Musim Yang Baik : Sebuah Kejujuran Baru Sheila On 7

Musim yang Baik

Finally, album terbaru dari band yang (sampai sekarang) masih memegang predikat a-million-copies-band ini meluncur mulus di penghujung tahun 2014. Setelah melalui badai penantian dan PHP tiada tara (cailah), Musim Yang Baik (MYB) hadir menghapus dahaga penikmat musik Indonesia. Dan menurut mereka, saat inilah musim yang baik untuk kembali berkarya.

Saya sudah mendengar kabar Sheila On 7 (SO7) akan mengeluarkan album baru sejak 2012 silam. Saat itu, keempat the-man-who-stay-in-the-band sudah sepakat untuk mengeluarkan album baru. Tapi entah kenapa, saya (mungkin juga SO7 sendiri) merasa ada yang salah dalam realisasi “rencana besar” ini. Ya wajar saja, SO7 masih bernaung di bawah label besar Sony Music Indonesia. Tentu saja, segala keputusan bergantung pada mereka. Kalau kata Duta, “Yang penting kita udah bikin lagu, mau dibikinin album atau nggak ya terserah. Kita udah bayar utang album sama mereka.”

Setahun lebih menanti kejelasan tentang album ini, tiba-tiba saya merasa sangat kaget dan terkejut lantaran ada sebuah album “aneh” berisi lima aransemen baru yang “nggak banget” muncul ke permukaan, kecuali vokal Lana Nitibaskara yang empuk membawakan irama Sahabat Sejati dengan ceria ala AFI Junior. Anehnya lagi, album ini diberi judul Anugerah Terindah dari Sheila On 7, tapi tidak sedikit pun melibatkan SO7 dalam penggarapannya. Tadinya, saya berharap album tribute ini bisa bernasib baik seperti “Mesin Waktu”-nya NAIF. Nyatanya …. Ah, sudahlah! Belakangan saya juga tahu bahwa album yang dijual via gerai ayam goreng renyah itu pun dirilis tanpa sepengetahuan dan seizin SO7. Kejamnya dunia!

Setelah mesti harus kudu bersabar lebih dalam lagi, akhirnya ada angin segar. Ada kabar single Lapang Dada akan segera dirilis. Meskipun (sama kesalnya dengan SO7 yang kerap membawakan lagu-lagu baru mereka secara live) saya juga sudah sering mendengarkan lagu-lagu baru mereka ini secara live di youtube.

Dan sejarah itu terjadi.

Pada tanggal 07 November, single Lapang Dada diputar serentak di 100 kota pada pukul 07 malam, melibatkan ratusan stasiun radio. Uniknya, track ini pun akhirnya nongkrong di urutan 07 list albumnya. Dan 10 Desember menjadi Musim yang Baik bagi SO7. Album yang sudah lama sekali terpendam itu akhirnya selesai dan siap tempur.

Dari beberapa berita di media online yang saya baca-baca, SO7 membuat konsep lagu di album ini secara live. Jadi, apapun bebunyian yang ada di album tersebut akan sama seperti ketika dibawakan secara live di panggung. Saya jadi penasaran. Mereka menyebutnya dengan 4-pieces. Musiknya hanya akan menonjolkan instrumen masing-masing personil.

Sebenarnya, SO7 sudah pernah membuat proyek semacam ini di album Menentukan Arah. Mereka mencoba memainkan musik yang simpel, mudah, dan tak memerlukan bunyi-bunyian lain selain mereka berempat + Efka. Artwork cover albumnya pun minimalis. Tapi ternyata sambutan publik tak terlalu menggembirakan. Mereka (dan juga saya) sudah terbiasa dengan sisipan string dan brass section yang pernah mereka masukkan di lagu-lagu sebelumnya. Rasanya belum rela untuk meninggalkan image semacam itu dari SO7. Apalagi lagu Last Pretence di album sebelumnya (507) dibuat dengan sangat emosional, melibatkan string section yang dominan dari mitra kerja Eross selama ini, Sa’unine, dan sayatan-sayatan gitar Eross yang berdarah-darah meratapi kepergian partner-in-stage-nya selama ini.

