suatu hari, ketika…

Januari 9, 2009
Aku bingung atas apa yang akan aku lakukan. Sudah sekian hari aku berada dalam keadaan seperti ini. Aku rindu sekali berjalan. Aku rindu bekerja. Aku rindu melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain melalui tangan dan kakiku. Aku belum mampu melakukan hal itu. Berjalan saja susah, belum lagi aku harus mengandalkan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhanku. Untung saja untuk urusan tertentu aku masih bisa memenuhinya sendiri.
Aku ingin menata kamarku, menyapunya hingga bersih, mengepel lantainya hingga wanginya tercium sampai sore nanti. Langit-langit dan dindingnya bersih dari sarang sang spider. Jendelanya bebas dari debu dan daun jendela dapat dengan mudah terbuka mengatur jumlah udara dan cahaya yang masuk ke dalam. Setelah semua selesai, aku akan merapikannya lagi, meletakkan barang-barang itu ke tempatnya semula, atau aku akan menyusunnya dengan posisi lain yang manis. Menata tumpukan-tumpukan barang menjadi sebuah pemandangan yang manis. Lalu aku akan menata letak tempat tidur, memasang spreinya dengan yang baru dan wangi, mengganti sarung bantal dan guling, serta merapikan selimut. Menggantungkan sarung dan sajadah yang biasa kupakai untuk shalat. Meletakkan meja kecil untuk komputer kecilku yang manis dan mungkin meletakkan beberapa buah bingkai berisi foto-foto orang yang kucintai, atau lukisan-lukisan abstrak hasil karyaku… hi..hi… Aku tak pandai melukis, aku hanya pandai memanipulasi dan memodifikasi tulisan, itu saja. Karena mungkin kau tak mau lagi menggambar. Aku mungkin sedikit terbius oleh bunyi sebuah hadis yang melarang kita menggambar manusia dan binatang, aku bukan ingin memasung sebuah kreatifitas karena aku sendiri pun bisa sedikit menggambar. Sewaktu SD aku selalu mendapat nilai 8 untuk gambar pemandanganku. Entah mungkin sang guru sudah bosan berkali-kali aku menggambar hal yang sama, jadi beliau selalu menghadiahiku dengan nilai 8.
Yang tadi, aku tidak melarang orang lain untuk menggambar. Bahkan adikku sendiri yang suka menggambar tokoh, aku suruh saja dia untuk terus menggambar, menumpahkan ide dan kreatifitasnya. Dan suatu waktu dia bercerita bahwa dia berhasil menciptakan tokoh rekaan karya dia sendiri, sayang aku belum sempat untuk melihatnya. Aku biarkan dia berkreasi hingga dia tahu dan paham sendiri dengan hal itu. Aku tak mau mengusiknya.
Setidaknya aku hanya menyuruh diriku sendiri untuk berhenti menggambar karena beberapa alasan :
 Aku memang tak pandai menumpahkan ide dalam bentuk lukisan atau gambar manusia dan binatang. Menggambar sebuah pohon yang sempurna saja susahnya minta ampun.
 Aku lebih suka mendesain huruf dan tulisan karena bentuknya tidak terikat dan aku bebas untuk memutarnya sejauh mungkin yang aku bisa.
 Mungkin karena telah meyakini bahwa nanti aku akan diminta menghidupkan apa yang telah aku ciptakan.
 Aku tak ingin menggambar. Tapi aku akan tetap suka dengan gambar atau orang yang pandai menggambar karena setiap ujung jari manusia menyimpan rahasia tersendiri.
Tulisan ini tak perlu dikaji karena hanya curahan satu sisi hati saja.
Aku masih memperhatikan keadaan kamarku. Aku masih mendapati onggokan baju kotor yang menumpuk begitu saja karena belum sempat aku rapikan. Beberapa handuk masih menggantung di sana-sini. Di balik pintu, di dekat jendela, dan di gantungan baju. Untung saja sisa-sisa kerapihan beberapa hari yang lalu masih ada dan terpertahankan, hanya sedikit berdebu.
Aku jadi lebih iri lagi mendengar beberapa kesibukan di luar sana. Aku ingin bergabung. Ada suara orang berteriak, meja di tarik, kursi-kursi dikeluarkan dan disusun, suara sapu yang membentur-bentur dinding, aroma cairan pel, lalu ditambah gemerincing gelas yang beradu dan menunggu bibir siapa yang terlebih dulu menciumnya pagi ini. Suara orang-orang, atau yang lebih tepatnya beberapa mahasiswa yang duduk-duduk di gazebo untuk sekedar berbincang-bincang atau membicarakan tugas kuliah mereka, lalu lalang kendaraan bus kampus Unand yang berkejaran dengan sepeda motor mahasiswa dan mobil-mobil dinas para dosen dan pejabat universitas. Ditambah lagi cericit induk burung yang segera mempersiapkan sarapan pagi bagi mulut-mulut yang menganga di sarangnya. Semua berdengung di kepalaku dan membuat aku pusing. Aku ingin segera keluar dari sini. Menyandang tas, menapaki tangga-tangga gedung kuliah yang terkadang membuat nafas tersengal, memberhentikan bus lalu berebut masuk ke dalam, bertemu teman-teman kuliah, mendengarkan dosen sambil terkantuk-kantuk karena ceramahnya yang panjang dan membosankan, atau dengan serius memperhatikan dan memecahkan sebuah masalah dengan sepenuh hati hingga lupa bahwa jam kuliah sudah berakhir, berdebar-debar menunggu giliran presentasi di depan kelas, atau gugup karena tidak selesai mengerjakan tugas untuk hari ini, bahkan belum sempat membuatnya karena terlalu asyik menonton TV, memainkan bookworm adventure, atau tidur bermalas-malasan sambil memainkan tombol HaPe-ku. Atau mungkin terlalu asyik memikirkan seseorang yang baru saja hadir atau yang sudah berlalu. Berseliweran di kepalaku hingga kadang setelah itu aku akan tersenyum, lalu muram dan menangis, lalu tertawa hingga beberapa temanku berkata, “Dia sudah gila!”
