3 idiots (Percakapan tiga orang buta sepak bola)

Suatu hari di siang yang cerah, di sebuah rumah kos yang sedikit hangat dan berasap di antara pemukiman penduduk lokal, tiga orang anak manusia duduk manis di depan sebuah televisi warna 14 merk S***. Tiga orang itu adalah para pemuda yang memiliki pengetahuan tentang sepak bola sangat minim, bahkan satu diantaranya tak tahu darimana asal klub Persib Bandung. 😀
Kala itu sedang ada pertandingan persahabatan antara juara ISL 2010, Arema Indonesia, dan Indonesia All Star (yang berisi pemain-pemain pilihan pemirsa), yang merupakan pertandingan penutup perhelatan akbar Indonesia Super League. Sembari menonton pertandingan yang asyik itu, terjadi sebuah percakapan…
Pemuda 1 : Eh, ada bola. Siapa yang main nih?
Pemuda 3 : Arema sama Indonesia All Star.
Pemuda 1 : Weis, keren nih. Siapa aja yang main?
Pemuda 3 : Kalo All Star pemaninya bintang-bintang aja. Seru nih, fair play banget. Coba aja pas pertandingan biasa bisa kayak gini, aku bisa nonton terus ISL.
Pemuda 2 : Ha, siapa kiper all star tuh…?
Pemuda 3 : M. Haris
Pemuda 2 : Eh, kok mirip sama Markus ya….
Pemuda 1 : Itu emang Markus, tapi kok Haris, ya bukannya Horison…
Pemuda 3 : Kan nama aslinya M. Haris Nasution (nyambungin aja…)
Pemuda 1 : Hah, bukannya Markus itu kiper Arema ya…
Pemuda 2 : Iya, kok malah nggak membela timnya..
Pemuda 1 : Mungkin karna itu ya dia pake nama M. Haris
Pemuda 2 : Bisa jadi…
Pemuda 1,3 : (angguk-angguk)
Pemuda 2 : Dimana main nih? Istora ya…?
Pemuda 3 : Kayaknya di kandang Arema deh, soalnya Istora nggak kayak gitu bentuknya (macam udah pernah-pernah aja…)
Pemuda 1 : Wuih, penuh. Rame banget. Kalau Istora berapa kapasitasnya? 15.000 ya…?
Pemuda 2 : (terdiam…)
Pemuda 3 : (mikir lagi…) ya, ya… muat 15.000
Semua setuju.
Pemuda 1 : Eh, bukannya sekarang Markus main di persib ya…
Pemuda 2 : (bengong)
Pemuda 3 : Eh, iya. Padahal baru kemarin bikin postingan blog tentang Markus… Dulunya emang main di Arema (sambil tersapu-sapu malu…)
Pemuda 2 : (telat) ha ha ha

Advertisements

Puisi Terindah

Ingin kurangkai puisi terindah
Dari debu-debu bumi Palestina
Dengan darah-darah syuhada yang wangi
Di atas kafan-kafan putih pembungkus jasad pejuang

Ingin kurangkai puisi terindah
Sebagai hadiah kepada tentara Israel
Terima kasih atas peluru dan mortir yang kau lemparkan
Bumiku penuh dengan manusia-manusia penghuni syurga

Ingin kurangkai puisi terindah
Yang lahir dari rahim perempuan-perempuan tegar Palestina
Yang senantiasa senandungkan tasbih dan takbir
Sebagai bingkisan yang gentarkan nyali pecundang Israel

Ingin kurangkai puisi terindah
Di tembok ratapan, tempat mengadu bani izrail
Agar mereka tahu disitu nabi kami pernah singgah
Untuk bertolak ke langit tujuh menjemput wahyu

Ingin kurangkai puisi terindah
Di kamp-kamp pengungsian
Di antara tangis anak-anak yang kelaparan
Di antara teriakan takbir dan tasbih yang senantiasa disenandungkan perempuan-perempuan sejati Palestina

Ingin kurangkai puisi terindah
Di antara kepulan gas air mata, desingan peluru, dan rudal-rudal yang menghantam rumah-rumah kami
Mencerai-beraikan tubuh orang tua kami
Melukai adik-adik kami

Ingin kurangkai puisi terindah
Sebagai persembahan tarakhirku
Sebelum aku…menutup mata

Retno Adjie
[Padang, 03 Nopember 2009]
Dimuat dalam antologi Tribute to Palestine (segera terbit)