Behind The ‘Acacia’

The Shadow

Awalnya saya (agak) merahasiakan dan tak ingin membocorkan sebuah rahasia hati (cailah…) kepada sesiapapun. Tapi, berhubung sesuatu telah terjadi dan membuat penasaran, maka saya siapkan sebuah kapak untuk membelah dan mengetahui ada apa di belakang sebuah kata, Acacia.

Secara harfiah, Acacia atau Akasia adalah nama sebuah pohon yang tumbuh di daerah tropis, berbatang tinggi, dan berdaun rimbun. Pohon Akasia adalah tempat beragam serangga tinggal sehingga selalu ramai oleh sekawanan burung yang mencari makan.

Why Acacia?

Daerah tempat saya lahir adalah sebuah pedesaan yang terletak sekitar 17 Km dari sebuah pabrik kertas. Dulu, jalan-jalan di kampung saya sering dilintasi kendaraan-kendaraan logging, alat berat, dan beragam kendaraan besar lainnya. Di perbatasan desa adalah hutan tanaman industri dengan Acacia sebagai tanaman utamanya.

Di depan sekolah (yang mana rumah saya ada di depan sekolah itu) juga ada lima batang pohon Akasia yang sering kami buat sebagai arena bermain. Main tembak-tembakan, lomba panjat pohon, atau sekedar nangkring (bahasanya binatang banget…hihihi) mendinginkan badan menikmati sepoi angin di siang terik. Bahkan saking cintanya, ketika akhirnya pohon itu ditebang (untuk dijual), kami masih menjadikan onggokan rantingnya menjadi arena airsoft, tentu saja senjatanya tak semodern sekarang, hanya bambu kecil yang diisi kertas basah.

Dan, Akasia membawa sebuah pengembaraan hingga jauh. Masih terkenang hingga kini. Karena itulah, sesaat setelah lebaran saya membuat sebuah sajak. Sajak yang panjang beruntai-untai mulai dari pedalaman Jambi hingga ke kota Padang. Ya itu tadi, setiap kali pulang kampung, saya selalu melalui deretan panjang tanaman Akasia ini.

Lalu, saya merasa ini adalah sebuah puisi yang bernyawa dan sempat menghadirkan tanya, siapa saja inspirasi dalam menciptakan puisi ini karena di dalamnya disebut beberapa orang tokoh, seperti ibu, teman, dan kekasih. Saya menempatkan orang-orang tertentu dalam setiap tokoh dalam puisi itu dan tentu saja ada kisah di balik penokohan itu.

Inside the Tree

Berikut saya ulas sesiapa sajakah orang-orang di balik batang (ups,,salah) Akasia ini.

Pertama, Continue reading

Masyarakat daerah Kapalo Koto

Ada sebuah masjid di sekitar tempat tinggal masyarakat yang terletak di RT 02 Kel. Kapalo Koto, namanya Masjid Ahlussunah. Masjid inilah yang digunakan masyarakat setempat untuk shalat berjamaah.

Tapi, kondisinya sungguh mengenaskan. Oleh karena itu, alangkah baiknya kita sedikit tahu kebiasaan orang sini.

Masyarakat setempat jarang sekali ke masjid. Justru yang agak rajin adalah

Continue reading

Khutbah Jumat Kala Itu

Empat jenis manusia

Lagi-lagi, saya terkesima dengan khutbah jum’at kali ini. Singkat tetapi padat dan sedikit membuat kantuk. Hehe…

Kali ini, sang khotib membawakan sebuah perkataan yang dilontarkan oleh seorang sufi (actually…I was forget his name…) yaitu jenis-jenis manusia yang hidup di dunia. Beliau membaginya menjadi empat golongan.

Pertama adalah hayat bil hayat, yaitu manusia yang hidup dalam hidup. What does it mean? Manusia yang hidup dalam hidup adalah manusia yang menyadari betul untuk apa dia hidup. Dia akan cepat sadar dan bertaubat ketika menyadari telah berbuat dosa, cepat kembali ke jalan yang benar ketika tiba-tiba salah jalan dan tersesat. Manusia jenis ini bermanfaat bagi manusia yang lain semasa hidupnya. Orang akan senang berada di dekatnya dan akan merasa kehilangan ketika dia tiada.

Kedua adalah hayat bil maut, yaitu manusia yang hidup dalam kematian. Hmm, kira-kira siapa ya? Manusia jenis ini adalah dia yang dikenang ketika telah meninggal karena kebaikan atau buah dari pemikiran dan perbuatannya sehingga menjadi contoh bagi orang lain. Apa yang telah dia lakukan semasa hidup telah menjadi inspirasi banyak orang. Mereka yang telah meninggalkan dunia namun tetap dikenang sepanjang jaman.

Ketiga adalah maut bil hayat, yaitu manusia yang Apa pula ini? Manusia jenis ini adalah manusia yang masih hidup tapi tak tahu untuk apa dia hidup. Dia suka bertindak sekehendak hatinya, tanpa pernah menyadari kesalahan karena hatinya telah mati. Dia sama sekali tak bermanfaat bagi orang lain, bahkan orang mengutuk kehidupannya.

Keempat adalah maut bil maut, yaitu manusia yang mati dalam kematian. What are they? Ini adalah jenis manusia paling buruk, selain hidupnya yang telah mengganggu hidup orang lain, sampai mati pun orang tetap mengutuknya. Semasa hidup tak pernah sedikitpun bermanfaat bagi orang lain, bahkan ketika mati pun menyusahkan orang lain. Di alam kematian dia tak mendapat sedikitpun kebaikan, justru siksa yang menghampirinya.

Wallahu ‘alam