Kita bagai hidup di tempat sampah

Itulah sebait kalimat yang pernah aku dengar dari seorang pembicara. Sialnya aku lupa siapa yang mengucapkannya, jadi aku bukan asal ngomong tapi sudah ada yang lebih dulu mengucapkannya. Mungkin kita bahas saja mengapa ada ungkapan seperti itu bisa keluar.
Orang itu – yang tadi mengeluarkan kalimat itu – mengatakan lebih kepada kaum lelaki. Kita sebagai lelaki diibaratkan sudah hidup di tempat sampah yang tak kelihatan kotor, padahal sesungguhnya banyak sekali sampahnya. Memang masih ada barang yang lebih berguna di sana, tapi sudah sangat sulit memisahkan mana yang baik dan mana yang sampah.
Masih penasaran? Baik kita mulai.
Continue reading

Kawin-cerai kok rasanya nikmat ya…

Maraknya kasus kawin-cerai yang merebak di kalangan artis bukanlah hal baru. Layaknya sudah menjadi sebuah trend bahwa kawin-cerai di kalangan selebritis itu sudah lumrah. Bahkan harus terjadi, biarpun hanya sekedar sensasi atau mendongkrak popularitas. Beberapa kasus yang terjadi menjelang akhir 2009 lalu, seperti umur pernikahan Aldi Taher dan Dewi Persik yang hanya seumur jagung, atau yang terakhir adalah pasangan yang selalu kelihatan kompak (Anang – KD) akhirnya harus pisah ranjang, bahkan pisah rumah.

Continue reading

Suami Luar Biasa…

Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.

Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Karena ada sisi kesehariannya yang luar biasa!!!!

Continue reading

Marriage By Accident

Sebuah definisi yang sudah memasyarakat bahwa Marriage By Accident (MBA) bukanlah sebuah pernikahan yang diharapkan dan dihindari oleh banyak orang. Kalaupun ada yang melakukan MBA (dalam pengertian sempit ini) maka tak pelak si pelaku akan mendapat sebuah pengucilan, walaupun akhirnya (karena saking banyaknya terjadi) masyarakat lama-kelamaan menerima fenomena ini dan tak terkejut lagi jika suatu saat nanti akan terjadi banyak MBA. Sebuah tanda apakah ini?

Continue reading