Tidak Ada Kesempatan Kedua (Bagian Satu)

Pendahuluan

Bagi sebagian orang, ada yang tidak percaya adanya kesempatan kedua. Ada pula yang terlalu mengagungkan ungkapan kesempatan takkan datang dua kali. Dan bagi saya pribadi, saya juga termasuk orang yang tidak percaya adanya kesempatan kedua, tapi percaya adanya kesempatan ketiga.

Hal itu bukan karena saya terlalu menggilai angka tiga, meskipun tak dapat dipungkiri dalam kehidupan saya selalu dikelilingi dengan angka tiga. Mau bukti? Boleh. Pertama, saya lahir tanggal dua bulan lima (dua kurang lima itu tiga). Kedua, saya masuk SD enam tahun (enam itu tiga tambah tiga), masuk SMP tiga tahun, dan di SMA juga tiga tahun. Tapi jangan tanyakan sewaktu kuliah, karena sudah lebih dari hitungan tiga. Hehehe…

Dan tulisan ini saya buat berkenaan dengan pengalaman pertama saya membuat SIM alias Surat Izin Mengemudi yang bahasa kerennya disebut Driving License. Saya rela menahan-nahan diri sejak beberapa minggu yang lalu untuk menuliskannya. Rasanya sudah gatal ini jari-jari untuk segera menari-nari di atas papan kunci komputer. Tapi berhubung baru tadi siang SIM-nya jadi, maka baru sekarang saya tulis…dan saya sajikan lengkap-lengkap mulai hari pertama.

Sebenarnya sudah lama sekali ingin membuat SIM lantaran mobilitas saya mengendarai sepeda motor di jalanan Kota Padang cukup tinggi. Meskipun sekadar mengantarkan cucu ibu kos sekolah, mengantar teman keliling Kota Padang, atau sekadar belanja di Ramayana. Yah, hitung-hitung untuk antisisapi, soalnya saya tak begitu paham jalan tikus dan kerap melalui jalan macan yang sering sekali jadi tempat mangkal tukang tilang.

“Apa hubungannya sama judul, Mas?” OK. Nanti kalian akan tahu, ada apa dengan kesempatan ketiga.

Hari 1

Akhirnya, dengan keberanian penuh, saya mendatangi markas polisi resort Kota Padang yang berada tepat di depan Lapangan Imam Bonjol, — lapangan rakyat. Saya masih ingat, hari itu tanggal 19 Maret, dan itu hari Senin. Saya lupa memperhitungkan satu hal, bahwa setiap kantor instansi pasti sibuk di hari Senin. Tak apalah, demi ongkos angkot yang telah saya bayar, saya rela menjalaninya. Lanjuuut…!

Trayek angkot hijau yang saya naiki tidak tepat berhenti di depan Polresta Padang. Karena itu harus berhenti dulu di depan Kantor Pos, lalu berjalan sekitar 200 meter ke kanan. Aslinya kompleks polresta berada di sebelah Kantor Pos, tapi lantaran jalannya harus memutar, jadi jauh deh.

Merasa sebagai orang baru (baru menyambangi markas polisi), saya berlagak bertanya kepada petugas jaga, di mana tempat membuat SIM. Eh, si bapak jawab pakai mulutnya, “Tuh…!” Gitu doang?! Et dah, tau gitu kagak usah nanya aja kali ye.

Saya tak lantas jadi galau karena perlakuan petugas jaga tadi. Saya pun berjalan memutar lagi, dan menemukan barisan bangku tunggu yang di depannya ada loket-loket kecil. Saya segera menuju di loket pendaftaran. Kebetulan yang jaga adalah petugas wanita, mmm…masih muda sih. Hehehe….

“Maaf, Pak. Ini bukan KTP Padang. Bapak tidak bisa buat SIM di sini.”

Jreng! Keringatanlah jidat saya. Dengan sikap defensif, saya balik nanya kepada mbak-mbak itu.

“Tapi temen saya kemarin bisa lho.” Si mbak tampak bingung. Tapi seolah telah terlatih menangani perihal mudah seperti ini, dia langsung memberikan solusi konkrit.

“Mahasiswa ya? Kartunya ada?”

OK. Si mbak memeriksa KTM saya yang hampir kadaluarsa itu. Disuruh fotokopi dan tes kesehatan. Setelah itu baru bisa menemuinya lagi. Aih, rasanya gimana gitu ketika si mbak bilang, “abis itu temui saya lagi ya.” Untung nggak sekalian dibilang, “temui juga bapak saya,” bisa galau saya.

“Untuk SIM-C, biayanya Rp100.000 ya, Pak?” kata si mbak itu setelah memeriksa semua kelengkapan pendaftaran yang saya sodorkan.

Well, setelah itu saya disuruh ke ruang ujian teori. Dan macam ujian akhir nasional, saya disuruh mengisi data dengan lengkap plus nama ibu. Saya masih belum tahu alasan apa di setiap pendaftaran yang berhubungan dengan pembuatan kartu-kartu harus mencantumkan nama ibu. Bahkan ada yang minta nama kecil ibu. Hayyah, mana saya nyaho! Saya lahir setelah ibu saya dewasa dan saya bukan titisan kakek buyut saya. Mana saya tau panggilan kecil ibu saya itu Menik atau Retno. Ckckck….

Setelah lengkap, saya dikasih soal sejumlah 30 buah yang terdiri dari pengetahuan dasar per-jalan-an, rambu-rambu lalulintas, dan isyarat polantas. Dan apa yang terjadi, saya gagal di tes pertama itu. Katanya jawaban saya cuma betul 19, minimal harus betul 21. Padahal baru kemarin saya tahu ujian teori ini hanya butuh betul 18 saja. Ketika ditanya, si bapak petugas itu bilang untuk kenaikan mutu ujian. Saya disuruh kembali minggu depan. Dan pulanglah saya dengan tangan hampa.

Hari itu panas sekali. Pukul 12 siang kurang sedikit. Rencana mampir ke PMI batal sudah, saya belum makan dan keterikan (ada gitu bahasa keterikan?) Mission uncompletted.

Bersambung ke Bagian Dua

One thought on “Tidak Ada Kesempatan Kedua (Bagian Satu)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s