new year… new hope

December 28,
Tahun baru…
Sebagian orang menyambutnya dengan gegap gempita. Bermacam-macam perayaan dilakukan, mulai dari kembang api aneka bentuk dan ukuran, hingga parade yang tentu tak menghabiskan biaya yang sedikit. Ada sebagian lagi yang memaknai sebagai sebuah pencarian jati diri. Menyelami kembali yang sudah terjadi dan menaksir apa yang akan terjadi.
Tahun baru 2009, entah secara kebetulan atau memang sudah waktunya berpapasan, nyaris bersamaan dengan tahun baru hijriyah milik umat islam. Ini tentu akan menjadi sebuah fenomena dimana tahun baru umat islam itu sendiri akan lebih sepi, bahkan memang sepi dibandingkan perayaan tahun baru masehi yang notabene itu adalah produknya orang sebelum islam. Parahnya, umat islam sendiri merasa bahwa momentum tahun baru islam ini memang tak ada nilainya sama sekali. Mereka menanti-nanti dan mempersiapkan segala rencana untuk menghabiskan waktu menanti detik-detik pergantian tahun masehi dengan matang. Sedangkan untuk perayaan tahun baru islam mungkin hanya milik pengurus masjid yang tentunya punya planing untuk PHBI, akan ada sedikit perayaan di masjid-masjid, atau hanya milik segelintir umat islam yang benar-benar merasa bahwa tahun baru hijriah ini tak main-main. Mereka kembali mempersiapkan diri bermunajat menyerahkan segala urusan satu tahun ke depan kepada penciptanya.
Beberapa tempat hiburan tentunya juga sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut tahun baru 2009. Contoh kecil, di kota Bukittinggi yang sangat terkenal dengan jam gadang-nya itu. Hampir setiap tahun akan ada perayaan pesta kembang api yang aakn muncrat dari bawah jam gadang sehingga benar-benar meriah. Tapi apalah yang mereka lakukan di sana. Ini hanya sebagian, mereka saling membawa pasangan mereka yang kebanyakan belum muhrim, berdua dengan sepeda motor, atau berkelompok pergi dengan mobil menuju pusat keramaian itu. Setiba di sana mereka duduk, sedikit memberi rizki kepada penjaja makanan di sana, bercengkarama, bercanda, menanti saat-saat pergantian tahun. Setelah dekat, mereka menghitung dalam-dalam detik demi detik menuju tahun baru…hingga setelah terdengar teriakan “nol” suasana akan sangat riuh antara decak kagum orang-orang yang menyaksikan pesta kembang api dan iring-iringan musik yang hingar bingar. Mungkin mereka akan sampai rumah dini hari atau ada juga yang pagi hari. Sesampai di rumah hanya letih dan langsung istirahat. Esok pagiya, tak ada kesan yang membekas hanya selain sentuhan tangan sang pacar, cahaya kembang api, atau hingar bingar suara iringan musiknya. Hampir merasa seperti tak punya dosa saja pagi itu.
Kalau begitu bagaimana dengan kota-kota besar lainnya? Tentu sangat megah lagi. Berbagai konser musik akan digelar yang tentunya mendatangkan artis-artis terkenal yang mampu menarik massa yang banyak dengan iming-iming yang sama, sebuah pesta kembang api yang megah dan ribuan suara terompet. Di televisi hanya akan dihiasi acara party, nyaris tak kan ada ditemui acara tahun baru adalah acara introspeksi diri.
Dan bagaimana pula nasib tahun baru hijriah yang jatuh tiga hari sebelum tahun baru masehi? Saya tak mampu membayangkannya. Mungkin akan menjadi sebuah perayaan kecil yang bermakna di hati uamt islam yang tafakur, mulai dari senja saat hari berganti hingga larut malam ia bermunajat kepada Allah. Berbagai doa dipanjatkan dengan harapan tahun baru akan menjadi tahun terbaik dalam hidup. Wajah-wajah yang berlinang air mata mengenang begitu banyak dosa yang dilakukan selama satu tahun yang lalu dan membayang dosa apa lagi yang akan ia perbuat tahun depan.
Fenomena antara masehi dan hijriah ini memang lazim terjadi mungkin untuk saat ini. Seingat saya, umat islam hanya akan bergegap gempita saat menyambut hari raya idul fitri. Ramadhan datang hanya seperti orang tak dikenal, apalagi perayaan-perayaan kecil yang kadang tak mengundang simpati umat islam umumnya, hanya sebagai rutinitas milik kelompok-kelompok pengajian masjid atau risma yang hatinya tergerak dengan momentum itu.
Perang pola pikir mungkin sudah mencapai puncak kemenangan dimana hampir semua umat muslim dapat diperdaya dan dilenakan dari tugas seharusnya sebagai seorang muslim. Mulai dari gaya berpakaian, sikap, hingga konsumsi mereka sudah bergaya barat. Seolah budaya timur itu ketinggalan jaman dan sudah kalah mode.
Entahlah dosa apa lagi yang akan terjadi tahun depan. Mudah-mudahan umat islam mampu memaknai dua tahun baru ini sebagai sebuah introspeksi diri dan evaluasi diri, sehingga mampu menyusun sebuah rencana yang matang untuk satu tahun ke depan.
SELAMAT TAHUN BARU HIJRIAH DAN TAHUN BARU 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s