Mitos ke’wibawa’an masyarakat indonesia

Beberapa hal yang masih menjadi kebanggaan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Beberapa hal ini dianggap akan menjadi nilai plus yang akan menambah kewibawaan. Dan sebagian besar masyarakat Indonesia masih menerima hal itu. Sebuh mitos kepercayaan yang telah mengakar sejak lama, untuk mengubahnya tentu saja susah. Biarkan sajalah, asal tidak saling mengganggu saja karena itu hak masing-masing orang untuk punya kepercayaan.

Dan beberapa hal tersebut adalah sebagai berikut. Continue reading

Sheila Gank

Bagaimanapun, aku tetap sheilagank…!!!

Menjadi sheilagank menjadi penuh perjuangan dan pengorbanan. Hanya sekelumit kisah perjalanan bagaimana mengenal sebuah band bernama Sheila On 7, dan kenapa hingga saat ini pun aku tetap menyukainya di antara gempuran banyak band baru yang tentunya dengan warna musik masing-masing.

Continue reading

Gue [bukan] Sok Suci

Suatu ketika, saat bertemu kembali dengan teman-teman lama (masa-masa jahat dulu…hwe he he…) biasalah, ketika bertemu, kami akan saling merangkul satu sama lain (yg cowok) dan bersalaman (yg cewek), atau cipika-cipiki (sesama cewek) dan menghantam pundak (sesama cowok). Hi hi… ketahuan ya, siapa sebenarnya pelaku KDRT…ha ha ha alias Keceriaan Di masa Remaja Tanggung…

Kini, lima tahun telah berlalu. Dan kami masing-masing pun telah melayang kemana-mana. Lalu, seorang teman cewek, sebut saja namanya bunga (walah, mirip objek penderita di berita koran-koran kriminal ya… maaf ya, sob. Bukan maksud hati…), menyodorkan tangannya untuk menyalamiku. Dengan kecepatan sedang dan spontan, aku tangkupkan tangan ke depan dada bermaksud menghindari berjabatan dengannya. Namun, karena malu mungkin dia lantas sewot dan berkata pelan, “Halah, sok suci kamu.” Aku hanya tersenyum.

Suatu kali di malam bulan purnama setengah (halah…) aku menyempatkan berbincang dengan bunga mengenai kejadian tadi siang. Dia melontarkan sebuah tuduhan pencemaran nama baik (lho…). dia bilang aku terlalu sok suci hingga tak mau lagi menyalami mereka. Aku dianggap menganggap rendah mereka sehingga tak pantas untuk menyalaminya. Dengan bijak (ceileh..) aku jawab, “Bunga, mungkin dulu kita terbiasa untuk itu. Namun kini baru kusadari bahwa bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan muhrim itu tidak boleh. Hal ini dimaksudkan untuk menghormati kesucian kedua belah pihak, baik aku atau kamu dalam kasus ini. Islam sangat menjaga masalah kesucian, makanya ajaran Thaharah ditempatkan dalam urutan pertama. Bukan hanya kesucian fisik saja yang perlu kita jaga, namun juga kesucian hubungan antara pria dan laki-laki…eh, maksudnya laki-laki dan perempuan.”

Lalu aku lanjutkan, “Kalau aku nggak menjabat tanganmu itu bukan bermaksud merendahkanmu, sama sekali nggak. Aku hanya ingin menghormatimu sebagai seorang perempuan suci. Yang memiliki hak yang sama untuk tidak disentuh laki-laki manapun kecuali mahramnya. Justru aku akan malu jika mengenang masa lalu, sudah begitu sering kita bersentuhan bukan?”

Dan, “Sekarang, jangan kamu merasa telah rendah dan tidak suci lagi. Kita selagi hidup, masih ada tombol taubat yang bisa kita pakai kapan saja untuk mensucikan kembali hati kita.”
Setelah percakapan ini, entah apa yang terjadi dengannya lagi. Kabar terakhir hanyalah dia sedang mencoba-coba pakai jilbab. Alhamdulillah…

Maukah rekaman hidupmu ditonton orang lain?

