Creating an “Unrespecting Generation”

Foto0590Kini, hampir di segala penjuru kampus sudah ‘ditempeli’ sebuah boks yang berisi perangkat wifi. Perangkat ini hampir bisa dipastikan hidup 24 jam. Semua bebas mengakses internet, sepuasnya. Pagi, siang, malam.

Dampak positifnya mungkin bagus, mahasiswa jadi melek internet. Semua jadi melek gadget. Ke mana-mana menenteng netbook, ipad, smartphone. Semua senang. Yang menjerit adalah para orang tua yang setidaknya harus merogoh kocek lebih dalam agar anaknya ‘melek’ dan tidak dikatain ‘katro’. 😀

Ada satu hal yang saya perhatikan dari sini, berkaitan dengan perilaku mahasiswa terhadap perubahan gaya hidup seperti ini. Salah satu hal yang mendapat dampak paling serius adalah budaya diskusi.

Continue reading

Advertisements

Khutbah Mitigasi Bencana

IMG_0004aBeberapa waktu yang lalu, Gubernur Sumatera Barat mengeluarkan surat edaran yang mengimbau warga Kota Padang agar waspada akan ancaman gempa dan tsunami. Tak tanggung-tanggung, permintaan waspada ini berlangsung hingga sebulan ke depan, tepatnya sampai tanggal 30 Juni 2012.

Ini artinya (seperti kebiasaan warga pasca G30S) mereka akan hidup di bawah ancaman yang tertanam dalam pikiran mereka. Sebenarnya ini lebih parah dari sekadar ancaman, tapi pembunuhan berencana. Saya teringat tentang cerita tentang seekor tikus yang akan membunuh si raja hutan.

Cerita itu sudah agak lampau, tapi masih cukup membekas dalam pikiran saya. Tikus itu tidak melatih pasukan khusus atau mempersiapkan diri dengan berlatih sekeras-kerasnya. Dia hanya mendatangi si raja hutan dan bilang, “Dua minggu lagi aku akan membunuhmu.” Itu saja.

Continue reading

Dasar, Pendidikan!

DSC06578 Namanya pendidikan dasar, yang selanjutnya dalam aturan pendidikan Indonesia disebut sekolah dasar. Yang namanya sekolah dasar tentu saja menanamkan pendidikan dasar bagi seseorang – siswa tentunya, seperti moral, agama, tingkah laku, nilai dan norma dalam masyarakat.

Saya tak tahu kapan tepatnya ketika sistem itu kemudian berubah. Sekolah dasar tidak lagi menekankan pada pendidikan dasar, tetapi lebih pada pengajaran. Siswa terdidik dianggap tidak pintar. Hal ini dimulai dari dihapuskannya pendidikan pancasila, sedikitnya mata pelajaran agama, dan sedikitnya waktu bersosialisasi buat para siswa.

Suatu waktu saya pernah terkejut bukan main ketika adik saya – yang kala itu kelas V SD menyodorkan sebuah pertanyaan sekelas SMP. Katanya, itu soal sains. Alamak, sudah berubah pula nama mata pelajarannya! Lantas saya pun semakin penasaran dan mencoba menelusuri bagaimana sistem mata pelajaran sekolah dasar dengan bertanya pada guru di SD dekat rumah saya.

Continue reading

Adzan Itu Apa Sih?

adzanSudah saatnya kita mengubah pamahaman masyarakat tentang adzan. Selama ini kita mengenal adzan sebagai penanda waktu shalat, padahal sesungguhnya fungsi adzan adalah untuk mengajak orang-orang shalat berjamaah.

Menilik sejarah munculnya adzan, Nabi Saw setelah mendirikan masjid di Madinah, beliau berdiskusi dengan para sahabat membahas bagaimana cara untuk memanggil orang-orang agar shalat berjamaah di masjid. Ada yang mengusulkan memakai lonceng seperti di gereja-gereja, ada yang mengusulkan pula memakai tabuhan-tabuhan atau nyanyian.

Akhirnya terpilihlah adzan sebagai alat untuk memanggil orang-orang untuk shalat berjamaah. Seruan itu merupakan seruan yang mengajak kita kepada kemenangan. Kemenangan seperti apa? setidaknya kemenangan melawan kemalasan, melawan emosi, melawan ego, sehingga hatinya tergerak ketika mendengar adzan.

Dan terpilihlah Bilal sebagai orang yang pertama kali mengumandangkan adzan. Karena itu, masih ada di sebagian masyarakat kita yang salah mengartikan istilah ‘bilal’ adalah jabatan untuk petugas adzan ketika shalat Jumat ataupun shalat hari raya. Padahal ‘bilal’ bukanlah nama sebuah jabatan, tapi nama seorang sahabat Nabi.

Lalu, apa dampaknya jika masyarakan masih memahami adzan sebagai penanda masuk waktu shalat?

Continue reading

Simfoni Bernada Pasi

Kepalaku berdenyut, nadanya A-A-A-A-A.

Sekali waktu denyutnya berubah, menjadi C-C-C

Tak berapa lama kembali ke A-A-A-A-A

Sekian detik kemudian berubah C-C-C

Setelah beberapa kali berdenyut, aku menjumpai sang dirigen. Ternyata dia yang menyusun tangga nada itu, berawal dari C, berakhir pada A.

Kepalaku berdenyut lagi, nadanya A-A-A-A-A

Sekali waktu denyutnya berganti, menjadi C-C-C

Tak berapa lama berulang lagi A-A-A-A-A

Sekian detik kemudian berganti C-C-C

Kulihat sang dirigen masih mengayunkan tongkatnya. Dia terpejam, tapi tangannya bergerak sesuka hati, berawal dari C, berakhir pada A.

Kepalaku berdenyut lagi. Biola dan cello saling bergesekan. Seruling dan terompet saling bertiupan. Simbal, stik, dan drum saling bertumbukan.

Simfoni ini terus saja berkumandang, kadang melengking, kadang menukik, kadang menyusup, kadang meruap.

Panggung masih bergema. Sang dirigen masih mengayunkan tongkat. Sihir pun datang.

Kepalaku terus saja berdenyut, dari A-A-A-A-A ke C-C-C.

Kepalaku terus saja berdenyut, baru kusadari syair lagu itu ternyata AKU CEMBURU.

Ah, betapa diriku sangat tidak mengerti apa yang diayunkan sang dirigen. Terlambat, mungkin saja. Tapi simfoni belum usai. Aku tak perlu berbicara dengan sang dirigen. Aku telah mengerti. Aku telah paham. Dan kepalaku berhenti berdenyut lagi.