Ya… Dunia ini telah membuatku gila. Hanya karena segala yang ada di dunia aku jadi gila. Perjalanan, hidup, pekerjaan, cerita, makan, harta, uang, kedudukan, wanita… ups… ada wanita!
Bicara tenang wanita, aku tak begitu sukses dalam hal ini. Aku hanya pernah satu kali pacaran jarak jauh dan itu pun hanya cinta-cinta monyet. Aku heran kenapa disebut cinta monyet. Apa cinta seekor monyet tak begitu penting bagi pasangan monyetnya? Tapi mereka berhasil. Beberapa keturunan lahir, dan lalu beranak-pinak. Apakah itu bukan cinta? Jadi ingat syair lagu A. Rafiq, penyanyi dangdut idola bapakku. “segala makhluk yang bernyawa memiliki cinta”. Aku pikir sudah seharusnya istilah itu segera diganti, hanya saja aku belum tahu pasti apa istilah pengganti yang tepat untuk itu.
Lalu semasa SMA aku hanya berani mengagumi beberapa wanita, mulai yang berambut panjang hingga yang berjilbab. Oya, aku masih ingat puisi pertamaku yang tercipta karena aku jatuh cinta pada seorang gadis yang selalu berjilbab dan aku sangat suka saat dia mengenakan jilbab berwarna putih. Suatu saat aku membelikan dia sebuah jilbab, lalu keesokan harinya saat upacara bendera dia memakainya dan sengaja berlalu didepanku. Aku sangat suka sekali melihatnya waktu itu. Puisi empat bait itu mengungkapkan betapa kagumnya aku padanya. “Dan hanya jilbab itu, yang telah mengikat kagumku padamu”. Namun, tak berani aku menyatakan, hanya berani berucap salam. Dia sungguh menawan.
Aku juga pernah kehilangan,, tapi aku sudah tak ingin mengingatnya lagi. Hingga beberapa temanku yang usil dan ingin tahu mencoba mencukil informasi tentang hal ini. Sudahlah… cukup. Aku tak akan mampu berbuat apa-apa lagi jika mengingat dia.
Tanpa sengaja aku melihat ke arah kakiku yang penuh dengan coretan-coretan. Mulai dari sekedar sapaan, pujian, makian, iseng, sekedar menuliskan nama dan tanda tangan, hingga sebuah gambar bunga mawar yang jelek sekali. Jika kuperhatikan gambar itu lebih mirip dengan bunga rumput yang tumbuh di pinggiran hutan, tumbuh liar dekat payau yang berisi beberapa macam ikan air tawar dan kadang biawak yang tidak terlihat dari atas karena keruhnya payau itu. Keruh karena dasarnya yang berupa lumpur, atau karena banyaknya jasad renik yang hidup di sana hingga tak mampu pandangan menembus dasar payau itu. Hanya lebih sering terlihat beberapa ekor ikan cucut kecil hilir mudik menggetarkan ekornya.
Melihat-lihat coretan itu aku jadi teringat kepada staf atau lebih tepatnya adik-adikku yang terpaksa bekerja sendirian mengangkatkan sebuah acara yang oleh gubernur harus dibuat besar dan kolosal. Kemarin salah satu dari mereka hanya datang sebentar, meminta tanda tangan untuk proposal lalu pergi lagi seperti capung yang berhenti sebentar menyentuhkan ujung ekornya ke air lalu terbang lagi entah kemana. Bagaimanapun aku harus menghargai segenap semangat dan asa yang tersisa di dada dan hati mereka, di tengah kecaman kuliah dan ancaman ketinggalan materi kuliah. Mereka tetap bersemangat, hingga kadang aku dibuat malu sendiri. Juga saat-saat sewaktu aku menjadi ketua atau seorang koordinator. Entah kenapa? Padahal mereka tak dibayar, lagipula siapa yang akan membayar. Ini kan sebuah organisasi nirlaba dengan niat lillahi ta’ala. Jadi ya siap-siapa aja nombok segalanya. Tapi ini pula yang kadang membuat organisasi itu menjadi tidak profesional. Biarpun segala yang dikeluarkan bersifat lillahi ta’ala, tapi apa salahnya jika kita mengusahakan untuk paling tidak mengembalikan materi mereka atau sekedar memberikan penghargaan atas jerih payah dan dana yang mereka keluarkan.