Dan sekarang mereka dengan mantap dan tidak lagi ragu untuk menonjolkan keempat unsur dalam SO7 secara jujur dan apa adanya. Jika di album Berlayar Eross masih berusaha mempertahankan eksistensi Sakti melalui suara dua gitar, kali ini mereka tak berusaha menutup celah-celah kosong itu dengan bunyi-bunyian apapun. Duta cs. mengatakan bahwa konsep seperti ini adalah persiapan untuk album selanjutnya, dengan harapan sheilagank tidak terlalu kaget dengan perubahan dan kejutan-kejutan lain yang akan mereka hadirkan di album-album selanjutnya.

Dulu, saya sempat sekali berharap SO7 bisa merilis album live seperti yang pernah Dewa 19 lakukan. Pingin merasakan betapa hip-nya bunyi-bunyian mereka di panggung dan koor-koor alami para penonton. Tapi, dengan adanya album ini, impian saya itu sedikit terobati. Ini album studio rasa live. Seperti eksperimen yang pernah Eross lakukan dengan Jagostu-nya.

Baiklah. Tadinya saya hanya ingin mengomentari dan berpendapat mengenai materi mereka di album ini, tapi intronya kepanjangan. Mudah-mudahan gak keburu bosen ya!

Album ini berisi 10 lagu. Track list-nya sengaja disusun sedemikian rupa untuk menyambung benang merah yang ada di album ini. Diawali dengan lagu berjudul “Selamat Datang” dan diakhiri dengan “Sampai Jumpa”. Secara umum, lagu ini memang menyuguhkan sebuah musim yang baik. Lirik-liriknya berisi pesan-pesan positif, seperti biasanya SO7, namun secara keseluruhan. Tidak ada penyesalan, sakit hati, maupun galau berdarah-darah.

Untuk tak berlama-lama (lagi-lagi), mari kita simak satu per satu lagu-lagunya. Saya tak begitu paham dengan istilah-istilah musik, jadi hanya seperti apa yang saya bayangkan ketika mendengarnya.😀

01. Selamat Datang

Sebagai sebuah pembuka, lagu ini benar-benar segar. Saya suka sekali dengan bunyi sampling mirip suara lonceng di awal dan di beberapa bagian di lagu ini, seolah-olah memang sedang menyilakan kita untuk masuk ke dalam sebuah rumah. Juga bunyi siulan itu, yang saya kira dihasilkan oleh Eross, makin bikin nyaman.

Saya jadi membayangkan sedang berkunjung ke sebuah rumah yang terletak di tengah-tengah sebuah padang rumput yang hijau, penuh dengan bunga-bunga bermekaran, dan gemericik air di sungai kecil yang mengalir di depan rumah. Belum lagi selarik bebunyian harmonika – yang menurut perkiraan saya Adam yang memainkannya, seperti yang pernah dia lakukan di lagu Jalan Keluar (album Menentukan Arah) – yang bikin adem ayem. Seolah sedang menikmati suatu siang yang sejuk sambil memandangi rerumputan yang bergoyang ditiup angin.

SO7 secara bijak menempatkan posisinya sebagai seorang pemberi semangat yang justru tidak terkesan menggurui. Dengan sederhananya mereka mengatakan, “Ini lagumu … yang kutuliskan untuk temani ke mana pun kau. Jangan mengeluh, jadilah tangguh seperti yang kamu impikan.” Manis sekali. Uniknya, dua anak Duta pun ikut mengisi suara di bagian coda. Seolah, segenap keluarga besar SO7 menyambut kita dengan hangat. For all the good time and all the bad time, I’ll follow you with this song.

Eross pernah bilang bahwa lagu ini dia persembahkan kepada para perantau yang jauh dari kampung halamannya. Siapa pun yang mendengar lagu ini, bukan seperti sedang diberi nasihat agar terus bertahan. Tapi seperti sedang ditemani ketika berjalan. Ya, sesederhana itu.

02. Satu Langkah

Ini salah satu lagu favorit saya di album ini. Temponya yang cepat dan isian gitar yang penuh dan dinamis, namun konsisten. Menilik konsep album ini yang sengaja dibuat seperti live, maka pada lagu inilah saya merasa isian gitar Eross tidak terputus-putus. Tiap pergantian temponya mulus, tidak ada yang kosong. Belum lagi gebukan drum Brian yang sangat ciamik. Gurih banget.

Mendengar lagu ini, saya jadi yakin dengan pernyataan sang vokalisnya, bahwa album ini akan bikin orang bilang, “Wah, SO7 bisa juga bikin lagu kayak gini.” Saya rasa ini salah satu buktinya. Saya jadi seperti kembali menonton serial-serial remaja di TV jaman dulu. Saya jadi teringat dengan serial Friends.

