Lagu Anti-Mainstream

Dalam beberapa bulan belakangan ini, saya agak dikejutkan dengan hadirnya lagu-lagu yang anti-mainstream, alias keluar dari jalur yang seharusnya. Bukan hanya racikan musik yang kadang dicampuraduk, suguhan lirik yang membuat kita melongo, atau tampilan VK yang ‘gak kepikiran’.

Kemudian saya menaruh perhatian pada dua lagu yang baru dan ‘agak lama’ rilis di tengah-tengah belantika musik Indonesia yang masih galau, antara ancaman pembajakan yang ‘na’uzubillah’, belum lagi munculnya banyak musisi dan penyanyi abal-abal, yang asal bisa ‘mendesah’ dan ‘bergoyang’, utawa metik senar-senar standar, mereka udah langsung tenar.

Lagu pertama adalah “Terlatih Patah hati”. Lagu yang dibawakan oleh The Rain (band asal Jogja) yang berkolaborasi dengan Endank Soekamti (rekan beda genre).

Lagu ini, Continue reading

Reso(ul)nansi

Padang kemilau cahaya raya

Ini kali kesekian, Ning,  ketika taman-taman kembali memetakan jejak-jejak daun yang luruh berjatuhan, embun di alas rumput, dan pucuk-pucuk cemara terayun dimainkan angin.

Batu-batu kali bercerita tentang air yang kadang keruh, kadang riuh. Geliat seluang menari-nari menyambut langit biru nan tiada noktah. Lautan merupa angkasa, tempat awan-awan berlayar menujumu, wahai semesta, membawakan air paling manis yang akan menyegarkan pilumu hingga kapan pun jua.

Ada yang bergelombang, Ning,  Continue reading

Mendahulukan Orang Lain dalam Beribadah

mohon-isi-shaf-terdepan-lebih-dahulu_1458_lOrang Indonesia terkenal karena ramahnya, bahkan hingga ke seluruh dunia. Budaya sungkan dan mendahulukan yang lain masih begitu kentara di sebagian besar masyarakat kita.

Tapi hal ini tidak berlaku untuk urusan ibadah kepada Allah. Sebagai contoh, ketika mengisi saf shalat berjamaah, ada beberapa jamaah yang mempersilakan orang lain untuk mengisi barisan kosong di depan. Padahal jika mereka tahu, di zaman Nabi saw saja para sahabat saling berebut untuk mengisi saf terdepan, bahkan ada yang saling mengundi agar bisa berdiri di sana.

Itulah mengapa anjuran shalat juga mengajari kita untuk saling menghormati dan serendah mungkin menghilangkan sifat sombong dalam diri. Sesiapa yang telah dulu tiba di masjid, maka dialah yang berhak mengisi saf terdepan, tidak peduli tukang parkir, padagang asongan, menteri atau presiden sekalipun. Semua sama di hadapan Allah.

Masih ingat dong ya bagaimana kita dulu diajari di TPA tentang tingkatan-tingkatan pahala dalam saf shalat berjamaah. Saf pertama pahalanya seperti berkurban seekor unta, saf kedua berpahala seekor domba, dan seterusnya hingga saf terakhir dalam shalat berjamaah. Jadi, tak ada alasan bagi kita untuk mendahulukan orang lain dalam beribadah.

Seperti yang disampaikan Azzam kepada Fadhil dalam novel fenomenal KCB, “bahwa mengutamakan orang lain dalam mendekatkan diri kepada Allah atau dalam hal ibadah itu hukumnya makruh.”

Dan salah kaprah semacam inilah yang kerap terjadi di masyarakat kita. Mengutamakan orang lain dalam hal muamalah adalah dianjurkan, tapi tidak untuk hal ibadah. Tidak hanya dalam shalat saja, juga dalam ibadah lain, termasuk menikah.

Sihhiy, ngomongin menikah. Pembahasan selanjutnya saja ya…! Hehehe

Berjabat Tangan dengan Baik dan Benar

lebaran-01 Siapa yang tak pernah bersalaman. Kita semua pernah bersalaman. Karena selain mempererat persaudaraan, bersalaman juga bisa untuk saling menghapus dosa. Seperti sabda Nabi saw, “tidak ada dua orang muslim yang bertemu lalu berjabat tangan melainkan pasti diampuni untuk keduanya sebelum mereka berpisah.”

Tapi, salaman seperti apakah yang bisa menghapus dosa?

