Creating an “Unrespecting Generation”

Foto0590Kini, hampir di segala penjuru kampus sudah ‘ditempeli’ sebuah boks yang berisi perangkat wifi. Perangkat ini hampir bisa dipastikan hidup 24 jam. Semua bebas mengakses internet, sepuasnya. Pagi, siang, malam.

Dampak positifnya mungkin bagus, mahasiswa jadi melek internet. Semua jadi melek gadget. Ke mana-mana menenteng netbook, ipad, smartphone. Semua senang. Yang menjerit adalah para orang tua yang setidaknya harus merogoh kocek lebih dalam agar anaknya ‘melek’ dan tidak dikatain ‘katro’.😀

Ada satu hal yang saya perhatikan dari sini, berkaitan dengan perilaku mahasiswa terhadap perubahan gaya hidup seperti ini. Salah satu hal yang mendapat dampak paling serius adalah budaya diskusi.

Diskusi bisa diartikan sebuah pertemuan tepat bertukar pikiran. Biasanya akan membahas suatu masalah yang sengaja dikemukakan. Hal ini tentu menuntut sebuah keseriusan anggota diskusi agar diskusi bisa berjalan lancar dan tetap fokus.

Dulu, ketika era ponsel merajai, saya sudah merasakan sebuah gangguan kecil. Anggota diskusi bisa bebas ber-SMS ria atau keluar masuk ruangan diskusi untuk menjawab telepon yang masuk. Imbasnya, tentu saja rapat atau diskusi menjadi tidak fokus. Kemudian berkembang menjadi era ponsel dengan fitur akses internet. Yah, gangguannya tentu semakin bertambah. Tak pelak kadang peserta diskusi hanya asyik ber-facebook ria atau berkicau di Twitter, bahkan ada yang nonton film selama rapat berlangsung. Sungguh, tak banyak hal produktif yang bisa kita lakukan dengan notebook itu. Just fun.

Kini, era wifi di mana-mana. Mungkin kelihatan makin keren. Masing-masing bawa – minimal – notebook ketika diskusi. Keren memang. Tapi apa yang terjadi kemudian. Netbook dan saudara-saudaranya itu tidak untuk mencatat hal yang penting dalam diskusi, hanya dipakai untuk browsing, yang facebook-lah, LiveScore, situs bola, Youtube, dan sebagainya. “Mumpung gratis dan cepat,” katanya.

Suatu kali saya pernah menghadiri sebuah Mubes. Namanya musyawarah, tentu semua peserta akan berpikir keras untuk berpendapat lalu memutuskan sesuatu. Yang terjadi, presidium dicuekin karena masing-masing sibuk menatap layar laptop utawa netbook-nya, saling balas-balasan komentar, atau saling berbalas tweet. Lagi-lagi, “mumpung gratis.”

Hhh, menyedihkan. Ya, bisa saya katakan menyedihkan. Menurut saya, wifi gedungnya mestinya dimatikan saja karena memang tidak membantu apapun dalam mubes kali itu. Dan, jika keadaan ini berlanjut dan dibiarkan berlarut-larut, justru hanya akan melahirkan generasi-generasi abai. Generasi yang tidak fokus dan tidak punya perhatian.

Hasilnya, tentu saja. Mereka akan mengalami kesulitan fokus terhadap sesuatu karena terbiasa membagi perhatiannya ke beberapa hal. Hal ini bukan akan menambah kemampuan mereka karena mereka tak bisa dikatakan menguasai beberapa hal dalam satu waktu. Justru mereka tak mampu menguasai semuanya, bahkan fokus untuk satu hal saja mereka tak akan sanggup.

Kebiasaan seperti ini akan terus berlanjut meskipun tanpa perantara media internet. Terakhir saya mengikuti sebuah seminar kesehatan yang pesertanya adalah mahasiswa unyu alias mahasiswa tahun satu. Suasananya sudah bisa ditebak, hanya satu atau dua baris terdepan yang fokus, sisanya…. Di depan, pemateri menyampaikan materi, di belakang, peserta seminar sendiri. Ini mahasiswa lho. Bagusan mimpin rapat pemuda di kampung. Semua mengikuti, ikut bertanya, ikut protes, ikut sumbang ide. Bagus, itu tandanya mereka fokus, right! 

Generasi abai ini pun pada akhirnya akan melahirkan lagi yang namanya generasi latah. Apa pula itu? hhh … entahlah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s