Dasar, Pendidikan!

DSC06578 Namanya pendidikan dasar, yang selanjutnya dalam aturan pendidikan Indonesia disebut sekolah dasar. Yang namanya sekolah dasar tentu saja menanamkan pendidikan dasar bagi seseorang – siswa tentunya, seperti moral, agama, tingkah laku, nilai dan norma dalam masyarakat.

Saya tak tahu kapan tepatnya ketika sistem itu kemudian berubah. Sekolah dasar tidak lagi menekankan pada pendidikan dasar, tetapi lebih pada pengajaran. Siswa terdidik dianggap tidak pintar. Hal ini dimulai dari dihapuskannya pendidikan pancasila, sedikitnya mata pelajaran agama, dan sedikitnya waktu bersosialisasi buat para siswa.

Suatu waktu saya pernah terkejut bukan main ketika adik saya – yang kala itu kelas V SD menyodorkan sebuah pertanyaan sekelas SMP. Katanya, itu soal sains. Alamak, sudah berubah pula nama mata pelajarannya! Lantas saya pun semakin penasaran dan mencoba menelusuri bagaimana sistem mata pelajaran sekolah dasar dengan bertanya pada guru di SD dekat rumah saya.

Benar saja, kelas I dan II SD sudah dikenalkan dengan IPA atau sains. Kelas V SD sudah harus les ini itu karena mata pelajaran yang sulit dan terkadang tidak sesuai dengan kapasitas guru yang belum ada regenerasi berarti sejak zaman saya SD dulu. Akhirnya, adik saya itu hanya punya waktu satu sampai dua jam untuk bermain karena sore harus ikut les lagi.

Efeknya mungkin memang terlihat, siswa itu kian terpihat pintar – tentu saja yang ‘bodoh’ kelihatan semakin ‘bodoh’. Tapi kian hari perangai anak-anak SD ini sudah tidak ketulungan. Mereka boleh dikatakan tidak memiliki perangai dan budi pekerti yang baik. Keadaan ini diperparah ketika orang tua mempercayakan begitu saja pendidikan anaknya kepada sekolah tempatnya belajar, sedang di rumah tidak diperhatikan lagi bagaimana anaknya harus belajar dari orang tuanya.

Saya lebih menyukai sistem pendidikan yang dulu. Yang mana kelas I dan II SD itu hanyalah perpanjangan dari TK – jika ada yang sempat TK, hanya sebagai arena sosialisasi sambil belajar membaca dan berhitung. Biarkan mereka bermain, itu saja kuncinya. Sembari ditanamkan moral-moral yang baik melalui pergaulan mereka. Kelas III SD dan seterusnya baru dikenalkan dengan ilmu-ilmu pasti, sosial, keterampilan, dan sebagainya. Baru kemudian ketika SMP dan SMA mereka diarahkan lagi bagi perkembangan kemampuan belajar mereka, sehingga guru-guru tidak perlu lagi harus pula berjibaku membekali mereka dengan moral yang baik, karena pendidikan dasar itu sudah mereka dapatkan ketika di sekolah dasar.

Jadi, jika sekarang masih ada yang mengeluhkan mengapa anak-anak SMP dan SMA sekarang cenderung tak berperangai baik, maka kita harus menilik kembali bagaimana sistem pendidikan dasar kita. Jika sekolah dasar hanya mempertimbangkan kemampuan intelejensia tanpa membekali dengan moral yang memadai, ya memang seperti itulah keadaannya.

Karena itu, saya setuju jika pendidikan pancasila itu diadakan kembali di sekolah dasar, kembalikan naluri kanak-kanak mereka yang memang saatnya untuk bermain sambil belajar, bukan harus berkutat dengan les-les yang membosankan. Hal ini tentu akan menuntut pula peran aktif orang tua dalam mengawasi dan membantu perkembangan kecerdasan anaknya.

Yah, bagaimanapun saya tetap mau bilang, tidak semua produk orde baru itu buruk.

5 thoughts on “Dasar, Pendidikan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s