Lagu ini juga menambah deretan lagu-lagu up-beat yang pernah mereka ciptakan. Saya jadi membayangkan seandainya Brian sudah masuk SO7 ketika mereka menggarap album Pejantan Tangguh, mungkin album itu rasanya akan berbeda. Hehehe … *khayalan absurd* Tapi memang sih, saya agak kurang puas dengan sound drum mereka di album itu.

Melalui lagu ini, saya merasa SO7 mencoba meraba perasaan penggemarnya. SO7 mencoba menyuarakan kegelisahan para SG untuk segera menikmati album baru SO7. Maka mereka mengajak agar semuanya satu langkah, keluarkan album baru! Hahaha *makin absurd*

03. Buka Mata Buka Telinga

Saking penasarannya saya dengan lagu ini (setelah tak puas mendengar versi 30 detiknya) saya menonton rekaman mereka memainkan lagu ini secara akustik ketika ultah SG Jabodetabek. Sayangnya, backsound di video itu sangat mengganggu karena selain tak hapal lirik, nadanya juga melenceng jauh dari lagu aslinya. Kenikmatan saya agak sedikit terganggu. Udah nonton gratis, protes pula!

Saya sudah merasakan aroma country yang kental dari kocokan gitar Eross ketika memainkannya secara live, apalagi interlude akustikannya bikin kepala goyang-goyang. Duta pun membuka lagu ini dengan gumaman yang asik sekali. “O o o o ooo, o o o o ooo.”

Agak terkejut ketika mendengarkan versi albumnya, lagu ini ternyata bernuansa elektrik seperti pada Betapa (album Menentukan arah) dan Lapang Dada (album Musim Yang Baik) yang sudah lebih dulu saya dengarkan versi full-nya. Makin surprise dengan permainan cantik Efka yang mengisi suara elelcton di lagu ini. Saya selalu suka dengan permainan drum Brian saat pergantian tempo. Cepat dan mantap. Ini adalah lagu yang jadi favorit saya di album ini. Lagu inilah yang sanggup bikin saya goyang-goyang bahu sepanjang mendengarkannya. Beat drumnya bikin kaki goyang tak henti-henti.

Saya langsung hapal bagian reff-nya sejak pertama kali mendengarnya. Suka sekali dengan pesan yang tersurat di liriknya. “Hidup penuh dengan kejutan, ada alasan mengapa kita diciptakan.” Sepertinya, setelah Adam, Duta juga punya potensi bagus untuk menciptakan lirik-lirik bertema sosial, seperti pada lagu Uluran Tangan di Album Kita untuk Mereka.

Rupanya, selain terbiasa menggunakan kata “hebat”, SO7 juga makin terbiasa memakai kata “bernyanyi”. Coba tebak, lagu apa saja yang menggunakan kata-kata itu?

04. Canggung

Ini adalah lagu baru mereka yang pertama kali saya dengarkan secara live. Ketika mendengarnya, saya langsung suka pada beat bass drum Brian di awal lagu. Jari jemari saya tak henti-hentinya mengetuk-ngetuk permukaan meja untuk menirukannya.

Pada awalnya, saya tak begitu setuju dengan sebagian besar pendapat SG bahwa lagu ini adalah lanjutan dari “Dan” yang fenomenal itu. Saya menilai bahwa lagu “Dan” itu memang sudah selesai, tak ada lagi sequel-nya. Tapi ternyata, si pencipta lagu ini hanya kembali terinspirasi pada seseorang yang dulu merupakan sumber inspirasinya ketika menciptakan lagu “Dan”. Okelah. So far, saya bisa menerima. Karena terkadang di kalangan SG ada semacam “gengsi” dan ke-“sotoy”-an, bahwa mereka sendirilah yang tahu banyak tentang SO7. Seperti saya. Hahaha …

Tapi saya menilai Eross sangat berhasil mengangkat sebuah tema sederhana pada lagu ini. Lagu ini secara jujur memang menggambarkan bagaimana canggungnya seorang laki-laki ketika bertemu dengan mantan kekasih ataupun orang-orang yang pernah spesial di hati mereka. “Ya, kau masih sama … cantik seperti dulu.” Aih, kenapa jadi mellow gini. *Sialan!*

Lagu ini secara moral mengangkat kepercayaan diri seorang laki-laki di mata perempuan dan lantas tidak menurunkan tingkat harga diri perempuan di mata laki-laki. Lagu ini tak berpihak pada salah satunya. Itulah makna canggung sebenarnya. Hahaha …

Ah, belajar di mana sih kau, Mas, bikin lagunya. Gemes akunya.

