Kaya dan Sehat

Seperti jum’at-jumat yang biasa, saya pun seperti biasanya. Ketika menjelang tengah hari, saya mengayunkan langkah menuju Masjid At-Ta’lim Sendik BRI untuk menunaikan shalat jum’at berjamaah. Masih agak lengang dan saya memilih duduk di shaf kedua dengan pertimbangan bahwa di depan saya ada dua orang bapak-bapak sedang duduk bersila dan agak renggang, jadi nanti ketika shalat ditunaikan saya bisa nyelip di sana dan berada di shaf pertama.

DSC00339

Agak mengantuk, padahal perut sengaja tak saya isi agar pembuluh darah menyusut. Kata ustadz, biar setan tak bisa meraja lela di tubuh kita. Jadi kita akan bisa menahan kantuk ketika khutbah.

Sang khatib mulai berkhutbah, lebih mirip berorasi karena gaya berkhutbahnya mirip K.H. Zainuddin MZ. Pelan di awal, keras di tengah dengan penuh penekanan, dan diakhiri dengan kemenangan telak 21-14 dua set langsung. (halah,,,masih kebawa-bawa nonton Djarum Indonesia Open Open-mouthed smile)

Dan saya masih bisa menangkap inti dari khutbah kala itu. Berikut saya coba tuliskan beberapa yang masih saya ingat.

Continue reading

Solok I’m in Love #6

A black side, is it the end when I’m fallin in love?

Aku menjadi sedikit benci pada sebuah keadaan, dimana sebuah keangkuhan bisa meruntuh dan menutup jalan pikiran. Yang ada hanya prasangka dan kutahu jalan itu takkan bisa lagi untuk ditapaki. Puluhan buldozer menyingkirkan batu-batu itu dari jalan, tiada yang bisa kuperbuat selain menunggu. Longsoran ini begitu cepat dan tak terduga, tanpa ada hujan.

Aku dalam perjalanan, yah…bolehlah kau katakan aku ingin kembali ke Solok mengulang setiap detik dan merangkai potret itu menjadi sebuah kolase. Kolase yang hampir lima tahun ini kupungut dari sisa kulit pohon pinus yang tumbuh di pinggir Danau Biru. Aku yang begitu sok tahu terkadang ikut pula memungut kulit pohon perdu yang kusangka pinus, menggabungkannya dengan puluhan kolase yang ada. Tidak pas, memang.

Dan bodohnya itu baru kusadari kini. Karena itu, aku ingin memungut kulit pinus itu sebanyak-banyaknya, mengganti belasan kulit pohon palsu yang ikut kupungut bersama waktu. Nyatanya, belum separuh perjalanan ini kutempuh aku harus menghadapi sebuah longsoran batu kepercayaan begitu banyak.

Continue reading