Lagu Anti-Mainstream

Dalam beberapa bulan belakangan ini, saya agak dikejutkan dengan hadirnya lagu-lagu yang anti-mainstream, alias keluar dari jalur yang seharusnya. Bukan hanya racikan musik yang kadang dicampuraduk, suguhan lirik yang membuat kita melongo, atau tampilan VK yang ‘gak kepikiran’.

Kemudian saya menaruh perhatian pada dua lagu yang baru dan ‘agak lama’ rilis di tengah-tengah belantika musik Indonesia yang masih galau, antara ancaman pembajakan yang ‘na’uzubillah’, belum lagi munculnya banyak musisi dan penyanyi abal-abal, yang asal bisa ‘mendesah’ dan ‘bergoyang’, utawa metik senar-senar standar, mereka udah langsung tenar.

Lagu pertama adalah “Terlatih Patah hati”. Lagu yang dibawakan oleh The Rain (band asal Jogja) yang berkolaborasi dengan Endank Soekamti (rekan beda genre).

Lagu ini, biarpun bercerita tentang patah hati, tapi lantas tidak menye-menye dan loyo. Memang, tema yang mereka usung berlawanan arus dengan kebanyakan lagu ‘patah hati’ yang banyak beredar. Band Nidji pernah membuat lagu “Sang Mantan” yang mendayu-dayu dan menyayat hati. Sakit teriris sepi/ saat kau menjauh pergi// Irama sendu makin menambah ‘sayatan-sayatan’ dalam lagu ini. Mana janji manismu?//

Bahkan, Sheila On 7 sendiri pun pernah membuat lagu bertema sama. Meskipun Sheila On 7 menyuguhkannya dengan rada songong dan diberi bumbu Move On. Percayalah, kau tak aku sesali/ di sini tak lagi jadi rumahmu// Meskipun begitu, aroma galau masih terasa dalam permainan beat yang pelan dan  balutan string yang menambah bumbu patah hati. Apalagi ekspresi para personil Sheila On 7 dalam video klipnya, semuanya cemberut dan tampak tak begitu bersemangat. Galau bingits.

The Rain dan Endank Soekamti sukses membawakan lagu bertemakan patah hati dengan riang gembira dan tanpa hambatan. Suguhan lirik dalam lagu ini benar-benar beda.

terima kasih kalian/ barisan para mantan/ dan semua yang pergi/ tanpa sempat aku miliki/

tak pernah aku sesali/ hanya membuatku s’makin terlatih patah hati//

Sama sekali tidak ada aroma galau dalam lagu ini, justru mereka berterima kasih kepada para ‘mantan’ yang semakin membuat mereka terlatih disakiti, terlatih patah hati. Video Klipnya pun dibuat dengan rasa riang gembira. Semua model dalam VK ini tersenyum, bercanda, bahkan tertawa. Semuanya galau-galau bergembira.

Lagu kedua adalah single milik Tulus, “Jangan Cintai Aku Apa Adanya” dari album terbarunya, “Gajah”. Rada aneh memang. Dari nama albumnya saja kita sudah ‘mengernyitkan’ dahi. Apa hubungan binatang darat terbesar itu dengan mencintai?

Jangan cintai aku apa adanya/ jangan …/ tuntutlah sesuatu/ biar kita jalan ke depan//

Lagu ini menjadi semacam perwakilan dari kegelisahan orang-orang yang telah atau sedang menjalani suatu hubungan yang ‘itu-itu saja’. Ibarat berjalan, kita berjalan di atas threadmill, kita di situ-situ saja. Tidak maju, bahkan cenderung mundur jika kita memutuskan untuk beristirahat atau berhenti berjalan.

Tentu saja lagu ini terasa njomplang ketika disandingkan dengan lagu Once yang berjanji akan mencintai apa adanya, mencintai kekurangan, dan rela terluka untuk kekasihnya. Nyatanya, Tulus meraba kegelisahan itu.

Okelah. Mungkin lagu Once ini berlaku untuk sebuah hubungan yang … misalnya, menikah, pekerjaan bagus, punya anak, dan karir yang bagus. Tidak ada persoalan hidup yang mendera. Semua berjalan apa adanya. Tapi, dalam realita, ada pihak-pihak yang merasa bahwa hidup nyaman seperti itu tidaklah menyenangkan. Bergelimang harta, punya suami ganteng, tapi hidupnya itu-itu saja.

Itulah mengapa, orang penasaran sekali ingin naik roller coaster dan wahana-wahana lain yang menantang. Karena pada dasarnya manusia menyukai tantangan, menyukai perjuangan. Dari awal diciptakan saja dia sudah berjuang, balapan antar sel sperma. Mau lahir ke dunia pun harus berjuang, ada tantangan besar.

Nah, lagu Tulus ini rasanya bisa menjawab kegelisahan beberapa pihak yang menginginkan ada ‘warna lain’ dalam hidupnya. Tuntutlah sesuatu, katanya.

Bagaimana dengan Anda? Setuju dengan dua lagu di atas?!

Harus!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s