05. My Lovely

Pertama kali tahu judul lagu ini dan mendengarkan sepotong lirik pada verse pertama, saya sudah bisa menebak bahwa pencipta lagu ini adalah Adam. Bukan kebetulan pula saya tahu bahwa Adam juga menamai salah satu anaknya dengan Lovely. Lagu ini sekaligus meneruskan tradisi SO7 membuat lagu dengan memuat nama orang di judulnya, semacam Ibu Linda & Lia Lia Lia (keduanya ada di album Menentukan Arah), serta Khaylila’s Song (album Pejantan Tangguh) dan si fenomenal Sephia (album Kisah Klasik untuk Masa Depan).

Saya sudah bisa membayangkan bagaimana suasana dalam lagu ini. Di luar sedang turun hujan. Adam hanya duduk di dekat jendela, memperhatikan anak-anaknya yang sedang riang bermain hujan, tanpa ada keinginan untuk mengganggu keseruan anak-anaknya sambil terus mendoakan kebaikan bagi mereka.

Lagu ini ringan dan sederhana, persis seperti lagu Jalan Keluar (album Menentukan Arah) dan juga Perfect Time (album Berlayar). Meskipun sederhana, baik dari segi lirik dan isian musiknya, lagu ini menyimpan makna yang dalam. Bisa jadi memang Adam sedang menasihati anaknya sambil bersenandung, mengingatkan akan masa depan yang menanti mereka.

Saya jadi suka lagu ini karena saya punya impian yang jauh sebelum saya tahu ada lagu ini di MYB. Impian saya adalah, jika saya punya anak perempuan, saya ingin menamainya dengan Lovely, dan merasa bahagia sekali SO7 membuatkan lagu ini untuk saya meskipun anaknya belum ada. Hahaha *lebay*

Benar, saya ingin melekatkan sedikit dari beberapa nama yang pernah SO7 sebutkan dalam lagu-lagunya di nama anak saya nanti. Setidaknya saya nanti bisa menyenandungkan semangat buat anak-anak saya dengan lagu-lagu yang berjudul nama-nama mereka.

Sungguh, ini merupakan nikmat yang tiada tara. Saya bisa mendapatkan lagu dari SO7 tanpa memintanya. Hahaha …. *ditimpuk simbal*

06. Beruntungnya Aku

Ya, sesuai dengan judul lagunya, saya sangat merasa beruntung mendapatkan lagu ini. Lagu ini kembali mengingatkan saya pada awal-awal pernikahan dengan istri saya. Enam bulan yang penuh dengan terpaan hujan dan badai, diganggu serombongan paus berwarna biru, lalu terlempar ke planet yang isinya cuma ada batu, gunting, dan kertas. *halah, apa coba!*

Saya adalah tipe orang yang pemalu untuk mengakui kesalahan dan membisikkan kata-kata untuk merayu wanita. Saya jadi merasa terwakili dengan adanya lagu ini. Kalo dia ngambek lagi, tinggal saya putar lagu ini, terus saya tinggal pergi. Hahaha ….

Dari awal mendengarkan lagu ini, irama blues dari permainan Eross begitu kentara. Apalagi permainan keyboard Efka yang sangat mendayu-dayu. Saya jadi teringat pada saat Eross perform di sebuah kafe kecil di Padang, menyanyikan lagu Little Wings-nya Jimmi Hendrix sambil berkolaborasi dengan musisi setempat. Janji Duta cs. untuk menyajikan bermacam-macam warna musik di album barunya terpenuhi, tanpa harus menghilangkan akar Sheilamusic darinya.

Secara lirik, lagu ini menjadi semacam sequel kalemnya Terima Kasih Bijaksana (album 07 Des). Hanya saja, dengan bijaknya Duta menambahkan kata, “Kita bukan makhluk sempurna, mendekati pun tidak …,” untuk menegaskan maksud dari lagu ini. Lagu ini secara dewasa menutup ke-slenge’an-nya mereka di Terima Kasih Bijaksana.

