Cahaya Mata, Cahaya di Malam yang Agung: Khaylila

Saat rembulan lingsir di ujung malam

Meninggalkan sebentuk pijar fajar semburat seperti ekor srigala

Saat kau membuka matamu; untuk pertama kali

Mengisi dunia bagai sejuta impian berkelebat di kepalaku

Saat fajar hampir sempurna menampakkan indahnya

Tangismu memecah pagi

Sempurna setelah panggilan adzan mendengung di telingaku

Sekian waktu ku berjaga: gelisah menantikanmu

Segarnya air membasuh mukaku, kaupun merasakannya pada basuhan pertamamu

Sesempurna Tuhan mengatur waktumu agar mampu merasakannya

Awal dari sebuah hidup: lukisan pagi

Wahai cahaya mataku

Itu adalah sorot matanya

Mata seseorang yang telah rela sepenuh hati bersimbah peluh dan darah

Hanya untuk keindahan matamu

Dia yang telah rela memutuskan hidup denganku

Sebagai kelana yang menyusur dunia

Meninggalkan manis keegoisan hati merengkuh alam sendiri

Menyelaraskan ingin

Cahaya itu…

Cahaya matamu dan indah bibir ibumu

Aku merinduimu… Setiap waktu

(Padang, 28 Mei 2008)

Ini adalah puisi yang pernah saya buat ketika Continue reading

Advertisements

Permasalahan seputar Qunut

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita lihat perbedaan dalam pelaksanaan shalat subuh. Di satu tempat barangkali akan membaca do’a qunut setelah i’tidal pada rakaat kedua shalat subuh. Namun, di lain tempat orang akan langsung sujud setelah i’tidal tanpa harus membaca do’a qunut terlebih dahulu.

Terkadang hal-hal seperti ini tak jarang menjadi perdebatan di kalangan masyarakat yang menganut masing-masing aturan tersebut. Dan terkadang terjadi saling menyalahkan antara masing-masing pihak, menganggap aturan yang dia pakai adalah benar. Karena mereka memakai dasar dan dalil masing, maka mereka tetap bersikeras terhadap pemahaman masing-masing.

Mengenai membaca do’a qunut pada shalat subuh. Menurut Imam Syafi’i, do’a qunut ini dibaca khusus pada i’tidal rakaat kedua shalat subuh. Menurut Malik, sebelum ruku’ pada rakaat kedua shalat subuh. Lain halnya dengan Abu Hanifah, beliau tidak memperbolehkan membaca qunut pada rakaat kedua shalat subuh, qunut hanya dibaca pada rakaat terakhir shalat witir saja.

Seperti disinggung tadi, perbedaan ini tek jarang membuat perselisihan di kalangan umat islam. Begitu pula saat shalat subuh berjamaah, akan kita jumpai makmum yang mengangkat tangan untuk ikut do’a qunut, ada pula yang tidak mengangkat tangannya.

Supaya tidak ikutan bingung, sebaiknya kita simak sebuah cerita berikut,

Untuk memelihara toleransi antara sesama muslim, Imam Syafi’i tidak membaca qunut ketika mengimami shalat subuh di suatu masjid di Baghdad demi menghormati Imam Abu Hanifah yang dimakamkan di tempat itu.

Sungguh luar biasa toleransi yang diberikan oleh Imam Syafi’i sekalipun. Bagaimana dengan kamu? Apakah masih akan berdebat pendapat siapa yang paling benar? Udah ketinggalan jaman kalee… Hare gene…!!!

Referensi:
Shalat is Fun. Doel Wahab. 2005. Dar Mizan : Bandung