Mungkin dari kita pernah atau sering melihat (atau mengalami) bersalaman dengan orang-orang namun hanya sebatas menyentuhkan jari jemari atau ujung jemari, bukan saling menggenggam. Yah, kalau salaman laki-laki dengan perempuan mungkin wajar saja. Tapi tak jarang pula ketika bersalaman dengan sesama laki-laki atau sesama perempuan pun hanya menyentuhkan jari jemari saja.

Padahal,

Continue reading

Nyawa Pungutan

Pernah dengar istilah ‘nyawa pungutan’? wow sekali kalau sudah pernah, karena saya baru mendengar istilah tersebut baru-baru ini. Ternyata, tak hanya anak dan sampah yang bisa dipungut, tapi nyawa juga bisa.

Istilah nyawa pungutan ini muncul karena sebuah keadaan, sepasang orang tua muda yang baru saja punya anak, kemudian anak tersebut sakit-sakitan hingga dirasa tak ada lagi harapan hidupnya, lalu sembuh dengan ajaib. Nah, seolah si anak ini memungut nyawa — yang entah di entah berentah — yang kemudian dia pakai sebagai nyawanya sendiri.

Suatu cerita, lahirlah seorang bocah dari sepasang orang tua muda yang baru setahun menikah. Sebagai orang tua, tentu mereka senang telah dikaruniai seorang anak di dunia ini sebagai ‘tombo ati’, ‘pelipur lara’, belahan jantuang sibiran tulang’, atau apalah namanya. Begitulah, betapa bahagianya setiap orang tua ketika dikaruniai anak.

Dan si bayi itu pun kemudian hanya menangis saja, tak mau menyusu hingga sebelas hari lamanya. Selain karena ASI dari ibunya belum bisa dikonsumsi, tidak diketahui pasti apa penyebabnya. Si ayah pun bingung setengah mati melihat anaknya hampir mati karena tak mengonsumsi apapun setelah lahir.

Sebagai inisiatif,

Continue reading

Because of You(r)self

15239boomerangPernah mendengar teori bumerang-nya suku aborigin? Yah, gampangnya itu yang akan kita jadikan sebagai contoh dalam tulisan kali ini. Maknanya kurang lebih adalah apa yang kita perbuat akan berbalik pada diri kita sendiri.

Tentu kita pernah merasa (atau melakukannya), bahwa pada suatu saat, kita akan begitu tergesa ketika menghadap Allah, dalam artian: shalat. Mungkin karena pekerjaan atau kesibukan lain yang seolah membuat shalat hanyalah sesuatu yang harus kita selesaikan dengan cepat agar pekerjaan tersebut bisa segera kita lanjutkan. Saya juga pernah. Dan semoga apa yang saya rasakan juga anda rasakan, bahwa ketika kita begitu tergesa dalam shalat, maka perasaan kita pun menyuruh kita agar bersegera menyelesaikannya.

Padahal,

Continue reading

We should’nt call ourselves: ‘hamba’

Terkadang kita lebih nyaman menggunakan kata ‘hamba’ ketika berkomunikasi dengan tuhan, entah itu ketika mengadu ataupun saat meminta sesuatu, atau ketika kita bersedekah. Seolah, kata ‘hamba’ itu telah mewakili segenap kerendahan kita di mata tuhan.

hamba-allahTapi, sesungguhnya tak seharusnya kita menggunakan kata ‘hamba’ di depan tuhan, hanya Allah-lah yang berhak menggunakan kata ‘hamba’ kepada semua ciptaan-Nya. Seperti telah Allah sebutkan dalam QS 51:56, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Konsekuensi sebuah kata ‘hamba’ tentu juga menuntut sikap dan perbuatan yang sebanding kepada ‘tuan’-nya. Lantas, sudah sejauh mana kita telah bersikap dan berbuat di saat kita memposisikan diri kita sebagai ‘hamba’. Sebagai seorang ‘hamba’ tentu kita sudah sangat paham atas hal-hal apa yang telah dilarang ‘tuan’ kita, serta hal-hal apa saja yang disuruh dan disukai ‘tuan’ kita.

Jadi, tidak etis rasanya ketika kita menyebut ‘hamba’ tapi kelakuan kita sama sekali tidak mencerminkan seorang hamba; yang patuh, yang taat, dan tidak membangkang.

Maka, mulailah mengukur diri, sudah patutkah kita menyebut diri kita: ‘hamba’ Allah. (?)