Lagu ini menjadi semacam pembuktian dari konsep 4-pieces yang mereka tawarkan di album ini. Di lagu ini, masing-masing personil (plus additional player) menunjukkan kepiawaian mereka secara total dalam mengolah lahan masing-masing. Lagu ini terasa lengkap.

07. Lapang Dada

Semenjak versi full-nya sudah bisa dibeli di toko-toko online atau didengar gratis melalui aplikasi tertentu di smartphone, saya tak pernah alpa untuk memutarnya setiap hari. Istri saya pun dengan mudahnya menghapal bagian reff-nya karena sangat cocok disenandungkan ketika memasak di dapur, katanya. Hehehe …. Eross juga terdengar cukup mampu untuk menahan emosinya di lagu ini. Petikan-petikan gitarnya pas meskipun minimalis.

Lagu ini juga menjadi semacam pembuktian selanjutnya dari konsep live yang ada di album ini. Bagian reff yang diisi secara rame-rame oleh seluruh personil band (ditambah duo Elang-Cakka dari TFT) membuat lagu ini terasa sangat live. Saya sudah bisa membayangkan ketika lagu ini dibawakan di atas penggung, maka seketika suara Duta akan tergantikan oleh koor massal dari para “backup singer” of SO7 (istilah bagi para SG).

Saya kadang merasa bahwa Eross adalah seorang penyair. Dalam dunia kepuisian, sebuah puisi akan terlepas dari tanggung jawab penulisnya ketika sudah berada di tangan pembaca. Apapun yang akan orang lakukan terhadap puisi itu, si penulis tak akan ikut campur, alih-alih menjelaskan apa maksud dari puisi tersebut. Biar pembaca sendiri yang menilai.

Nah, Eross pun melakukan hal serupa. Meskipun sudah santer terdengar bahwa lagu ini terinspirasi dari hubungan tiga generasi Eross dengan bapak dan juga anaknya, El Pitu, namun Eross tak mau berkomentar panjang lebar untuk menjelaskannya. Bahkan dalam video klipnya, konsepnya sangat jauh berbeda dengan asumsi awal lagu ini. Kata Eross, “Saya sengaja tidak memberitahu pembuat videonya, biar dia sendiri yang menafsirkannya.” Lagi pula Eross bukan tipe selebrita yang suka mengumbar urusan pribadinya ke khalayak ramai. *Joss, dab!*

Tapi, meskipun begitu saya sempat menjadikan lagu ini sebagai soundtrack Hari Ayah Sedunia pada 12 November lalu. Saya merasa, ini lagu pertama SO7 yang bertemakan bapak. Namun entah kenapa, saya merasa lagu ini terlalu pendek. Terlalu sayang untuk cepat selesai.

08. Belum

Saya sempat merasa kaget ketika mendengar potongan lagu ini di preview 30 detiknya. Ini lagu aneh sekali. Yang lebih mengagetkan lagi, ternyata lagu ini diciptakan oleh sang vokalis. Padahal, biasanya orang yang bertanggung jawab atas lirik-lirik “liar” semacam ini adalah sang pembetot bass. Rupanya mereka berdua sudah semacam “sehati” dalam menciptakan lagu.😀

Keanehan pada awal lagu ini mendadak sirna ketika sudah memasuki reff-nya. Lagu yang awalnya terkesan sendu, sedih, dan cenderung monoton, mendadak tegar. Raungan gitar Eross dan intonasi Duta yang meninggi menandakan ini bukan lagu cengeng. Mungkin kita harus mendengarkan lagu ini secara utuh untuk bisa menikmati makna di dalamnya. Tak ada lagi penyesalan dari nafas terengah, perut mual bukan di waktunya, motor tak menyala, dan beban ton menimpa.

Kata “belum” pada lagu ini merupakan kunci pada lagu ini. Kata belum diulang-ulang berkali-kali mendekati reff. Gampangnya, lebih mudah menggunakan “belum bisa” daripada “tidak bisa”. Kata “belum” cukup mewakili untuk kita bisa belajar lagi, berbuat lagi dengan lebih baik. Dan itulah maksud di lagu ini. Jangan pernah menyerah pada percobaan-percobaan yang kita lakukan dalam hidup ini.

