Lapang Dada ala Sheila On 7

10250057_991167160898370_609367712204209707_n

Sheila on 7 baru saja merilis single terbarunya yang diputar serentak di 100 kota, tepatnya di 280 stasiun radio di seluruh Indonesia. Setelah penantian yang begitu lama (oleh band dan sheilagank), akhirnya kuping penikmat musik Indonesia bisa kembali mendengarkan senandung ajaib milik band sejuta copy, sang legenda dari Kota Gudeg, Yogyakarta.

Beberapa waktu lalu saya mencoba browsing di internet, mencoba mencari-cari, barangkali sudah ada yang menuliskan review atas lagu ini. Ya, biasanya saya suka sekali membaca-baca komentar orang-orang mengenai band yang satu ini. Tapi, berhubung belum ketemu, akhirnya saya punya inisiatif untuk memulainya. Hohoho

Lapang Dada, itulah judul lagu terbaru yang rilis seminggu yang lalu. Lagu yang kelak akan ada di album kedelapan sekaligus album terakhir mereka bersama Sony Music Entertainment, Musim Yang Baik. Lagu yang sudah kerap Sheila on 7 bawakan secara live saat manggung. Namun tetap saja, sheilagank (fans Sheila on 7) dibuat takjub oleh lagu ini. Termasuk saya.

Ketika awal mendengarkan,

saya merasa agak kurang puas karena musik yang diusung Sheila on 7 kali ini seolah mundur ke belakang. Inovasi yang mereka tawarkan kali ini adalah basic track. Kata Eross begitu. Jika dulu Sheila on 7 bisa memainkan basic track dengan lima orang (double guitar), kali ini pun mereka ingin mencoba memainkan musik dengan anggota empat orang. Musik asli yang dimainkan oleh empat orang ini. Seperti yang sudah pernah mereka coba di album Menentukan Arah.

Pada awalnya saya menginginkan musik Sheila on 7 yang ramai semacam album 07 Des atau Pejantan Tangguh. Saya pikir, pembukaan permainan ciamik di album Berlayar akan mengawali era mereka kembali bermain musik yang ‘ramai’. But it’s okay. Saya bisa memakluminya ketika para personil Sheila on 7 membeberkan rencana mereka ke depan. Musik mereka kali ini hanyalah sebagai perkenalan sebelum mereka kembali ‘menggila’ di album-album selanjutnya. Mereka tidak ingin mengulang shock effect dari 07 Des ke Pejantan Tangguh. Masa main-main itu sudah lewat. Sekarang mulai untuk memikirkan progres musik dengan serius.

Ah, intronya kepanjangan. Dan sepertinya saya pun mulai ngaco dan sok tahu. Hehehe.

Setelah beberapa kali mendengarkan lagu ini via rekaman jelek dari radio, dan akhirnya bisa mendengarkan lagu aslinya, saya mulai berpikiran lain. Dalam sebuah wawancara Eross memaparkan bahwa lagu ini dia ciptakan untuk ayah dan anak lelakinya. Lagu tiga generasi, begitu katanya.

Dan karena saya tidak begitu paham musik (makanya saya suka sekali membaca review musik tentang Sheila on 7), maka saya hanya tertarik untuk membahas liriknya saja. Seperti (mungkin) sudah diketahui, Eross mempunyai kemampuan untuk menciptakan lirik yang biasa namun tak lantas menjadi picisan. Lirik yang penuh makna. Seperti itu pula yang saya rasakan ketika mendengar lagu Lapang Dada ini.

Entah kenapa pula (mungkin kebetulan), lagu ini dirilis mendekati sebuah tanggal yang kemudian sering diperingati sebagai Hari Ayah Internasional.

Di awal lagu, Duta menyanyikan lagu ini dengan penuh rasa galau. Bayangan orang-orang yang begitu dicintai melintas begitu saja, namun sangat sulit untuk disentuh. Seperti melihat seseorang yang begitu dekat dengan kita, tapi sedang berada di dalam sebuah kotak kaca. Sama sekali tak bisa disentuh.

Bagian reff lagu ini yang sengaja diisi oleh seluruh personil band. Di sini menarik. Seolah seluruh personil atau digambarkan sebagai sebagian suara baik di luar sana menyarankan si aku agar berlapang dada. “Tidak usah terlalu khawatir, kami ada di sini bersamamu.” Sebuah dorongan moral yang sangat manis. Sehingga akhirnya si aku dalam lagu ini menyadari sesuatu, apa yang akan terjadi di masa datang tidak pernah bisa kita ketahui.
Nah, pada bagian akhir, Eross dengan cerdiknya menyelipkan sebaris kata pamungkas yang makin menjelaskan dan menguatkan bahwa lagu ini dia buat untuk lelaki-lelaki hebat yang begitu dicintainya, ayah dan anaknya.

”… mengirim cahaya untukmu.”

Sebaris lirik itu mungkin sangat sederhana, tapi tak bisa dibilang bahwa lirik itu hanyalah penutup lagu seperti kebiasaan mereka terdahulu, misal dalam lagu Sebuah Kisah Klasik.

Dalam pemahaman Islam, doa seorang anak yang sholeh akan dikirim oleh Sang Pencipta dan disampaikan kepada orang tua yang didoakannya dalam bentuk sebuah cahaya. Eross mampu menyelipkan sebuah pesan agamis yang kuat, namun sangat halus. Tidak menggurui.

Dan dalam penggalan lirik tersebut Eross ingin memberitahu ayahnya (dan juga kita semua) bahwa dia begitu mencintai bapaknya sehingga tak pernah putus ia mendoakannya.

Selain itu, dia juga ingin memberikan cahaya kepada anaknya agar nanti El (nama anak Eross) tidak memiliki masa kelam seperti dirinya (yang selalu dia sebut sebagai sebuah penyesalan). Jadi, sebaris lirik sakti itu bisa bermakna ganda. Itulah Eross, itulah Sheila on 7.

Yah, itu tadi mungkin review goblok-goblokan yang saya buat. Apapun itu, saya hanya ingin menyampaikan rasa hormat dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada band ini karena telah menemani hari-hari selama kurang lebih lima belas tahun ini.

Meski saya bukanlah seorang sheilagank yang terdaftar resmi dan punya kartu anggota, biarlah saya menjadi penikmat lagu-lagu mereka tanpa harus terikat sebuah rasa tendensius dan kefanatikan. Saya tetap Sheilagank.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s