Reso(ul)nansi

Padang kemilau cahaya raya

Ini kali kesekian, Ning,  ketika taman-taman kembali memetakan jejak-jejak daun yang luruh berjatuhan, embun di alas rumput, dan pucuk-pucuk cemara terayun dimainkan angin.

Batu-batu kali bercerita tentang air yang kadang keruh, kadang riuh. Geliat seluang menari-nari menyambut langit biru nan tiada noktah. Lautan merupa angkasa, tempat awan-awan berlayar menujumu, wahai semesta, membawakan air paling manis yang akan menyegarkan pilumu hingga kapan pun jua.

Ada yang bergelombang, Ning, selain rambut ikalmu dan senyum kembang mayang, kulit kuning langsat dan bangir hidung lancipmu.

Kabut-kabut merupa suluk, khalwat subuh dan takzim lantunan dzikirmu, menggema hingga ke pucuk. Rekah kulit batang akasia, mengukir sejarah tentang percintaan api dan udara, memusing rengkuh. Pelukku lepuh.

 

Panggilkan aku namamu, Ning, di senja merah darah, resah menanti rebah. Peraduan basah. Air matamu mengombak hingga samudera. Lalu pecah di batu.

Kemudi memainkan layar, terkembang ditiup bayu. Bau asin dan pekat keringat malam, lambai daun kelapa, hangat-hangat unggun yang kau nyalakan di tungku dekat tempat biasa engkau membaca buku. Buku harian yang sengaja kutinggalkan di bangku taman ketika itu.

 

Ludahkan sedikit kata-kata, Ning, puaskan hausku. Dahaga ragu tak pernah seriuh ini. Mencekat akal dan kadang memberangus logika.

Pilihkan kain paling halus yang engkau punya, lilitkan di kepalaku. Agar aku tahu bahwa tak pernah ada yang selembut angin malam. Jangan salahkan kilat-kilat yang menyambar lamunmu. Ia hanya ingin memotret kegelisahanmu, membaginya dengan seluruh penghuni kahyangan, mengobati rabukmu, lalu mengeringkan tangismu di sepertiganya.

 

Tuntaskan tumbuh tunasmu, Ning, seiring lantunan adzan memecah pagi, menyapa gemericik basuhmu di tepi surau.

Derap-derap kantuk yang membasah di lantai, sudut-sudut remang tempat pesta pora nyamuk, dan tirai-tirai yang memisahkan tawa kita dari tangis. Shaf ini adalah barisan doa yang kerap kutitipkan kepada Jibril, agar suatu ketika disampaikannya saja padamu di tepi jendela, tempat daun jambu dan mawar merah kerap membangunkan tidurmu.

 

Sekali saja, Ning, sekali saja. Lantunkan paraumu yang  paling merdu. Kita akan membahasnya dhuha nanti, ketika tombak tak mampu lagi mengukur seberapa tinggi angkuh matahari.

Kirimkan syair paling syahdu dari degup jantungmu. Kita akan samakan irama, entah itu 2/4 ataukah 4/4. Yang pasti, kita akan mencipta lagu yang sama, rindu yang sama. Seperti kita selalu malu-malu saat menyadari perlombaan kita tak pernah kita akhiri dengan kekalahan. Kitalah pemenang, kitalah sang juara.

 

Lihatlah isi hatiku, Ning, seperti engkau pernah melihat aku diam-diam dari balik kacamatamu. Kacu merah, lilit syal biru, dan pelukan di kala rusuh mulai datang, dan aku-kamu kian rapuh.

Genggamlah segenap pertengkaran kita, penanda bahwa kita akan selalu menjadi rumah yang kukuh, tempat yang nyaman untuk saling bersandar, menikmati secangkir teh hangat dan rebusan ubi, setelah semua badai meratakan ego, curiga, benci, dendam, dan cemburu.

 

Selamat malam, Ning, selamat tidur. Jangan pernah mimpikan aku jika engkau sama sekali tak merindukanku.

Aku adalah rima dalam setiap puisimu. Aku adalah diksi yang tak pernah salah engkau pilih. Aku adalah baris dalam setiap bait-bait keyakinanmu. Aku adalah puisimu. Puisiku adalah dirimu. Kitalah makna salam setiap kata, setiap rasa. Kitalah rupa dalam setiap aksara. Kitalah rindu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s