Segera Berbuat Baik Sebelum Menyesal di Ajal

Manfaat Sedekah, Keajaiban dan Nikmatnya

Jumat kali ini saya shalat di Sendik BRI, seperti biasanya, setelah beberapa minggu yang lalu sempat ketiduran dan bangun menjelang leg pertama dimulai, jadi saya menunaikan shalat Jumat di masjid dekat rumah.

Hari ini memang panas, tapi tak terlalu terik. Mungkin efek badai matahari masih belum pergi sepenuhnya. Sudah beberapa hari ini cuaca memang panas, bahkan saya tidur tak berselimut saking gerahnya.

Loh, kok malah membahas ini.

Oke, saya lanjutkan. Ketika saya berjalan kaki menuju masjid, yang letaknya di dalam kompleks Sendik BRI, saya mendengar percakapan tiga orang yang berjalan di depan saya. Kelihatannya mereka mahasiswa, sama seperti saya. Hehe…. Ini adalah pelajaran pertama yang saya dapat. Kalau tidak salah, satu dari tiga orang itu berkata, “Entah kenapa, setiap kali shalat Jumat, di mana pun masjidnya, selalu terasa adem.”

Kemudian, saya masuk ruangan masjid dan duduk di shaf kedua. Ini tempat favorit karena saya bisa memandang wajah khatibnya. Apalagi saya merasa mengantuk sekali, ketika duduk menunggu waktu Jumat masuk, saya sudah beberapa kali menguap.

Tibalah khatib naik ke atas mimbar. Hmm, sepertinya saya mengenal khatibnya. Saya sudah beberapa kali menyaksikan khutbahnya dan saya yakin saya tak akan tertidur kali ini. Benar saja, khatib satu ini memang bisa membawa suasana khutbah Jumat menjadi menarik. Khutbahnya diawali dengan sebuah kisah Nabi Saw dan para sahabatnya. Berikut saya kutip kisah tersebut (beda redaksi).

Suatu ketika, saat Nabi dan para sahabat sedang duduk-duduk di serambi masjid, muncullah seorang pemuda menaiki seekor kuda. Penampilan pemuda itu awut-awutan, mirip seperti preman. Pakaiannya lusuh dan dia sepertinya baru saja melakukan perjalanan jauh sebelum berhenti di hadapan Nabi dan para sahabat.

Lalu, tanpa salam dan basa-basi serta masih duduk di atas kudanya, pemuda tersebut setengah berteriak berkata “Hai, katakan kepadaku, apa ciri-ciri orang yang akan masuk syurga?” Mendengar gaya bicara seperti itu, sahabat Umar berdiri hendak memukul pemuda tersebut. Namun, Nabi menarik lengan Umar dan menyuruh Umar agar tenang dan duduk kembali. Lalu Nabi berjalan mendekati pemuda tersebut.

“Siapa nama anda?” tanya Nabi penuh kelembutan.

“Tak perlu tahu nama saya siapa. Katakan saja, apa ciri orang yang akan masuk syurga?”kata pemuda itu sambil tetap duduk di atas kudanya. Lalu Nabi kembali tersenyum dan kembali bertanya nama pemuda tersebut. Tapi pemuda itu tetap saja tidak mau mengatakan siapa namanya dan tetap ngotot agar Nabi menjawab pertanyaannya.

Kemudian Nabi mengulurkan tangan ke arah pemuda itu. Tak lama kemudian, pemuda itu menerima uluran tangan Nabi dan turun dari punggung kudanya.

“Siapa nama anda?” Nabi kembali bertanya.

“Nama saya Fajrul Khail.” kata pemuda itu tanpa tersenyum, bahkan setelah turun dari kudanya.

“Anda berasal dari mana?”tanya Nabi.

“Saya berasal dari desa pedalaman yang jauh dari sini.” jawab pemuda tersebut.

“Sebaiknya nama anda diganti saja, menjadi Fajrul Khair. Khair itu artinya baik, sedangkan Khail itu artinya kuda.” kata Nabi.

“Saya tak begitu masalah dengan nama saya. Cepat katakan, apa ciri orang yang akan masuk syurga!” jawab pemuda tersebut.

“Apa yang ada dalam pikiran anda ketika bangun tidur?” tanya Nabi kemudian.

“Ketika bangun tidur, saya hanya punya pikiran siapa lagi yang akan saya bantu dengan kuda ini.” jawab si pemuda dengan yakin. Nabi tersenyum, kemudian berkata.

“Itulah ciri orang yang akan masuk syurga. Sedangkan ciri orang yang akan masuk neraka adalah mereka memikirkan untuk menyakiti orang lain sejak bangun tidur.”

Demikian sang khatib mengakhiri kisah itu, lalu mengambil kesimpulan bahwa tidak selamanya tampilan fisik manusia itu sama dengan tampilan hatinya. Contohnya seperti kisah di atas.

Kemudian khatib memaparkan agar setiap tindakan kita di dunia ini selalu dialamatkan semata-mata karena Allah saja. Betapa segala kebaikan itu bertebaran di sekitar kita, tinggal kita mau atau tidak melakukannya. Kita tak pernah tahu batas umur kita sampai di mana, bisa jadi sepulang dari shalat Jumat ini kita sudah diantar lagi ke liang kubur. Jadi, jangan sampai kita dipanggil Allah ketika kita belum beramal sedikit pun. Lantas, kita meminta kepada Allah agar mengundur ajal kita dicabut agar kita bisa lebih banyak beramal, lebih banyak sedekah.

Berbuat baik itu ringan sekali, bahkan tersenyum kepada orang lain saja sudah dihitung sebagai pahala sedekah. Jadi, jangan tunda lagi untuk melakukan dan menebarkan kebaikan di sekitar kita.

Yah, itu tadi intisari khutbah yang mampu saya ingat dan saya tuliskan kembali. Segala kebenaran hanya milik Allah SWT.

Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s