Berpoloslah, Sebelum Anda Dipaksa Polos

sewa-piring-di-tangerang Beberapa hari ini, saya sedang teringat-ingat kejadian-kejadian polos yang pernah saya lakukan, baik dulu ketika masih unyu, ataupun ketika sudah mendadak kuyu. (Lho…?) Kepolosan-kepolosan yang tak tertanggungkan, yang ketika diingat kembali di masa sekarang akan membuat saya terkadang bersemu merah, bersemu ijo, atau mungkin bersemu biru. Bukan karena saya malu, tapi karena saya terlambat menyadari bahwa saya ternyata begitu lugu (lutung gunung).

Kepolosan pertama yang saya ingat adalah ketika kelas IV SD, saat mewakili SD tempat saya sekolah untuk lomba baris berbaris. Pada saat seleksi di SD tetangga, saya mengikuti semua aba-aba yang diberikan penguji. Hingga pada aba-aba ‘balik kiri’ pun saya ikuti. Saya tak pernah tahu jika balik kiri dalam aturan baris berbaris itu ada. Tapi itulah saya, berusaha mengikuti seleksi itu sepenuhnya, meski tanpa dukungan sekolah semestinya, tanpa persiapan sama sekali.

Kepolosan kedua, agak memalukan karena saya benar-benar kelihatan lugu di depan seorang perempuan. Waktu itu kelas V SD, saya kembali mewakili SD saya untuk olimpiade tingkat kabupaten. Lagi-lagi tanpa persiapan dari sekolah, bahkan saya harus ngojek hingga ke kecamatan bersama bapak saya, pakai uang sendiri. Hmm….

Dan saya kembali dengan polosnya menjawab semua pertanyaan dalam sebuah sesi tanya jawab secara langsung. Hingga ada soal yang seharusnya buat main-main, saya jawab dengans serius. Ketika saya ceritakan itu kepada pengawas kami sepulang dari lokasi lomba, ibu pengawas dan beberapa teman saya tertawa. Si perempuan cantik itu pun berkata, “Kamu kok polos banget, Di.” Yap, apa mau dikata, bola sudah bergulir. Tapi saat melihat dia tertawa, saya jadi bahagia. Hwehehe….

Kepolosan ketiga ketika kelas I SMP. Ketika saya masuk SMP, masih ada tradisi senior berkuasa sehingga anak kelas satu adalah martir paling ampuh buat mereka. Begitu pun saya yang berperawakan kurus-kecil-pucat mirip anak SD kelas V yang tak kebagian jatah suntik auksin. (Lah, emangnya saya tanaman?)

Waktu itu, ada teman sekelas saya yang menjadi incaran senior, tapi sayangnya perempuan ini masih sehat dan bisa membedakan mana murid SMP mana Buaya Taman Raja, sehingga terjadilah penolakan demi penolakan. Hingga, suatu hari saya memergoki si senior ini mengerjai tas teman saya itu. Saya pun dengan polosnya memberitahukan siapa orang yang telah mengerjai tasnya. Jadilah saya menjadi bulan-bulanan mereka selama satu semester. Untung saja mereka dikeluarkan dari sekolah dan dilepaskan ke habitat aslinya, sehingga saya kembali lapan-anam.

Dan berkali-kali kepolosan yang saya lakukan tanpa saya sadari, yang jika saya sadari kemudian selalu membuat saya tersapu-sapu malu. Hingga kemudian ketika saya tiba di bangku kuliah.

Betapa saya masih ingat ketika masih di asrama, saya pernah mengunjungi kamar teman saya yang baru saja pulang dari rumah sakit karena kecelakaan. Saya yang merapikan kaset-kaset Joe Satriani koleksinya yang berserakan di meja belajar sambil mengobrol santai dengannya. Yang akhirnya teman saya ini menjadi seorang pengadu domba dan sedikit demi sedikit mulai menjauhi saya. Saya membiarkannya.

Betapa saya ingat, saya yang sering merapikan kamar sahabat saya yang selalu berantakan karena dia teledornya minta ampun, plus kamarnya bau. Yang akhirnya dia menelikung dan menusuk saya dari belakang dengan merebut wanita yang saya cintai. Saya juga merelakannya.

Betapa saya ingat, saya yang menyelamatkan baju-baju teman sekamar saya saat dengan isengnya sebuah kerajaan semut hitam bersarang di lemari pakaiannya, saat teman saya itu sedang ke luar kota untuk magang. Dan hingga hari ini saya tetap berteman dengannya. Saya juga diam saja menikmatinya.

Sungguh, saya tak punya niat apa-apa ketika membagi cerita ‘polos’ ini kepada anda. Saya hanya ingin meyakinkan bahwa nikmatilah kepolosan anda. Karena, ketika anda polos, anda tak memiliki motivasi lain selain mengerahkan segenap pikiran anda, tenaga anda, dan potensi yang ada pada diri anda tanpa mengharap pamrih dan belas kasihan dari orang lain. Terlebih ketika kita bisa menyadari bahwa perbuatan kita semata-mata hanya untuk mengabdi kepada Allah, Tuhan kita.

Justru, ketika kepolosan itu sengaja kita tutupi dengan pupur tebal dan gincu atau topeng yang menyembunyikan, kita sama saja dengan menyembunyikan diri kita yang sebenarnya. Jadilah diri sendiri, di mana pun anda berada. Tapi, bukan berarti menjadi bertindak sesuka hati. Berbuatlah seperti yang hati anda katakan. Maka, niscaya kepolosan itu akan berbuah kebahagiaan. Kita bahagia bisa bermanfaat buat orang lain. Seperti kata Nabi, orang yang paling baik adalah orang yang bisa bermanfaat buat orang lain.

Selamat berpolos ria. Sebelum nanti kita ‘dipaksa’ polos di pengadilan akhirat untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita di dunia. Dan ingat, kepolosan itu berpahala. Kalau nanti anda ketagihan, itu di luar tanggung jawab saya.😀

One thought on “Berpoloslah, Sebelum Anda Dipaksa Polos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s