Katanya, Lebih Enak Sakit Hati daripada Sakit Gigi

Daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini…biar tak mengapa

Eh, malah keterusan. Maaf nih, siang-siang gini enaknya dengerin dangdutan sambil leyeh-leyeh. Padahal niatnya pingin bikin postingan tentang sakit hati.

Saya pernah sakit hati, makanya saya tidak setuju dengan syair lagu di atas. Buat saya, lebih baik sakit hati daripada sakit gigi. Karena, ketika sakit hati saya masih doyan makan dan intensitas tidur kian bertambah. Sementara, ketika sakit gigi, saya tak bisa makan enak dan yang enak-enak, serta tidur kadang kerap terganggu.

Nah, apalagi sakit hati karena cinta. Pengalaman sakit hati pertama kali adalah ketika SMA, saat cewek yang saya taksir menolak dengan cara paling halus, tapi menusuk.

“Kita temenan aja yah. Lagian aku lagi nunggu cowok yang udah setahun PDKT sama aku.”

Lah, apa bedanya sama saya. Saya juga udah hampir setahun mencuri perhatiannya. Tapi ya mau berbuat apa lagi, nasi telah menjadi bubur, dan bubur telah dimakan cacing. Mati kau!

 

Tapi, saya pikir itu wajar. Ketika kita jatuh cinta, maka ada hasrat ingin memiliki. Karena itulah timbul sakit hati ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Maka, nikmati sajalah itu sakit hati. Jangan katakan cinta tak harus memiliki, jika kalimat ini benar maka tak pernah ada sakit hati. Atau anda setuju dengan kalimat itu? Maka sakit hatilah. Percayalah, tak lebih sakit daripada sakit gigi.

Cinta bukanlah sebuah bentuk hubungan yang kerap diartikan sewenang-wenang menjadi ajang pacaran. Cinta bukanlah balas jasa yang kita harapkan ketika kita telah berkorban jiwa dan raga untuk sang kekasih. Cinta bukanlah sesuatu yang kita tunggu, tapi sesuatu yang harus kita beri.

Cinta itu universal, bisa untuk siapa saja. Dan percaya atau tidak, kita telah mempunyai cukup cinta untuk kita berikan kepada orang lain tanpa kita harus mengharap cinta dari orang lain.

Mmm, saya kutipkan satu kalimat sakti dari salah seorang motivator yang wajahnya sering tampil di TV, yaitu saat kita jatuh cinta itu, bukan bagaimana kita merasakan jatuh cinta itu pada seseorang, tetapi lebih pada mensyukuri perasaan bahwa kita akhirnya bisa jatuh cinta. Insya Allah kita tak akan merasa sakit hati lagi.

Super sekali, bukan!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s