Cahaya Mata, Cahaya di Malam yang Agung: Khaylila

Saat rembulan lingsir di ujung malam

Meninggalkan sebentuk pijar fajar semburat seperti ekor srigala

Saat kau membuka matamu; untuk pertama kali

Mengisi dunia bagai sejuta impian berkelebat di kepalaku

Saat fajar hampir sempurna menampakkan indahnya

Tangismu memecah pagi

Sempurna setelah panggilan adzan mendengung di telingaku

Sekian waktu ku berjaga: gelisah menantikanmu

Segarnya air membasuh mukaku, kaupun merasakannya pada basuhan pertamamu

Sesempurna Tuhan mengatur waktumu agar mampu merasakannya

Awal dari sebuah hidup: lukisan pagi

Wahai cahaya mataku

Itu adalah sorot matanya

Mata seseorang yang telah rela sepenuh hati bersimbah peluh dan darah

Hanya untuk keindahan matamu

Dia yang telah rela memutuskan hidup denganku

Sebagai kelana yang menyusur dunia

Meninggalkan manis keegoisan hati merengkuh alam sendiri

Menyelaraskan ingin

Cahaya itu…

Cahaya matamu dan indah bibir ibumu

Aku merinduimu… Setiap waktu

(Padang, 28 Mei 2008)

Ini adalah puisi yang pernah saya buat ketika masih berstatus mahasiswa di sebuah universitas negeri di Sumatera Barat, sebut saja Universitas Andalas, dan baru-baru bisa menulis puisi. Entah mungkin sejak saat itulah saya benar-benar mendambakan memiliki anak perempuan, seorang putri.

Ihwal penciptaan puisi itu terilhami oleh sebuah peristiwa shalat subuh berjamaah yang saya ikuti di sebuah mushala kecil di kaki Bukit Karamuntiang, dekat gerbang kampus Unand Limau Manis. Saat itu saya mengambil air wudhu yang langsung dialirkan dari sumber mata air. Dingin, sejuk, dan menyegarkan.

So, saya membayangkan bagaimana rasanya jika nanti anak saya lahir di waktu fajar, di awal hari, merasai bagaimana sebuah hari itu bermula. Dia akan merasakan betapa syahdunya sebuah pagi.

Tak kurang sejak puisi itu tercipta, sudah beragam nama perempuan yang saya karang-karang untuk menjadi nama anak kelak. Mulai dari Aisha Putri, Zahra, Kinanthi, Mayar hingga Josephine. Nama pertama, pernah menjadi nama sebuah laptop, yang entah kenapa saya anggap berjenis kelamin perempuan. Nama kedua sudah dinobatkan sebagai judul buku kumpulan cerpen pertama saya. Nama ketiga, juga sudah terlebih dahulu menjadi judul sebuah novel karangan Tasaro GK. Dua nama terakhir, Mayar dan Josephine, ketika saya sodorkan nama ini kepada istri di awal-awal pernikahan, dia cemberut bukan kepalang.

Hingga ketika diagnosa sebatang testpack mengukuhkan keberadaan sebuah blastocyst di rahim istri, keinginan enam tahun silam kembali menggebu, dan kian menderu debu. Saya ingin anak pertama saya itu perempuan. Dan jika benar-benar perempuan, namanya harus Khaylila.

Dan kini, sejak tangis pertamanya selepas adzan subuh nan agung itu berkumandang, saya merasa bahwa Tuhan telah benar-benar menggenggam puisi itu, doa-doa dan harapan itu, lalu serta merta mengguyurkankannya hingga saya kelu menggigil kedinginan. Speachless.

Anak perempuan cantik itu benar-benar lahir di waktu subuh, ketika hari belum lagi terang tanah. Mendengar tangisannya itu, saya hanya bisa berkali-kali mengecup kening istri dan menatapnya haru. Jika tak ingat saya adalah satu-satunya laki-laki di ruang persalinan itu, saya ingin menangis sepuas-puasnya.

dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya

(Sapardi Djoko Damono, Dalam Diriku)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s