Antara Hak dan Kewajiban

DSC00057Mulai awal bulan lalu kami memberlakukan sistem piket rumah yang baru. Selain terjadwal, kali ini diberlakukan sanksi denda bagi anggota yang saat kebagian jatah piket tapi tidak melaksanakannya. Tidak mahal memang, hanya beberapa ribu rupiah saja untuk sekali melalaikan piket.

Tujuan sanksi denda ini tentu saja bukan menakut-nakuti, hanya sekadar mengingatkan bahwa tugas piket ini biarpun sepele tapi sangat penting. Sepele karena tugasnya hanyalah menyapu lantai, mencuci piring, memasak nasi, dan membuang sampah. Penting karena jika tidak dilaksanakan satu hari saja, maka piring akan berserakan di dapur, gelas-gelas kotor, dan sampah tentu saja akan semakin menumpuk.

Awalnya berjalan lancar saja. Tapi, seperti kebiasaan orang Indonesia yang hangat-hangat tahi ayam, makin hari ada saja yang mangkir piket. Sehingga kadang teman lain yang ingin makan harus memasak nasi dulu plus mencuci piring dan gelas sendiri.

Jika mangkir karena sibuk atau baru pulang malam karena tugas kuliah, mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi terkadang ada yang nganggur atau santai-santai saja ketika di rumah namun tidak melaksanakan tugas piketnya.

Dan parahnya, mereka cenderung melalaikan kewajiban piket ini dan lebih memilih membayar denda saja. Na’udzubillah, saya sempat mengurut dada ketika mengetahuinya. Semudah itukah sebuah kewajiban digantikan dengan denda beberapa ribu rupiah saja.

Sadar atau tidak, tindakan melalaikan kewajiban bukan hanya mendapat dosa, tetapi juga menzalimi hak-hak orang lain. Bagaimana tidak, seharusnya teman kita yang lain bisa langsung menikmati sesuatu, tetapi harus pula bersusah payah di luar jatah piketnya.

Bagi saya pribadi, santai saja, tindakannya itu bisa saya maafkan atau saya maklumi. Tetapi, saya sudah menandai orang itu tidak bertanggung jawab atau mudah sekali lepas tangan terhadap sesuatu. Saya tidak bisa lagi percaya kepadanya. Itu saja.

Bayangkan, kewajiban seringan piket saja mudah sekali melalaikan, bagaimana nanti ketika ada tanggung jawab yang lebih besar lagi, semacam memiliki istri, mendapat pekerjaan, atau di sebuah kepanitiaan. Hmm, semoga cepat sadar ya, kawan.

Dari Abu Dzar Al-Ghifari ra dari Nabi SAW bersabda meriwayatkan firman Allah ‘azza wa jalla, berfirman, Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku mengharamkannya pula atas kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.”

Salah satu bentuk kezaliman terhadap orang lain adalah menyia-nyiakan atau tidak menunaikan hak orang lain yang wajib ditunaikan. Maka, berhati-hatilah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s