Tentang 507

Maksimalisasi dalam Minimalisasi

Judul yang repot ya! Tapi itulah yang sedang dilakukan Sheila On 7, terutama Eross Candra dalam memberi isi album-album mereka pasca keluarnya Sakti menjelang Album 507 beredar di pasaran. Betapa bagaimana Eross berjuang mati-matian mengisi part-part Sakti dalam setiap lagu dalam album baru mereka. Ditambah dengan kehadiran Brian yang menambah maksimalisasi itu menjadi sebuah minimalisasi lagu sehingga beat-beat yang diciptakan mampu menjadi ramai meskipun hanya dikerjakan oleh empat orang saja. Adam yang dengan getolnya makin mengulik kemampuan membetot bass-nya sehingga mampu menambah keramaian dalm permainan gitar Eross. Tak perlu disebutkan olah vokal Duta yang makin terkesan matang dan kolosal.

Hal ini bukan karena kesombongan dan keangkuhan mereka untuk tidak menambah pemain gitar lagi dalam band mereka, tetapi lebih pada kesederhanaan Eross untuk menghormati kehadiran Sakti yang telah hampir sepuluh tahun bersama mereka. Dimanapun dan dalam kesempatan apapun, Eross selalu menyatakan bahwa berat untuk mengganti posisi Sakti dengan orang lain. Biarlah seolah-olah Sakti tetap ada dalam permainan Sheila on 7.

Dan, apapun itu dan apapun yang terjadi. Sheila on 7 akan tetap jalan terus, tetap berkarya hingga mereka merasa tak berguna lagi. Berjuang dengan karya-karya yang seolah-lah akan membatu dan tetap dikenang oleh setiap makhluk di persada nusantara ini, bahkan dunia. Berbekal moto sederhana dalam sikap kaya dalam karya, mereka akan tetap meramaikan kancah musik Indonesia di tengah cacian dan sikap masyarakat Indonesia yang makin tak mampu menghargai karya anak negeri. Mereka bertahan bukan untuk menunjukkan mereka ada, mereka ada karena rasa tanggung jawab mereka terhadap musik yang telah membesarkan nama mereka. Dan terus berharap, kelak Sheila on 7 kan jadi legenda.

Jalan terus, Sheila on 7.

Salam

Sheilagank

Advertisements

Individualitas

Saya bingung mau menceritakan seperti apa awalnya, saya khawatir bahwa tulisan ini tak bisa dimengerti dan orang hanya akan geleng-geleng (bingung) saja. Tapi saya coba untuk menuliskannya, ini hanya sekelumit cerita dari kehidupan di rumah kost kami. Semoga maksudnya sampai.

Let’s begin…

Jadi, ceritanya begini,…

Lama sekali kami hidup dalam kondisi ini (hampir setahun, sepanjang yang saya ingat). Kami sedikit sekali menunjukkan rasa kebersamaan dan saling menolong. Kebanyakan dari kami hanya akan membereskan rumah ketika jatah piketnya datang, jika tidak, maka bisa dipastikan piring kotor bertumpuk di dapur, gelas-gelas bergeletakan tak bernyawa, lap tangan berserakan, dan lantai berdebu. Akhirnya, siapa yang (masih) punya hati dan punya waktu saja yang merelakan dirinya untuk membereskannya meski bukan jatah piketnya. Sementara mereka yang terbiasa cuek, akan santai saja main game atau nonton pilem, sementara ada pekerjaan lain (berpahala) yang menunggu mereka.

Dan, wajar-wajar saja jika kalian melihat bahwa kami akan mengambil piring sendiri-sendiri ketika makan, bahkan mungkin mencucinya sendiri dari dapur karena sudah ada yang be-te sehingga tak ada satupun yang piket. Nyaris tak bisa dijumpai kejadian ada yang ngambilin piring untuk temannya ketika makan bareng, atau bahkan menyendokkan nasi ke piring agar lekas dingin.

Seperti hari ini, ketika saya dan salah seorang teman (dari kamar sebelah) janjian untuk bangun esok pagi, sahur untuk puasa 10 Muharram. Malam hari saya tidur dengan nyenyak hingga tersadar ketika teman saya itu menggedor pintu, dan jam sudah menunjukkan hampir waktu subuh. Dengan segera saya mencuci muka dan (coba tebak!)… saya juga harus mencuci piring dari dapur karena tak ada yang piket.