Saya membayangkan lagu ini bercerita tentang seseorang yang baru saja melamar pujaan hatinya, namun jawaban yang dia terima tidak sesuai harapan. Kata-kata ajaib “belum karena tak mau tergesa” dan “indah di waktunya” membuat emosi dalam lagu ini kembali naik. Selalu ada kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya. Fighting spirit! Mendadak saya jadi ingat masa lalu. *halah*

Yang saya suka di lagu ini adalah suara-suara ketukan jari Efka pada tuts-tuts keyboard. Mengingatkan saya pada lagu Ingin Pulang (album 507). Hanya saja, saya agak terganggu dengan sedikit suara Duta yang mencoba mengambil nada tinggi dengan suara dari tenggorokan pada bagian reff kedua. Seperti agak tercekik. Agak kurang mulus. Selebihnya, kamu oke banget. *kalo aku sih, iyes!*

Lagu ini juga bikin saya kembali berdecak heran, “Bisa juga mereka bikin lagu kayak gini!”

09. Musim Yang Baik

Lagu ini seperti mengulang tempo pada lagu Berlayar Denganku (album Berlayar). Dan memang, saya merasakan bahwa ini adalah benang merah dari album-album sebelumnya, Menentukan Arah – Berlayar – Musim Yang Baik. Ada kesamaan. Lagu ini semakin mengukuhkan tujuan dari berlayar di album sebelumnya. Ini adalah musim yang baik.

Bedanya dengan Berlayar, lagu ini direkam dengan rampung hingga permainan selesai. Mungkin ini akibat dari konsep album yang dibuat semirip mungkin dengan live performance-nya. Saya memang sempat menyayangkan efek fade out pada lagu Berlayar karena bukan hanya saya yang merasa kecewa permainan cantik Eross dipotong tak sampai tujuan. Atau mungkin lagu itu memang sengaja dibuat belum selesai. Akan ada kelanjutannya. Perjalanan baru saja dimulai. Dan di lagu Musim Yang Baik inilah semua kekecewaan itu terbayarkan.

Yang membuat lagu ini semakin menjadi pertanda musim yang baik adalah bagian coda yang diisi dengan ajakan Duta untuk menirukan teriakan “Go! Go! Go!”-nya. Saya pun dengan semangat dan senang hati menirukan teriakan Duta ini ketika mendengarkan lagunya. Seolah SO7 sedang mengajak para pendengar setianya untuk terus berlayar.

Saya hanya agak geleng-geleng kepala, bisa-bisanya beat reff lagu ini cocok disepadankan dengan gerak lari di tempat seperti yang sering Duta lakukan ketika menyanyikan lagu ini secara live tanpa membuat kita ngos-ngosan. Temponya pas. Sampling brass di bagian reff-nya mengingatkan saya pada lagu Arah (album Menentukan Arah).

Eross menutup lagu ini dengan raungan gitar yang terdengar sangat liar. Saya jadi ingat side project-nya Eross di jagostu yang berjudul mirip, Gostu!. Rasanya ada kemiripan energi di sana. *sotoy ah*

10. Sampai Jumpa

Lagu ini, sesuai judulnya, menjadi penutup yang manis di album ini. Diformat akustik seperti yang pernah mereka lakukan di lagu Yang Terlewatkan (album Menentukan Arah) dan Kamus Hidupku (album Berlayar). Saya suka sekali dengan bunyi triangle di akhir-akhir reff-nya, sangat vintage dan oldiest. Kentara pop-nya. Mereka juga dengan sengaja menambahkan efek gesekan seperti suara gramophone pada saat merekam lagu ini untuk menambah kesan klasik. Saya sempat membayangkan Duta cs akan bermain di sebuah stage yang tak begitu luas dengan penonton yang tak begitu ramai, memainkan lagu ini dengan syahdu. Seperti yang pernah saya bayangkan ketika mendengarkan lagu Kamus Hidupku versi demo di album Berlayar.

Ada satu kebahagiaan yang saya rasakan dengan hadirnya lagu Sampai Jumpa ini. Dulu saya sangat suka sekali mendengarkan lagu Selimut Hati-nya Dewa 19. Ketukan drum dan akustikannya asyik. Kali ini saya bisa menikmati permainan semacam itu di lagu SO7.

Lagu ini juga kerap dinobatkan sebagai lagu perpisahan SO7 dengan label yang sudah menaungi mereka selama 16 tahun berkarya dengan kontrak delapan album. SO7 sepertinya sudah sangat siap untuk menapakai jalan baru mereka dengan keyakinan penuh. Bahwa musim yang baik ini adalah awal mereka untuk berlayar dan bereksplorasi lebih jauh lagi tanpa harus dibatasi oleh keinginan label dan selera pasar. Mereka ingin bebas dan merdeka, menjadi seniman seutuhnya. Tipikal khas Wong Jogja.