Menarik. Sebuah khutbah jum’at pada minggu lalu. Sebenarnya mata tlah diserang kantuk saat detik-detik pertama khatib menaiki mimbar. Namun, seruan adzan itu mengembalikan kesadaran yang sempat direnggut syaithan. Menempatkankanku kembali di saf kelima barisan makmum. Pada preambule khutbah terasa membosankan karena si khatib mengutip percakapan anggodo yang berhasil di sadap oleh Mahkamah Agung. Namun, saat kisah itu selesai, jantungku menangkap sesuatu yang maha dahsyat kala khatib menguraikan isi khutbah dengan gamblang.

Semenjak kasus Anggodo menggema, lalu dikeluarkanlah UU ITE oleh Menkominfo yang mengatur penyadapan internal KPK oleh Mahkamah Agung. Rekaman percakapan anggodo yang diperdengarkan di MA waktu itu membuat ketar-ketir pihak-pihak yang telah bersekongkol untuk memyokong Anggodo. Bagaimana jika kejahatan mereka diendus Pihak berwajib karena nama-nama mereka secara jelas disebut dalam percakapan itu.

“Kita takut jika segala tingkah laku kita akan terekam oleh orang lain, dan kemudian diperdengarkan di depan khalayak ramai. Jangan-jangan rekaman kejahatan kita ikut ditampilkan. Padahal sesungguhnya sepanjang hidup kita telah disadap oleh Yang Maha Kuasa. Rekaman kehidupan kita senantiasa dipantau oleh Allah.”

Semakin menarik, berhasil meremangkan rambut tipis di sekujur tangan dan tengkuk. Saat khatib berkata,“Allah menyadap segenap sendi kehidupan kita melalui malaikat. Selain itu, di tubuh kita juga terdapat alat penyadap yang akan mencatat semua yang kita lakukan mulai kita baligh hingga mati nanti. Alat itu adalah kedua tangan dan kaki. Bagaimana tangan dan kaki bisa merekam?”

“Ilustrasi sederhana, jika kita pernah belajar naik sepeda sedari kecil, lalu untuk beberapa lama tidak menyentuh sepeda sama sekali, dan kita suatu saat diminta untuk naik sepeda, maka dengan mudah kita akan melakukannya. Karena tangan dan kaki kita sudah merekam proses naik sepeda. Berbeda sekali dengan orang yang tak pernah belajar sepeda sekalipun. Bahkan tangan dan kaki pun juga sudah mampu mengungkap catatan kehidupan kita di dunia. Begitu mudahnya pihak berwajib melacak penjahat, atau pelaku kejahatan lainnya hanya dengan membaca sidik jari. Sungguh sebuah bukti bagi manusia yang mau berpikir.”

Lalu bagaimana dengan keadaan setelah mati nanti? Apa yang terjadi dengan rekaman kita di dunia itu?

“Dalam sidang luar biasa Mahkamah Akhirat nanti, malaikat akan menyusun BAP kita. Sejumlah tuntutan dan dakwaan akan dilayangkan. Mulut kita (yang senantiasa berdusta ini) akan dikunci, lalu berkatalah tangan dan kaki kita. Dan rekaman hidup kita itu akan diputar di Mahkamah Agung Akhirat, ditonton oleh milyaran bahkan trilyunan manusia di aula mahsyar. Bayangkan, padahal sudah berapa kali maksiat yang kita rasa takkan diketahui siapapun akhirnya dinampakkan di muka umum. Malu? Seberapa malu saat engkau melakukannya? Kemana malumu? Maluku ada di Indonesia Timur.”

Air mata tergenang di pelupuk mata, tapi malu sama jamaah sebelah. Hampir saja mencair.

