Because of You(r)self

15239boomerangPernah mendengar teori bumerang-nya suku aborigin? Yah, gampangnya itu yang akan kita jadikan sebagai contoh dalam tulisan kali ini. Maknanya kurang lebih adalah apa yang kita perbuat akan berbalik pada diri kita sendiri.

Tentu kita pernah merasa (atau melakukannya), bahwa pada suatu saat, kita akan begitu tergesa ketika menghadap Allah, dalam artian: shalat. Mungkin karena pekerjaan atau kesibukan lain yang seolah membuat shalat hanyalah sesuatu yang harus kita selesaikan dengan cepat agar pekerjaan tersebut bisa segera kita lanjutkan. Saya juga pernah. Dan semoga apa yang saya rasakan juga anda rasakan, bahwa ketika kita begitu tergesa dalam shalat, maka perasaan kita pun menyuruh kita agar bersegera menyelesaikannya.

Padahal,

ketika kita merasa santai dan thuma’ninah dalam shalat, maka perasaan kita pun akan tenteram. Shalat kita begitu nyaman, tidak tergesa, dan kita tidak akan menyadari telah berapa lama kita shalat. Pun ketika berzikir, semua berjalan begitu saja. tahu-tahu sudah sampai di penghujung ibadah.

Setelah saya pikir-pikir, ternyata memang benar teori sebab akibat di atas itu. Ketika kita tergesa menghadap Allah, maka perasaan kita pun menuntut kita agar bersegera. Hal ini menjadi semacam ‘perintah’ dari ‘bukan otak’ yang menyuruh anggota tubuh dan perasaan kita agar cepat-cepat saja menyelesaikan shalat.

Mungkin saja hal ini juga berkaitan dengan salah satu hadits qudsi berikut, “Aku adalah seperti prasangka hamba-Ku.”

Ketika kita berprasangka baik, menjalankan ibadah shalat dengan baik, maka Allah pun akan berbuat baik pula pada kita. Ketika berdiri, Allah akan menopang kita dengan tegak, ketika rukuk Allah mengusap punggung kita, ketika sujud pun Allah mengusap kepala kita dengan penuh ke-Maharahim-Nya. Saat itulah kita merasakan bahwa Allah begitu dekat dan membuat kita ingin berlama-lama menghadap-Nya.

Yah, bisa juga kita analogikan seperti seorang anak ingin meminta sesuatu kepada orang tuanya. Jika si anak meminta dengan cepat dan tergesa, serta tidak jelas maunya apa, mungkin orang tua tersebut akan menganggap anaknya hanya main-main saja. Tapi, ketika si anak meminta dengan lembut dan tidak tergesa, tutur kata dan tingkah laku yang baik, maka orang tua pun akan mendengarkan dengan penuh perhatian. Dan, mungkin saja permintaan si anak akan dikabulkan orang tuanya.

Hmm, semoga kita bisa semakin bijak mengambil pelajaran dari setiap kejadian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s