Agak menggerutu saya bawa piring itu ke ruang makan kami, dan ketika bersiap untuk menyendok nasi mata saya menangkap sebuah mangkok yang tergolek manis di dekat Rice cooker. Sembari menyendok nasi ke piring, saya mikir…ini piring mungkin sengaja dibawakan teman saya karena piring di dapur sudah habis. Tapi teman saya itu diam saja sambil tetap menonton TV. Acara sahur pun sendiri-sendiri…

Dan, nasib mangkok itu tetap tergolek nyaman di dekat rice cooker tanpa ada yang bersedia menjamahnya, mereka pikir mangkok itu kotor atau bekas digunakan orang lain. Padahal baru diambil dari dapur, bahkan mungkin teman saya itu yang mencucikannya untuk saya. Hmm…

DSC00008

Dari sini sudah terbukti bahwa sedikit sekali ada kebersamaan di antara kami. Bahkan orang akan akan terkejut ketika saya (misalnya) membawakan piring-piring untuk makan kami, atau menyendokkan nasi ke piring mereka. Coba dengar apa kata mereka,

“Sudahlah…tak usah repot-repot, biar kami ambil sendiri.”

atau,

“Aduh, kok baik banget sih!”

Maaf, teman. Saya tak mencari pujian atau apapun. Ikhlas kok. Lantaran di rumah sejak kecil dulu kami selalu diajarkan saling menghormati dan menolong antar anggota keluarga, misalnya membawakan air minum, mencucikan piring, atau membantu menyapu halaman.

Bukan maksud untuk menyalahkan, mungkin mereka sejak kecl sudah terbiasa dilayani maka ketika besar pun tetap menuntut untuk dilayani orang lain. Padahal setiap survei selalu mengatakan bahwa kebanyakan orang akan merasa sangat bahagia ketika me-…. daripada di-…

Lantas, apa dong yang bikin kita jadi begitu egois?

Dalam ilmu ESQ yang saya dapat, ada enam belenggu yang membuat kata hati (sifat baik) itu tidak muncul, salah satunya merasa gengsi (karena dia paling tua di kost) atau mungkin kebiasaan (dilayani tadi).

Miris menyaksikan bahwa moral kita makin hari makin terkikis. Orang tua tak lagi mengandalkan pendidikan keluarga sebagai pendidikan dasar dan membekali anak dengan sifat-sifat baik. Kebanyakan kita sekarang ini belajar dari TV yang sama sekali tak ada niali pendidikan (baik) nya. Sinetron, acara lawak, dan semua yang berbau hiburan. Sedikit sekali TV yang menayangkan acara pendidikan dan pengajaran. Sehingga apa yang ada di TV, itulah kita. Sama-sama sinting.

Ekspresi KesMM@holic

Inilah beberapa ekspresi KesMM@holic favorit saya. Kebanyakan foto ini diambil secara tidak sengaja ataupun tidak disadari oleh objeknya. Apapun itu, semoga bisa menjadi nostalgia hari-hari terhebat yang pernah kita lalui dalam kebersamaan…

Semoga bisa mejadi sebuah kisah klasik untuk masa depan.

Yang pertama, tentu saja mister atawa punggawa atawa pemegang tampuk pimpinan KesMMa, inilah pakmen kita. Bapak satu ini jika bicara sangat menderu debu (maksudnya penuh semangat), sehingga membuat lawan bicaranya akan terperangah (takut…) hehehehe

IMG_5381 - Copy copy

Continue reading

Belajar dari Padi

 padi

Ada sebatang padi. Berawal dari sebuah biji yang tumbuh di sekitar sebuah kolam yang basah. Semakin hari dia semakin tinggi. Namun, padi ini tak pernah berbunga ataupun berbuah menghasilkan bulir-bulir padi. Sehingga manusia pun enggan mendekatinya, bahkan burung-burung prenjak ogah singgah karena memang tak ada yang bisa dimanfaatkan dari sebatang padi itu. Batang padi itupun menua dan mati, kering dan meranggas. Kehidupannya di dunia pun tuntas dan digantikan oleh generasi setelahnya.

Bayangkan!

Bayangkan jika nyawa sebatang padi itu adalah nyawa anda. Bayangkan jika anda hanya hidup seumur padi. Dan dalam hidup anda, tak pernah sedikitpun menghasilkan atau menguntungkan bagi orang lain. Singkat kata, kita tak pernah bermanfaat sedikitpun bagi orang lain dan sekitar kita.

Lalu, kita menua dan mati begitu saja. Sungguh kehidupan yang tak bermakna.

