Khutbah Mitigasi Bencana

IMG_0004aBeberapa waktu yang lalu, Gubernur Sumatera Barat mengeluarkan surat edaran yang mengimbau warga Kota Padang agar waspada akan ancaman gempa dan tsunami. Tak tanggung-tanggung, permintaan waspada ini berlangsung hingga sebulan ke depan, tepatnya sampai tanggal 30 Juni 2012.

Ini artinya (seperti kebiasaan warga pasca G30S) mereka akan hidup di bawah ancaman yang tertanam dalam pikiran mereka. Sebenarnya ini lebih parah dari sekadar ancaman, tapi pembunuhan berencana. Saya teringat tentang cerita tentang seekor tikus yang akan membunuh si raja hutan.

Cerita itu sudah agak lampau, tapi masih cukup membekas dalam pikiran saya. Tikus itu tidak melatih pasukan khusus atau mempersiapkan diri dengan berlatih sekeras-kerasnya. Dia hanya mendatangi si raja hutan dan bilang, “Dua minggu lagi aku akan membunuhmu.” Itu saja.

Setelah beberapa hari berlalu, dalam pikiran si raja hutan hanya ada perihal rencana pembunuhan oleh si tikus. Berhari-hari si raja hutan hanya memikirkan itu hingga kehilangan selera makan dan sedikit istirahat. Akhirnya perlahan tubuh si raja hutan pun kurus dan tak bertenaga. Hingga pada suatu hari si raja hutan ini mati dengan sendirinya. Tanpa ada campur tangan pedang atau sepasukan khusus nan terlatih.

Bukankah hal ini tak jauh beda dari imbauan gubernur tersebut? Bisa jadi. Apalagi jika keadaan berulang dan terakumulasi dalam waktu lama.

Efek lainnya tentu menjadi sebuah pelajaran yang sangat tidak berguna. Karena adanya imbauan tersebut, warga hanya akan siaga selama sebulan. Setelah merasa lewat tenggat waktu dan tidak ada bencana menghampiri, mereka akan berpikir telah lepas dari ancaman bencana. Padahal bencana itu tak mampu diramalkan kedatangannya, bisa datang kapan saja.

Sepenglihatan saya selama ini, cara apapun belum cukup ampuh untuk bisa mengatasi trauma warga. Beberapa gempa pernah terjadi dalam dua bulan terakhir dan ada dua gempa terasa cukup besar. Yang terjadi adalah hanyalah kepanikan warga. Jalan macet karena orang-orang hanya berpikir keselamatan diri sendiri. Warga berhamburan menuju daerah dataran tinggi, padahal itu hanya isu saja. bayangkan, baru sekadar isu.

Barangkali pula dalam sebulan penuh itu kegiatan warga Kota Padang akan diramaikan dengan acara istighasah, dzikir bersama, hingga memanjatkan doa tolak bala. Padahal, dalam Al Quran dan hadits tidak pernah diajarkan untuk memanjatkan doa tolak bala.

Jika kita baca kisah Nabi Nuh dalam Al Quran. Ketika Nabi Nuh diberi tahu oleh Allah bahwa dalam beberapa waktu ke depan akan terjadi bencana karena umatnya tak juga beriman, Nabi Nuh tidak diajarkan sebuah doa tolak bala, tetapi diajarkan sebuah metode mitigasi, yaitu membuat bahtera. Jika dikaitkan dengan pokok bahasa kita, hal ini bisa menunjukkan dan mengajarkan kepada kita bahwa mungkin bisa jadi dalam sebulan ini akan datang sebuah bencana, tetapi apakah kesiagaan itu harus berbatas waktu. Mengingat Kota Padang dan Sumatera Barat memang berada di jalur bencana, mulai dari gunung Merapi hingga ancaman gempa dan tsunami.

Saya jadi ingat jargon sebuah iklan bencana yang gencar dikampanyekan pasca gempa besar di Sumatera Barat beberapa waktu lalu, yaitu “Bukan Gempanya, Tapi Bangunannya.” Ya, sebuah kesiapan tentu bukan sekadar bangunan, tapi lebih kepada diri sendiri. Kesiapan mental menghadapi bencana.

Tapi, kemudian saya kembali berpikir lagi. Dari mana gubernur tadi tahu bahwa pada tanggal tersebut akan terjadi bencana. Jika memang informasinya berasal dari pihak Amerika yang diwakili oleh USGS, bisa jadi ada motif tersendiri di balik berita ancaman itu.

Ya, kita tahu bahwa beberapa gempa yang terjadi belakangan ini cenderung memiliki beberapa kesamaan. Misalnya, sebelum gempa terjadi sinyal telepon seluler tiba-tiba mati beberapa menit, padahal jika keadaan listrik mati pun selang lima detik kemudian sinyal GSM sudah kembali normal karena biasanya setiap BTS dibekali dengan genset.

Kemudian terjadi perubahan keadaan cuaca yang tidak lazim. Tanda-tanda yang mudah dikenali adalah pola awan yang tidak biasa. Jika setelah gempa terjadi tsunami, biasanya ketinggian air laut naik secara tidak biasa, mungkin ombak yang datang bisa saja terlalu tinggi, seperti kasus tsunami Aceh. Dan tanda terakhir yang bisa dikenali adalah kedalaman gempa. Kebanyakan gempa-gempa itu akan berpusat di kedalaman yang tidak jauh dari angka 10 km.

Jika tanda-tanda itu yang tampak, maka bisa jadi gempa-gempa yang terjadi itu adalah gempa buatan. Banyak orang (dan mungkin ada beberapa praktisi dan ahli) mengaitkan pola kejadian pra- dan pasca gempa ini dengan HAARP. HAARP adalah sebuah teknologi yang pada awalnya dibuat di Rusia, namun belakangan dikembangkan oleh Amerika Serikat. Teknologi ini mampu membuat sebuah perubahan iklim dan cuaca secara drastis, bahkan bisa membuat gempa dan tsunami.

Jika ingin tahu apa itu HAARP, klik tautan ini.

Yah, apapun yang akan terjadi, kita tetap harus waspada. Inilah prinsip tawakal, berusaha sekuat mungkin, lalu menyerahkan segala keputusan kepada Allah Yang Mahakuasa.

Wallahu ‘alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s