“Namun, bagi manusia yang mau berpikir dan senantiasa memperbaiki diri. Insan yang tak ingin rekaman kejahatannya dinampakkan oleh Allah, disediakan sebuah tombol Del bernama ‘taubat’. Tombol ini berfungsi untuk mengedit, bahkan menghapus catatan kejahatan yang kita lakukan selama hidup di dunia. Sehingga hanya catatan kebaikanlah yang ditampilkan.”

Untuk menghindari dari perbuatan dosa yang selalu kita lakukan dengan sembunyi-sembunyi, jadilah seolah-olah diri anda ini adalah artis atau selebriti yang senantiasa dikuntit kehidupannya oleh pekerja infotainment. Kita akan takut setengah mati jika saja ada satu keburukan kita yang berhasil didapat oleh infotainment tadi, maka habislah riwayatnya. Bahkan sampai takut harga dirinya akan jatuh dan pamornya hancur berantakan. jadi dengan begitu, niat-nat maksiat perlahan-lahan akan bisa dikuasai. InsyaAllah

Maukah kau mendapat pelukan dari Rasul saw?

Suatu ketika, saya iseng menggoda salah seorang teman kost. Dia bisa dikatakan lebih alim dari kami bersembilan. Dia yang paling sering jamaah di masjid saat ada di rumah). Dia juga memiliki pengetahuan seputar agama yang lebih luas daripada saya. Saya sendiri menganggap dia sebagai seorang yang alim dan sholeh.

Saat itu, dia baru saja pulang dari bepergian ke rumah saudaranya di wisma lain. Saat itu saya sedang menonton televisi sambil duduk, dan dia sendiri berdiri tak jauh dari tempat saya duduk. dengan kecepatan penuh, saya terkam betisnya dengan tangan saya sambil berteriak ala harimau sumatra… (aummm…begitu kira-kira…). Lantas dia terkejut lalu dengan serta merta merangkul saya dari belakang seolah hendak mencekik leher saya.

Saat itu, saya baru merasakan bagaimana mendapat pelukan dari orang yang sholeh, nyaman sekali. tubuhnya terasa sejuk di punggung saya. TApi ini belum seberapa, mengutip sebuah cerita tentang sahabat nabi yang sangat beruntung. ini dia:

Rasulullah mengumpulkan para sahabatnya. Mereka berkumpul mengelilingi beliau.

Rasul berkata : “Wahai para shahabat hari ini, aku tawarkan kepada kalian. Barangsiapa di antara kalian pernah aku sakiti. Maka sekaranglah saatnya kalian mengqishash diriku (Membalasnya ) ”

Para sahabat hening, tak ada satupun yang mampu bersuara…….

Rasul mengulangi lagi perkataannya ” Wahai shahabat, kalau kalian pernah merasa aku sakiti silahkan saatnya kalian membalasnya ”

Para sahabat makin tertunduk…menangislah mereka…mereka merasa sebentar lagi masa-masa indah bersama Rasul tercinta akan berakhir….

Untuk ketiga kalinya Rasulullah berkata ” Silahkan siapa yang mau mengqishas diriku……

Tiba-tiba muncullah Ukasah Ra.

” Saya ya Rasul…saya akan mengqishas Anda ya Rasulullah…”

Umar langsung mencabut pedangnya sambil berkata ” Apa yang akan kamu lakukan wahai Ukasah.pedang Umar yang akan menebas kepalamu kalau engkau berani menyakiti Rosulullah ”

Baginda yang agung tersenyum ” Biarkan Ukasah ya Umar…. ”

Abu Bakar pun maju.sambil berkata ” Wahai Ukasah, Abu Bakar dan keluarganya yang akan menebusnya ya Ukasyah ”

Rasul pun melarang Abu Bakar membelanya.

Kemudian Ukasah berkata : ” Pada saat aku mengiringi engkau berperang cambukmu pernah mengenai punggungku ya Rasul..untuk itu kali ini aku ingin mencambukmu ya rasul….”