Coba kembali bayangkan diri anda sebagai sebatang padi. Ya, bayangkan umur anda hanya tiga bulan di dunia ini. Sebagai sebatang padi, tentu kita akan terus tumbuh hingga berbuah dan berharap akan ada makhluk hidup yang memanfaatkan bulir-bulir padi yang kita hasilkan. Lalu kita akan dengan senang hati dipotong oleh petani dan diambil biji-biji padinya. Lalu menjadi beras dan nasi. Sebagai sebatang padi, kita tentu akan bangga dengan hal itu.

Lalu setelah itu anda di mana? Tentu anda sudah tak lagi ada di dunia. Ada sudah duduk manis di tempat anda pertama dulu diciptakan, di sisi Tuhan anda. Menikmati buah keikhlasan dan manfaat yang telah kita perbuat semasa menjadi sebatang padi di dunia.

Bayangkan betapa mubazirnya hidup jika kita hanya lahir, hidup, makan, minum, tidur, lalu menua dan mati. Lantas, tak ada sedikitpun bulir padi yang kita hasilkan. Sementara Tuhan hanya memberikan jatah hidup sekali di dunia ini. Kita tidak akan bisa reinkarnasi ataupun minta dilahirkan lagi di bumi untuk mengulang waktu yang terbuang sia-sia semasa hidup. Masa itu telah lewat, kita telah dipanggil untuk dipulangkan ke kampung akhirat, tempat pembalasan segala amal.

Lalu, apakah anda masih berpikir bahwa anda akan hidup setahun lagi? Atau sepuluh tahun lagi? Hingga anda menunda-nunda untuk berbuat baik dan bermanfaat bagi orang lain. Apakah ada satu makhluk pun yang bisa tahu berapa jatahnya di dunia ini? Tentu saja kita telah tahu jawabannya.

Dan, begitu tak bermakna hidup jika kita hanya lahir, hidup, tanpa berbuat sesuatu, lalu tiba-tiba mati. Dari sini kita telah bisa mengira-ngira apa yang akan anda katakan pada Tuhan. Anda akan memohon bahwa jika anda tahu umur anda begitu singkat anda akan berbuat baik sepanjang hidup dan akan bermanfaat bagi orang lain. Dan tentu saja anda akan minta pada Tuhan agar anda kembali dilahirkan ke dunia. Ooo, tidak bisa! Itu mungkin kata Tuhan pada anda.

Kesimpulan, jadilah sebatang padi yang bermanfaat, bulir-bulirnya bernas dan berisi, lalu orang-orang akan memanfaatkan untuk kelangsungan hidup mereka dan makhluk hidup yang lain. Jadi, hidup tak sekedar menungg dan menunggu karena waktu tak pernah menunggu, waktu terus berjalan dan kita hanya bisa menyadari bahwa kita sudah jauh tertinggal di belakang.

Kita tak pernah tahu sampai kapan kita akan bernafas, hingga hitungan nafas itu satu-satu mulai dalam hitungan mundur, 10-9-8-7-6-5-4-3-2…dan Tuhan menjemput kita. Kita tak pernah tahu. Bisa jadi saat membaca akhir tulisan ini, nafas anda mulai dalam hitungan mundur menuju 1 dan 0 (tiada).

Tak berlebihan kita belajar dari padi.

Kebahagiaan padi adalah ketika dimakan oleh manusia, karena hanya dengan cara seperti itu ia bisa berarti dan menjadi lebih baik (Percakapan di Warung Dewa, Putu Pande Setiawan)

Benda ‘enak’ itu bernama Mie

Tinggal sekitar hampir enam tahun di Kota Padang mungkin telah bisa melihat perbedaan-perbedaan dari yang ada di kampung halaman. Ada banyak hal-hal di Padang ini yang sempat membaut saya geleng-geleng karena heran.

Salah satu keanehan yang saya temui adalah ketika saya kesulitan menemukan ‘Sate Padang’ di Kota Padang ini. Padahal di daerah lain (di luar Sumbar) begitu mudah menemukan Sate Padang. Justru di sini malah banyak sate madura. Walah, ternyata Sate Padang tidak populer di kota asalnya. Yang ada misalnya ‘Sate Fauzan’, ‘Sate Ajo’, atau ‘Sate Paris’…(Hmm,,,ternyata ada orang Paris yang pandai bikin sate juga…)

Satu hal yang saya amati di Kota Padang ini, adalah

Continue reading