Saat menjadi ketua… mungkin jika disebut sebagai ketua aku belum memenuhi kriteria seorang ketua (pemimpin) yang baik. Setidaknya seorang ketua itu harus menguasai tiga sifat (dalam falsafah jawa), yaitu:
Ing ngarso sung tulodo; di depan bisa jadi panutan dan contoh,
Ing madya mangun karso; di tengah mampu menghimpun semangat, dan
Tut wuri handayani; di belakang memberikan dorongan dan motivasi.
Mungkin jadi panutan boleh lah, tapi untuk membangun sebuah kekuatan dan tim yang solid itu sungguh tidak mudah, bagaimana harus menggabungkan segala macam isi kepala orang-orang lalu mengarahkan mereka pada satu tujuan. Kemudian saat sang ketua berada di belakang barisan harus mampu memberikan dorongan motivasi dengan contoh-contoh atau sikap-sikap yang bisa mereka tiru dan anut. Belum selesai aku membaca buku potret rasulullah karya ‘Amru Khalid dan buku berjudul 100 tokoh di dunia. Tapi aku bisa menyimpulkan bahwa mengidolakan seorang manusia bernama Muhammad adalah tepat, dan meneladani sifat-sifatnya adalah benar. Sungguh seorang panutan, contoh, dan penyemangat yang sukses. Tak hanya urusan dunia, tapi juga akhirat. Jutaan umat hingga sekarang mengagungkan namanya tiap saat.
Tapi kadang tetap saja namanya masih kalah populer dibandingkkan Bunga Citra Lestari, Shireen Sungkar, Glenn Alinsky, Giring Nidji, atau Kaka Slank sekalipun di hati pemuda Indonesia sekarang, termasuk aku. Bahkan terkadang aku terlalu mengagumi Eross Candra dan grupnya Sheila on 7 daripada mengagumi Muhammad. Aku hampir hafal semua lagunya dan kudendangkan tiap saat, tapi shalawat dan barzanji sudah pudar dalam ingatan. Bersemangat mencari tahu tentang mereka, berbagai majalah dibeli. Tapi membaca kisah nabi setebal 500 halaman saja butuh waktu berhari-hari, lebih lambat saat harus menamatkan AAC dan KCB I & II.
Sepertinya keadaan di luar sana mulai agak tenang. Hanya terdengar beberapa kali pintu kamar mandi terbuka dan tertutup. Suara anak burung juga juga sudah tak seramai tadi. Semua orang mungkin sedang sibuk sarapan karena di luar sana terdengar denting sendok dan mangkuk beradu. Ruang komputer juga sudah tenang, hanya sesekali tuts-tuts keyboard itu terdengar berisik. Mungkin Roza sedang menyelesaikan tugasnya.
Aku menguap lagi. Menguapkan kebosanan yang sama berhari-hari hingga memenuhi langit-langit kamarku. Untung saja ventilasi dengan setia mengatur sirkulasi yang terjadi. Membawa hawa-hawa kebosanan itu keluar entah kemana dan menggantinya dengan udara segar yang baru.
Kulihat otot-otot di tubuhku mulai mengecil dan aku mulai terlihat lebih kurus. Sudah beberapa minggu aku merindukan bisa joging lagi, melewati bersihnya udara sepanjang perumdos lalu kembali menikmati polusi sepanjang jalan kampus. Melihat-lihat orang yang berpasang-pasangan, kadang-kadang di depan bundaran, kadang-kadang di sudut-sudut, di balik sepeda motor, di pinggir alan, di balik papan bertuliskan “FAKULTAS TEKNIK”, DI ‘DPR’, di depan lapangan bola san saro, di helipad rektorat, di bawah perdu dan pepohonan, dan masih banyak lagi. Ada yang sibuk berlari, belajar motor, berjalan, memainkan skiping rope, main bola, mejeng, dan segala bentuk kegiatan penampakan diri terlihat di sini. Ternyata Unand merupakan tempat rekreasi yang asyik. Apalagi kalau di pondok berdua sambil melihat ke arah indahnya Batu Busuk. Amboi… Kadang-kadang terlihat semak-semak bergoyang. Ternyata beberapa ekor anak anjing sedang berebut memainkan bola tenis yang melenting keluar dari lapangan saat pak rektor dan beberapa dosen sedang mengasah kemampuan mereka atau sekedar melepas penat di hari libur.
Beberapa artis lokal kadang juga memanfaatkan keindahan Unand sebagai lokasi bagi pembuatan video klip lagu-lagu mereka. Sewaktu aku tinggal di asrama pernah memergoki seorang artis sedang berlenggak-lenggok mengikuti arahan sang sutradara. Dan di beberapa VCD milik bapakku, aku juga menemukan beberapa buah lagu yang memakai Unand sebagai latar video klip mereka.
Bersambung…

2 thoughts on “suatu hari, ketika…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s