Para sahabat terdiam menahan amarah……………..

akan tetapi rasul dengan tersenyum mempersilahkan Ukasyah mencambuknya. Tidak cukup sampai di situ…Ukasah berkata : “Ya rasul pada waktu cambukmu mengenai punggungku. Pada saat itu langsung mengenai kulit punggungku, karena tidak tertutup kain punggungku pada waktu itu. Untuk itu aku ingin punggungmu dibuka juga ya Rasulullah ”

Para sahabat makin geram dengan permintaan Ukasyah. Rasul dengan tetap tersenyum sambil membuka kain yang dikenakannyaPada saat punggung baginda tercinta terbuka.

Maka seketika itu juga Ukasyah menubruk punggung Rasulullah, kemudian memeluk dan mencium punggung yang kemilau itu. Sambil menangis sesenggukan Ukasyah berkata ” Wahai Rasul Allah….maafkan aku…..aku hanya ingin memeluk dan mencium tubuhmu untuk yang terakhir kali…dan Aku ingin tetap bersama-sama Engkau Ya Rasul sampai di akhirat kelak.

Dan rasul pun berkata ” Doamu Insya Allah dikabulkan Allah wahai Ukasyah.
(di sini)

Nah, dipeluk orang yang sholeh saja demikian bahagianya… Bagaimana jika kita mmendapat pelukan dari Baginda Rasul kita? Tentu rasanya dunia ini tak ada artinya. Ingin selalu bersama beliau.

Kita juga telah pernah tahu bahwa nabi sangat mengistimewakan kita. Beliau menyebut kita sebagai ‘saudara’ yang tentu sangat membuat iri para sahabat. Bagaimana mungkin orang yang tak pernah bersama atau sekedar bertemu dengan beliau bisa disebut saudara? Sementara mereka yang mati-matian bersama Rasul berjuang hanya sebagai sahabat. Namun ini hanya sebuah pesan bagaimana seorang Rasul Allha sangat menantikan pertemuan dengan kita, LAntas apa yang tekah kita persiapkan untuk bertemu beliau. jangan-jangan beliau tidak mengenali kita saat di padang mahsyar nanti? bagaimana jika kita tak bisa merasakan air mata KAutsar yang menyejukkan itu?

Curahkan rindumu hanya pada saudaramu yang telah menantimu di syurga. Jangan biarkan rindu-rindu ini dirusak oleh kerinduan semu. NAbi Muhammad adalah penolong kita, pelindung kita, pembukajalan kebenaran dalam hati kita.

Mari sejenak bershalawat pada beliau… (30 detik saja)

wassalam

Ternyata bacaan tahiyat awal dan tahiyat akhir itu sama saja


Dalam shalat lima kali sehari, kita mendapati ada empat waktu shalat yang memiliki gerakan duduk tahiyat awal, yaitu shalat dzuhur, ashar, isya, dan maghrib. Selama bertahun-tahun saya mempelajari, mulai dari jaman-jaman TPA dulu mengaji setiap malam hari di mushala hingga sekarang telah dihitung sebagai orang dewasa dan sempat ikut liqo’ pula, pemahaman saya beranggapan bahwa bacaan antara duduk tahiyat awal dan akhir itu berbeda, yaitu terletak pada bacaan shalawatnya.

Namun, dalam percakapan kemarin sore bersama seorang teman, saya baru tahu bahwa bacaan kedua tahiyat itu sama saja, hanya berbeda pada cara duduknya. Padahal sudah sejak 2005 saya punya buku shalat seperi rasulullah, tapi ternyata ada yang luput dari perhatian saya.

Pertama adalah posisi duduknya, seperti kita ketahui duduk tahiyat awal adalah duduk dia tas telapak kaki kiri yang dibeberkan dan telapak kaki kanan ditegakkan, jari-jari kaki kanan menghadap ke depan. Sebagian ulama beranggapan bahwa duduk tahiyat awal itu hanya untuk memudahkan saja karena setelah selesai membaca doa tahiyat kita akan bangun lagi untuk melanjutkan rakaat selanjutnya. Sedangkan pada posisi duduk tahiyat akhir, kita duduk di atas lantai atau tanah dan menyilankan telapak kaki kiri ke bawah tulang kering kaki kanan karena setelah ini kita tidak akan bangun lagi untuk rakaat selanjutnya, ini sudah penghabisan shalat. Hal ini yang membedakan posisi duduk tahiyat awal dan tahiyat akhir dalam shalat.

