Bapak Parenting

edit wisuda_tiga (298)-001

Bapak tidak pernah membaca buku-buku parenting. Bapak tidak pernah tahu apa itu positive parenting, smart pareting, hingga screaming parenting. Tapi, secara alamiah Bapak telah belajar dan mempraktikkan bagaimana menjadi seorang parent yang penting. Bapak selalu bisa memanfaatkan waktu bersama saya. Entah itu dipaksa oleh keadaan ataupun atas kesadaran sendiri.

Sewaktu saya kecil, Bapak jarang di rumah. Bapak lebih sering keluar masuk hutan sebagai buruh kasar penebang pohon. Saat itulah waktu banyak saya habiskan dengan Ibu saya. Ikatan yang timbul tentu saja adalah sangat emosional. Saya sangat dekat dengan sosok ibu dan tergolong manja.

Namun, selalu saja ada momen “father’s time” yang terjadi antara saya dengan Bapak, entah itu membantu (atau lebih tepatnya mengacaukan) pekerjaannya; membersihkan mesin chain saw sepulang Bapak dari hutan, atau mencari kayu bakar di tepi hutan yang sudah dibuka untuk keperluan lahan perkebunan kelapa sawit. Hal semacam ini yang kemudian juga memunculkan ikatan emosional saya dengan Bapak, meskipun tak seintim dan sehangat dengan Ibu. Saya merasa penting di mata keduanya.

Hingga ketika saya mempunyai seorang istri yang (alhamdulillah) sangat mengerti bagaimana itu parenting, barulah saya mengerti apa arti istilah-istilah pening yang saya sebutkan di awal tadi. Secara alamiah, saya pun belajar dari Bapak saya bagaimana nantinya menjadi seorang ayah.

“Aku ingin anakku nanti tidak hanya mempunyai kecenderungan pada satu pihak saja, baik itu kepada ibunya atau ayahnya saja. Aku ingin anakku nanti merasa penting memiliki kedua orang tuanya. Jadi, nanti ada mother’s time, atau father’s time biar nanti dia mempunyai ikatan emosional dan batin yang kuat kepada kedua orang tuanya,” begitu kira-kira bunyi diskusi panjang saya bersama istri di suatu malam yang agak hangat.

Jadi, kualitas menjadi orang tua itu memang panjang prosesnya. Ada kalanya proses itu mengabaikan yang namanya pendidikan. Pengalaman yang mengajarkan itu semua. Biarpun di awal-awal sudah mempersiapkan diri, dengan membaca banyak buku tentang parenting misalnya, namun waktu akan membuktikan seberapa matang kita untuk menjadi orang tua.

Bukankah mempersiapkan di awal-awal perjalanan juga tidak ada buruknya. Sehingga, setidaknya, jika terjadi masalah di perjalanan, kita sudah siap dan paham dengan tindakan yang akan kita lakukan selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s