Nyawa Pungutan

Pernah dengar istilah ‘nyawa pungutan’? wow sekali kalau sudah pernah, karena saya baru mendengar istilah tersebut baru-baru ini. Ternyata, tak hanya anak dan sampah yang bisa dipungut, tapi nyawa juga bisa.

Istilah nyawa pungutan ini muncul karena sebuah keadaan, sepasang orang tua muda yang baru saja punya anak, kemudian anak tersebut sakit-sakitan hingga dirasa tak ada lagi harapan hidupnya, lalu sembuh dengan ajaib. Nah, seolah si anak ini memungut nyawa — yang entah di entah berentah — yang kemudian dia pakai sebagai nyawanya sendiri.

Suatu cerita, lahirlah seorang bocah dari sepasang orang tua muda yang baru setahun menikah. Sebagai orang tua, tentu mereka senang telah dikaruniai seorang anak di dunia ini sebagai ‘tombo ati’, ‘pelipur lara’, belahan jantuang sibiran tulang’, atau apalah namanya. Begitulah, betapa bahagianya setiap orang tua ketika dikaruniai anak.

Dan si bayi itu pun kemudian hanya menangis saja, tak mau menyusu hingga sebelas hari lamanya. Selain karena ASI dari ibunya belum bisa dikonsumsi, tidak diketahui pasti apa penyebabnya. Si ayah pun bingung setengah mati melihat anaknya hampir mati karena tak mengonsumsi apapun setelah lahir.

Sebagai inisiatif,

diberikanlah cairan gula kepada si bayi hingga beberapa hari lamanya. Akibatnya, suara si bayi pun berangsur hilang karena cairan gula tadi. Tangisnya pun hanya semacam desahan, tapi sangat memilukan. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya melihat bayi menangis tapi nyaris tanpa suara. Hingga hari kesebelas, kondisi si bayi sudah hampir mengenaskan. Istilah tanaman, sudah layu. Mungkin kalau di rumah sakit sudah ditempeli bermacam-macam infus atau segala macamlah. Karena ya itu tadi, hampir tak ada makanan lain yang masuk ke tubuhnya selain cairan gula yang perlahan mengikis suaranya.

Akhirnya setelah hari kesebelas, si bayi mendapatkan ibu susuan hingga beberapa hari ibu kandungnya mampu menyusuinya. Si bapak masih tetap panik bagaimana memberikan asupan tambahan kepada si bayi agar kondisi tubuhnya segera pulih. Dia pun bersepeda sejauh ratusan kilometer hanya untuk mendapatkan sekaleng susu formula, yang akhirnya susu itu pun sia-sia karena yang dia beli adalah susu MILO untuk remaja. Alhasil, si bayi pun diare.

Hari berganti, bulan berlalu. Kondisi bayi mungil nan lucu tadi berangsur membaik, meskipun keadaannya tak sepenuhnya baik. Si bayi tadi selalu sakit-sakitan. Seminggu sakit, seminggu sembuh, begitu seterusnya hingga usianya hampir mencapai satu tahun. Hingga ketika usianya tepat satu tahun, si bocah mengalami demam panas yang tidak biasa. Meskipun bukan demam tinggi yang bisa membuat lumpuh atau terkena stroke ringan, tapi tentu saja hal tersebut membuat khawatir orang-orang, apalagi orang tua kandungnya.

Puncaknya, ketika badan si bocah itu panas, namun separuh dari kedua lengan dan kakinya terasa dingin seperti es, apalagi lengan dan kaki itu pun sudah lemas tak bertenaga layaknya anggota tubuh yang sudah tak bernyawa lagi. Ibu si anak sudah kelewat panik dan pasrah seandainya memang anaknya harus di ambil saat itu juga. Ayahnya terus berdoa sambil terus mengurut lengan dan kaki anaknya yang begitu dingin itu.

Perlahan hawa panas mulai menjalari kedua lengan dan kaki si bocah dan kondisinya berangsur pulih dan hangat. Kedua lengan dan kakinya pun sudah bisa digerakkan lagi. Nah, dari cerita itulah kemudian lahir istilah ‘nyawa pungutan’. Tapi ini bukan sekadar cerita, saya mendengar langsung dari sumber aslinya. Jadi, ini memang benar-benar terjadi.

Seperti layaknya anak-anak yang ketika bayinya pernah mengalami sakit parah, atau minimal pernah sakit melebihi sewajarnya sakit seorang bayi, biasanya seorang anak akan tumbuh agak berbeda dengan anak lainnya. Mereka akan cenderung tumbuh dengan kondisi tubuh yang … mungkin tak bisa disebut ‘ringkih’, namun juga tak sekuat anak-anak yang tumbuh ‘wajar’ sedari kecil. Bisa jadi memang tubuhnya yang ringkih atau antibodinya yang ringkih meski tubuhnya terlihat sehat dan kuat. Paling tidak, sepanjang pertumbuhannya akan mengalami sakit yang lebih sering atau mudah menderita sakit.

Yah, dari cerita inilah kemudian saya tahu apa itu istilah ‘nyawa pungutan’. Bagaimana dengan anda?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s