Tidak Ada Kesempatan Kedua (Bagian Dua)

Hari 2

Seminggu kemudian saya datang lagi dengan semangat tak kalah membara dari udara Kota Padang siang itu. Nekat, padahal saya lagi flu berat. Pala pusing, idung mampet, leher sakit…, pilih nontonnye kite lagi. Eaaaaaa…!

Kali ini ada pengubahan trayek angkot hijau, yaitu angkot itu boleh melalui pasaraya, yang artinya dia akan melintasi jalan di depan Polresta Padang. Asik, saya nggak perlu jalan jauh lagi. Kali ini pun saya nggak lagi nanya-nanya sama bapak petugas jaga itu, sebel. Saya segera menuju ruang ujian teori yang minggu lalu tak meloloskan saya ke babak selanjutnya. “Emangnya ikut indonesian aidel, Mas?” Yeah, kali aja kan nasib saya lebih baik daripada Bagus Setiawan. Alhamdulillah.

Well, ternyata saya dikasih lagi lembar jawaban saya yang saya isi minggu lalu, yang tentunya ada contengan benar-salahnya ketika petugasnya memeriksa. Yap, saya tinggal mengganti dua jawaban salah menjadi jawaban benar, dan saya bisa langsung ujian praktik.

Awalnya saya membayangkan akan ujian praktik di lapangan, panas-panasan, dengan motor Win 100 seperti yang saya baca di blog kawan saya. Makanya sedari awal saya masuk markas polisi ini, kepala saya tak henti-henti memperhatikan (ingat ya, memperhatikan, bukan memerhatikan) halaman Polresta. Tak tampak arena ujian praktik, dan tempatnya sudah berubah jadi lapangan parkir. Jadi, di mana saya akan ujian praktik, Bapak…?*baring di perempatan

“Silakan Adi masuk ruangan di sebelah.”

Jreng. Ujian praktik di ruangan? Pake motor tiga roda? Nyamuk sini cuma takut sama Semen Padang, Pak.

Bukan. Bukan itu teman-teman. Ternyata kepolisian kita telah mengalami kemajuan. Sehingga ujian praktik yang penuh dengan adegan panas dan jatuh itu sudah diganti dengan simulator di ruangan ber-AC. Yang jaga polisi wanita yang cantik pula. Aih.

Kita hanya akan disuruh menaiki motor sejenis Mega Pro yang sudah didesain sedemikian rupa sehingga mirip wahana permainan di Timezone. Well, The Show Mas Gogon. Giliran saya menaiki motor-motoran itu. Ada enam bahan ujian, diantaranya yang paling terkenal adalah ujian angka delapan dan zig zag. Hmm….

Menurut sumber tepercaya yang saya baca, penggunaan simulator ini memiliki beberapa keunggulan, di antaranya adalah kekauratan hasil tes dan tes bisa dilakukan di ruangan tanpa terganggu oleh panas ataupun hujan. Tapi menurut saya, kelemahan dari simulator ini adalah bahwa gamers yang belum pernah atau belum bisa naik motor akan dengan mudah lulus ujian karena memang sehari-hari yang mereka hadapi adalah dunia virtual (apalagi yang sering ke Timezone). Sementara orang-orang yang telah biasa dan akrab dengan motor sungguhan, tentu akan mengalami kesulitan ketika ujian. Tapi itulah alat, ada keunggulan, tentu ada kelemahan. Sempurna itu hanya milik Allah dan Andra & The Backbone.

Kali ini saya gagal di ujian jembatan. Di layar simulasi, tampak ada sebuah jembatan kayu nan licin selebar 25 cm dengan panjang sekitar sepuluh meter, dan tanpa pembatas di kedua sisinya. Benar-benar seperti papan kayu yang direbahkan. Kita harus berhasil melaluinya dengan mulus agar lulus.

Berkali-kali saya terpeleset, jatuh, dan masuk jurang. Anehnya, saya masih bisa berdiri dan ujian tiga kali, walaupun sudah masuk jurang. Masih gagal juga. Polisi wanita yang menemani saya selama ujian di simulator memberikan saran agar datang lagi seminggu kemudian. Sempat terjadi tawar menawar. Dan akhirnya tercetuslah ‘hari Sabtu’ untuk saya bisa ikut ujian praktik lagi. Ya wis, saya pulang lagi. Kali ini pun gagal mampir ke PMI, kepala pening sudah.

Hari 3

Ini adalah hari penentuan. Saya sudah sangat siap sekali untuk mencoba game itu lagi. Ups, maksudnya naik simulator itu. Asli, berasa ketagihan naik simulator. Kalau aja dibuka penjualan koin, pasti laris manis.

Berbeda di dua hari sebelumnya, hari ini hujan. Awalnya hanya mendung, tak menyangka setiba di depan Kantor Pos hujan turun lebat. Setelah agak reda, segera saya menghampiri ruang praktik itu lagi. Mana ujan, becek, nggak ada ojek, rambutku lepek.

Jika di dua kesempatan sebelumnya saya langsung menuju loket pembuatan SIM, kali ini saya memutar dari jalan belakang untuk sekalian berteduh dari derasnya hujan. Ternyata memang benar-benar menjadi jalan ‘belakang’. Baru datang, saya sudah disambut antusias oleh seorang petugas yang lebih mirip tukang ketik di kantor desa.

