Bapak Parenting

edit wisuda_tiga (298)-001

Bapak tidak pernah membaca buku-buku parenting. Bapak tidak pernah tahu apa itu positive parenting, smart pareting, hingga screaming parenting. Tapi, secara alamiah Bapak telah belajar dan mempraktikkan bagaimana menjadi seorang parent yang penting. Bapak selalu bisa memanfaatkan waktu bersama saya. Entah itu dipaksa oleh keadaan ataupun atas kesadaran sendiri.

Sewaktu saya kecil, Bapak jarang di rumah. Bapak lebih sering keluar masuk hutan sebagai buruh kasar penebang pohon. Saat itulah waktu banyak saya habiskan dengan Ibu saya. Ikatan yang timbul tentu saja adalah sangat emosional. Saya sangat dekat dengan sosok ibu dan tergolong manja.

Namun, selalu saja ada momen “father’s time” yang terjadi antara saya dengan Bapak, Continue reading

Ketika Mamak Bisa Naik Motor

DSC00360

Akhirnya kami punya sepeda motor lagi, dan pastinya motor BARU. Setelah Adik saya selalu mendesak agar dia tidak dikucilkan dalam dunia remaja yang baru saja dia jajaki, akhirnya Bapak mengalah untuk membeli satu sepeda motor lagi. Sungguh kejam dunia anak muda sekarang.

Tapi lantas motor itu pun juga punya kegunaan lain, yaitu bisa untuk Mamak belanja ke pasar karena motor yang satunya pun akhirnya diakui sebagai hak milik oleh Adik saya yang satu lagi, jadi tak perlu menunggu minta diantar yang jika Mamak kelamaan maka Mamak akan pergi naik sepeda saja.. Hiks, malah saya yang keseringan minjem motor jadinya.

Karena motor BARU ini jenisnya bebek matik tanpa gigi dan tinggal pancal (baca: gas) makanya Adik dan Mamak saya langsung bisa mengendarainya tanpa harus belajar mengendalikan kopeling dan gigi seperti ketika saya belajar dengan motor federal milik Bapak dulu. Tercatat saya sudah jatuh tiga kali sepanjang belajar naik motor itu, dan baru seminggu kemudian berani bawa motor sendirian.

Continue reading