Simfoni Bernada Pasi

Kepalaku berdenyut, nadanya A-A-A-A-A.

Sekali waktu denyutnya berubah, menjadi C-C-C

Tak berapa lama kembali ke A-A-A-A-A

Sekian detik kemudian berubah C-C-C

Setelah beberapa kali berdenyut, aku menjumpai sang dirigen. Ternyata dia yang menyusun tangga nada itu, berawal dari C, berakhir pada A.

Kepalaku berdenyut lagi, nadanya A-A-A-A-A

Sekali waktu denyutnya berganti, menjadi C-C-C

Tak berapa lama berulang lagi A-A-A-A-A

Sekian detik kemudian berganti C-C-C

Kulihat sang dirigen masih mengayunkan tongkatnya. Dia terpejam, tapi tangannya bergerak sesuka hati, berawal dari C, berakhir pada A.

Kepalaku berdenyut lagi. Biola dan cello saling bergesekan. Seruling dan terompet saling bertiupan. Simbal, stik, dan drum saling bertumbukan.

Simfoni ini terus saja berkumandang, kadang melengking, kadang menukik, kadang menyusup, kadang meruap.

Panggung masih bergema. Sang dirigen masih mengayunkan tongkat. Sihir pun datang.

Kepalaku terus saja berdenyut, dari A-A-A-A-A ke C-C-C.

Kepalaku terus saja berdenyut, baru kusadari syair lagu itu ternyata AKU CEMBURU.

Ah, betapa diriku sangat tidak mengerti apa yang diayunkan sang dirigen. Terlambat, mungkin saja. Tapi simfoni belum usai. Aku tak perlu berbicara dengan sang dirigen. Aku telah mengerti. Aku telah paham. Dan kepalaku berhenti berdenyut lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s