Kedua adalah bacaanya, ternyata bacaan yang kita baca sewaktu duduk tahiyat awal dan akhir itu sama saja. Seperti kebiasaan kita, membaca tasyahud pada tahiyat awal hanyalah sampai “…allahumma shalli ‘ala Muhammad…” saja. Lalu pada tahiyat akhir tasyahud kita lanjutkan dengan shalawat lengkap hingga …”fil ‘alamiina innaka hamidum majid.” Namun menurut buku Shalat Seperti Rasulullah, bacaan pada kedua macam duduk ini sama saja, yaitu membaca tasyahud dan melanjutkannya dengan shalawat lengkap.
Berikut dalil yang mendasari,

Dari Ibnu ‘Abbas, katanya: “Adalah Rasulullah s.a.w. telah mengajarkan kepada kami bacaan tasyahhud seperti ketika beliau mengajari kami surah Al-Qur’an. Beliau membaca attahiyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyibaatu lillah, assalaamu’alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh, assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibadillahish shaalihiin, asyhadu al laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammmadar rasuulullaah.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

Basyir bin Sa’ad berkata: “Allah telah memerintahkan kepada kami untuk bershalawat kepada engkau. Bagaimana kami harus mengucapkannya jika kami bershalawat dalam shalat?” Rasulullah saw menjawab: “Katakanlah allaahumma shalli ‘alaa muhammadiw wa ‘alaa aali muhammad, kamaa shalaita ‘alaa aali ibrahim, wabarik ‘alaa muhammadiw wa ‘alaa aali muhammad, kamaa baarakta ‘aala aali ibrahiima fil ‘alamiin, innaka hamiidum majiid.” (HR. Ahmad)

Adapun waktu mengucapkan shalawat sesudah tasyahud dijelaskan oleh hadits berikut,

“Apabila seseorang dari kamu telah membaca tasyahhud dalam shalat, bacalah allahumma shalli ‘alaa muhammad…” (HR Hakim, hadits lemah)

Meskipun hadits ini lemah, kita hanya menggunakannya untuk menentukan kapan kita bershalawat dalam shalat.
Demikian kajian pembenaran atas kesalahan yang saya (dan mungkin anda yang baca ini) lakukan. Mudah-mudahan Allah memberikan ampunan atas kesalahan yang kita lakukan yang tidak kita ketahui sebelumnya bagaimana amalan tersebut seharusnya dilakukan.

Referensi:
Tata Cara Shalat Rasulullah saw. Drs. Muhammad Thalib. Irsyad Baitus Salam : Bandung, 2000

Apakah perlu pacaran…?

Apakah perlu pacaran…?

Perlu nggak ya? Rasanya kamu terlalu terburu-buru untuk menjawabnya. Coba tanya hatimu lebih dalam lagi, sekali lagi, lebih dalam lagi… dan dalam hitunga ketiga… JAWAB…! Masih butuh pacaran…?

1. “Rasanya masih deh kak, aku kan perlu curahan kasih sayang.” Sahut seorang perempuan lucu berponi.
2. “Aku juga setuju, aku juga perlu mencurahkan rasa cintaku pada orang lain.” Laki-laki ini pun tak mau kalah.
3. “Aku juga, Kak.”
4. “Aku juga…”
5. Dan juga-juga yang lainnya.

Hmm… sepertinya semua responden menjawab iya.

Baiklah kita mulai perjalanannya.

Pernahkah kamu mencoba mengkalkulasikan berapa biaya yang harus kamu kembalikan pada ibumu mulai dari mengandungmu hingga sekarang? Ayo, coba hitung! Tapi, pernahkan ibumu meminta itu semua?

Kemudian

Continue reading