Lagu ini sangat kentara jika harus main tebak-tebakan siapa penciptanya. Saya dapat dengan mudah menebak siapa yang bertanggung jawab atas lagu ini. Saya berkesimpulan seperti ini setelah mendengarkan reff di lagu ini. Cara Adam menyebut Tuhannya berbeda dengan yang pernah Eross lakukan di Hari Bersamanya (album Berlayar). Adam dengan lirihnya menyebut, “Tuhan yang aku cinta”.

Yaa, saya tidak mungkin ngasal berkesimpulan seperti ini. Saya sempat membaca profil mereka di waktu awal-awal kemunculan mereka dulu. Terlepas dari unsur SARA, Adam pernah mengaku bahwa sewaktu mencicipi kuliah dulu, nilai yang paling tinggi hanya pada mata kulaih Agama dan Bahasa Inggris. Lagipula, Adam dipanggil Abi oleh anak-anaknya (dan juga para sheilagank) dan Arimbi adalah istri satu-satunya yang berjilbab di antara para pendamping hidup personil SO7 yang lainnya. CMIIMW

Epilog

Dan akhirnya, ini merupakan konsep album yang manis tapi juga berisiko tinggi. Bisa jadi Sheilagank yang sudah terbiasa dengan lagu-lagu SO7 sebelumnya menjadi asing dengan lagu-lagu di album ini. Tapi dari sekian komentar yang saya pantau di grup mereka, sepertinya mereka fine-fine aja. Rasanya SO7 juga tak terlalu khawatir akan kehilangan pendengar setia.

SO7 sudah memasuki masa di mana pendahulunya, GIGI, sudah menjalaninya. Mereka akan berjalan dengan sebenar-benar BEDA, Brian-Eross-Duta-Adam, tanpa bayang-bayang Sakti ataupun yang lain. SO7 sudah dewasa dan siap dengan segala risiko dari apa yang mereka akan perbuat.

Mungkin mereka sudah tak butuh perkenalan. Mereka juga tak butuh popularitas. Yang mereka butuhkan sekarang hanyalah kemerdekaan berkesenian, berkarya. Lantas, melebarkan sayap, membuat sesuatu yang kelak akan membuat publik tercengang-cengang. Hahaha. Sok okeh banget gueh.

Btw, selamat kepada Mas-Mas BEDA atas Musim Yang Baik ini. Terima Kasih, Bijaksana! Semoga apapun itu, kalian tetap ter-mmuuach di hati.

14 thoughts on “Musim Yang Baik : Sebuah Kejujuran Baru Sheila On 7

  1. Thx buat support, waktu & pemikirannya. Saya rasa baru kamu yg bs memikirkan detil sampai arti makna triangle di akhir sampai jumpa.

    Mengenai triangle:
    Bukannya kita semua terbiasa dan selalu bahagia atau tiba2 segar saat mendengar suara seperti bel/ triangle disaat bel pulang sekolah? Semua melalui tahap itu saya yakin. Hanya kadang kita tdk sadar kalau hal kecil itu kita bawa terus sampai tua.
    Semoga suara triangle ini membuat kita bahagia, tiba2 segar dan semangat, segera bersiap utk menjalani kisah2 baru setelah di musim yg baik.
    Sesemangat kita beres2 buku masuk ke tas saat bel pulang berbunyi 😉 cheers!

    • alhamdulillah.
      kembali kasih, Mas. sebuah penghormatan bisa dikunjungi salah satu punggawa SO7. ikut komen pula.😀

      saya cuma bisa berkontribusi seperti ini. saya selalu percaya bahwa segala bebunyian dalam lagu-lagu SO7 tidak pernah untuk “tidak sengaja” dimasukkan. semua punya makna.

      jalan terus!

  2. @rhinoy_ says:

    Baru kali ini gua baca artikel sampe merinding… mantab ulasannya..

    Bener kata mas brian detail abis…

    I’m sheilagank jabodetabek..!

    • kalau beneran merinding, liat kiri-kanan, Mbak… jangan jangan adaaaa…..😀

      terimakasih udah mampir. blog kamu keren juga.😉

      salam kenal. i am sheilagank apa saja dan di mana saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s