“Mau apa? Bikin SIM ya?” saya mengangguk, “udah fotokopi KTP, sini sama saya saja. bla…bla…bla…”

Saya pikir dia juga seperti petugas di loket resmi, ternyata dia calo. Pas saya jelaskan saya udah ikut tes segala, dianya merengut. Jeh, gayanya boleh, ternyata…. Pake ngancem segala.

“Eh, kenapa kok pake tes-tes segala. Nanti nggak lulus-lulus, Dek, uangnya bisa hilang. Nembak aja biar cepat selesai.”

Yah, si bapak mah nggak tau ya, kita sebagai mahasiswa Un*** sudah terbiasa dengan ancaman-ancaman sekelas itu dari dosen dan pejabat kampus, lebih parah malah. So, nggak mempan atuh, Bapak. Mau ditilep juga nanggung, dapet apa uang seratus rebu dibagi tiga? Aya-aya wae.

Btw, makasih banget udah mau bantuin saya, Pak. Tapi sori banget, saya nggak suka main belakang. Apalagi ditembak dari belakang. Uuw, kata Mulan sakitnya bukan main, Bapak. Saya memang suka main tembak-tembakan, tapi apa kata dunia kalau saya bawa senjata api ke markas polisi yang mana saya bukanlah anggota polisi. Bisa mati kau, dimakan cacing kau!

Well, ruangan simulasi masih tutup. Tak ada tanda-tanda kehidupan, selain AC yang menyala dan gelas berisi seduhan kopi panas. Percuma tuh kopi dibikin anget-anget, bentaran juga dingin kena AC. Menunggu lagi. Untung saya bawa buku. Baca! Baca! Baca! Walaupun satu kalimat, batin saya menjerit.

Setengah jam kemudian, saya boleh ikut ujian praktik. Itu pun hanya karena saya ditegur karena keasyikan baca jadi nggak tahu petugasnya sudah datang.

Beuh. Ini ruangan dingin banget. Aneh sekali, AC tetap dibiarkan menyala sementara di luar hujan deras. Dingin kuadrat. Setelah komputer dinyalakan, segera nama saya dicari dalam daftar peserta ujian. Taram….! Nama saya masih ada.

Dan sama seperti sifat sebuah game yang lain, hasil ujian saya minggu lalu masih ter-save dengan baik dan tersisa dua rintangan lagi. Ayolah, pak. Cepat. Saya sudah tak sabar, batin saya mendesah. Et dah!

Pertama, adalah rintangan jembatan yang sempat membuat saya terpuruk di dasar klasemen sementara para pejuang SIM C. Apaan sih! Kali ini si bapak petugasnya baik sekali mengajarkan teknik menyetir di jembatan. Dan, saya lulus….untuk kelima kalinya. Kedua, adalah ujian sepele, hanya seputar jalan memutar dan kemampuan menggunakan rem tangan dan kaki.

“Cukup. Silakan turun.”

Yah, si bapak, nanggung, baru juga naek, setengah jam lagi ya! Koin saya saya masih banyak. *dezigh!

Bersamaan dengan turunnya saya dari motor-motoran itu, masuklah petugas wanita yang senin lalu menemani saya di ruang simulasi ini (yang dengan lugunya saya tak sampai hati melihat nama yang tercantum di dadanya). Yah, telat, Mbak. Tapi saya agak sedikit bahagia, ternyata petugas wanita itu masih mengingat saya, “Oooh, Adi.” katanya. Saya senyum, dia senyum. Hew, *gigitin jok motor

Hasil ujian saya segera dicetak dan saya disuruh menunggu di depan. Depan ini maksudnya adalah deretan bangku tunggu dengan tiga loket kecil di depannya. Nah, saya disuruh nunggu di situ. Udah ngeh? Lanjuuut…!

Baru habis satu halaman, nama saya segera dipanggil untuk pemotretan. Assiiik! Ternyata tak hanya foto, tapi juga scan sidik jari (4 jari, jempol, dan masing-masing jari dimulai dari kelingking secara berurutan), dan scan tanda tangan. Sembari itu petugasnya mengetik keterangan untuk dicetak di kartu SIM dengan sangat cepat. Salut sekali. Kalau semua petugas seperti bapak ini, pasti sangat keren. Selamat tinggal sebelas jari!

Setelah menunggu agak lima menit, kartu jadi, dan boleh saya bawa pulang. Yippiyay, akhirnya saya punya SIM C. Dan di sana tercatat saya masih MAHASISWA. Hahahaha…. Well, akhirnya saya punya SIM hanya dengan cepek ceng, dan tanpa main tembak-tembakan, apalagi main belakang. Dududududu….

Hingga tulisan ini sampai di sini, saya masih terus menatap kartu SIM yang masih gres itu. Setelah saya perhatikan, ternyata foto saya di sana lebih mirip gambar wajah saya-yang-sudah-ditolak-naskahnya-sepuluh-kali-oleh-penerbit. Acem banget.

Kesimpulan

So, terbukti kan bahwa masih ada kesempatan ketiga untuk saya. Masih nggak ngeh juga? Kembali ke Bagian Satu.

Sekian dan terima kasih.

One thought on “Tidak Ada Kesempatan Kedua (Bagian Dua)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s