We should’nt call ourselves: ‘hamba’

Terkadang kita lebih nyaman menggunakan kata ‘hamba’ ketika berkomunikasi dengan tuhan, entah itu ketika mengadu ataupun saat meminta sesuatu, atau ketika kita bersedekah. Seolah, kata ‘hamba’ itu telah mewakili segenap kerendahan kita di mata tuhan.

hamba-allahTapi, sesungguhnya tak seharusnya kita menggunakan kata ‘hamba’ di depan tuhan, hanya Allah-lah yang berhak menggunakan kata ‘hamba’ kepada semua ciptaan-Nya. Seperti telah Allah sebutkan dalam QS 51:56, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Konsekuensi sebuah kata ‘hamba’ tentu juga menuntut sikap dan perbuatan yang sebanding kepada ‘tuan’-nya. Lantas, sudah sejauh mana kita telah bersikap dan berbuat di saat kita memposisikan diri kita sebagai ‘hamba’. Sebagai seorang ‘hamba’ tentu kita sudah sangat paham atas hal-hal apa yang telah dilarang ‘tuan’ kita, serta hal-hal apa saja yang disuruh dan disukai ‘tuan’ kita.

Jadi, tidak etis rasanya ketika kita menyebut ‘hamba’ tapi kelakuan kita sama sekali tidak mencerminkan seorang hamba; yang patuh, yang taat, dan tidak membangkang.

Maka, mulailah mengukur diri, sudah patutkah kita menyebut diri kita: ‘hamba’ Allah. (?)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s