya dalam serapah. Mereka tak tahu bahwa kadang anjing yang kan datang memapah, kala kita terkapar kalah.

Anjing itu tak berdosa. Manusialah yang telah berdosa dengan memakai namanya. Lupakah kalian ada satu anjing yang telah mendapat jaminan masuk syurga? Mengapa harus anjing yang menjadi ‘penunjuk jalan’ kepada ashabul kahfi dalam upaya penyelamatannya? Sedang kalian, jangankan jaminan, perbuatan kita mungkin belum pantas untuk mendapatkan jaminan syurga.

Beragam cerita pun telah menyatakan bahwa anjing bisa diibaratkan sebagai pernjelmaan malaikat. Bagaimana seorang pelacur bisa mendapat kartu pass masuk syurga hanya karena memberi minum anjing yang kehausan. Lalu ada seorang muallaf yang bisa langsung masuk syurga lantaran dia meninggal sebelum sampai ke tempat tujuannya karena makanannya dia berikan kepada anjing yang kelaparan.

Continue reading

Advertisements

Kabar Lebay nan Berbahaya

Lantas

Saya boleh menulis untuk siapa? Saya boleh mengadu kepada siapa untuk menyampaikan ini.

Ya, menikmati berita (kabar, warta, atau fokus, atau apapun namanya) kok sepertinya sama ketika menikmati infotainment (informasi, investigasi, silet, parang, gergaji, atau apapun namanya). Setidaknya ini berlaku bagi sebagian saja stasiun TV yang katanya intens kepada warta dan olahraga.

Nggak tahulah ya. Kecuali jika mungin nanti TVRI ikut-ikutan latah mengikuti tren pemberitaan saat ini. Ketika ada sebuah kasus, maka itulah topik berita hingga seminggu ke depan. Bisa jadi berita Firrman Utina yang gagal menjebol gawang Malaysia di final pertama piala AFF, atau ketika kembarannya Judika (Tibo) bermain optimal di tim U-23 SEAG. Lalu mereka akan diundang ke studio, ditanya ini itu oleh pembaca berita yang tak lebih pintar dari tablet-nya. Apa bedanya dengan berita Saiful Jamil ketika kehilangan istri keduanya lalu dibuatkan sinetron dan filmnya? Mungkin saja nanti akan ada film Indonesia yang judulnya “Kutemukan Cinta di Wisma Atlet Palembang”.

Tren pemberitaan ini kemudian memberikan doktrin kepada masyarakat bahwa segala sesuatu bisa jadi isu yang menarik, bisa jadi topik, bisa jadi sebuah gosip bahkan. Sehingga wajar jika kita mengikutinya sepanjang hari, sepanjang waktu. Menikmati pemberitaan Nazaruddin misalnya, kok seperti menikmati perseteruan Depe dan Jupe.

Mari kita simak kabar dari Bu Nunun yang masih hangat (taik ayam), akan bertahan berapa harikah berita tersebut. Apakah bisa masuk chart berita terlebay se-nusantara?

nunun-wanted

 

Continue reading

Kembalikan Trah Musik Indonesia!

Hey, kita butuh lagu-lagu yang kembali ke akar rakyat Indonesia. Lagu yang penuh sahaja, sederhana, menyampaikan kekhasan lokal, dan bisa diambil manfaatnya.

Menilik tren perkembangan musik di Indonesia (yang kebanyakan didominasi oleh band baru dan solois-solois kacangan), rasanya kok miris banget ya. Semuanya sama dan seragam, korban dari majalah, kata SID dalam lirik lagunya. Kabarnya kini marak beredar Boyband dan Boygirl di mana-mana yang mana mereka hanya mengandalkan bodi daripada kualitas suara. Ayo ngaku, mau nonton 7 Icons atau dengar lagunya? Barangkali ketika memutar video klip 7 Icons dan suaranya di-mute-kan, kita tidak akan protes asal layarnya tidak digelapkan.

Ya, hampir kita tak bisa membedakan antara satu penyanyi dengan penyanyi lainnya, semua melagukan jenis musik yang sama. Entah yang namanya Hijau Daun, Klorofil, Asbak, Domino, Lacak, Togel, atau apapun namanya. (rasanya Kangen Band harus diseret ke meja hijau untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tapi rasanya vokalis dan keyboardis-nya saja sudah cukup lah)

Continue reading

Sayang, Syahrini yang ‘Indonesia’ cuma Jambulnya Doang

Entah apa yang ada di benak panitia penyambutan La Galaxy ketika Beckham cs baru tiba di Indonesia. Secara sesuatu, Syahrini didapuk sebagai penambut, terutama untuk menyambut Beckham, di bandara. Bahkan sempat menamani makan malam, katanya sih, saya nggak tahu persis beritanya.

Syahrini kala itu mempersiapkan penyambutan Beckham dengan gaya khas yang ‘sesuatu’ dan sudah pasti selalu berbeda dari gaya-gaya yang sebelumnya. Selain memakai bulu mata anti badai, imageskali ini Syahrini meletakkan mahkota di kepalanya berupa Jambul Khatulistiwa.

Usut punya usut, ternyata jambul hanyalah poni depannya yang digulung ke belakang. Padahal saya sudah hampir membayangkan jambul Elvis Presley nagkring di kepala Syahrini. Entah inspirasi apa yang membuat dia menamakan mahkota barunya itu dengan Jambul Khatulistiwa. Padahal tidak mirip kepulauan Nusantara. Bahkan berbentuk pulau jawa pun tidak. malah lebih mirip ombak Pantai Selatan. Tapi, ya itulah Syahrini. ‘Sesuatu’-lah pokoknya.

Continue reading