Romantisme Eross Candra di album “Pejantan Tangguh”

1_900915528l Siapa yang tak tahu Eross Candra, gitaris Sheila On 7 ini telah menyita perhatian pecinta musik tanah air. Lagu-lagu ciptaannya selalu menjadi hits. Beberapa kemudian dinyanyikan oleh artis lain, diaransemen ulang, atau menjadi soundtrack sinetron dan film.

Kreatifitas Eross Candra memang patut diacungi jempol. Bukan hanya karena saya juga mengagumi sosok ini, tapi lebih pada kemampuan liriknya yang selalu bisa membuat pecinta musik Indonesia nyaman mendengarnya.

Dan kali ini, saya ingin memberikan apresiasi terhadap lagu-lagu ciptaan Eross Candra yang terdapat dalam album Pejantan Tangguh, dari segi liriknya saja menurut pandangan kepuitikan yang saya miliki. Pejantan Tangguh merupakan album keempat dari Sheila On 7. Pada album ini SO7 melakukan eksperimen terhadap musiknya, dimana banyak kita temukan beat-beat baru, sensasi brass section yang apik, ditambah dengan balutan suara Duta yang kian matang.

Dari segi lirik, saya menilai Eross makin puitis di album ini. Akhir-akhir ini saya suka sekali mendengarkan lagu-lagu SO7 di album Pejantan Tangguh ini. Selain karena saya sedang sakau menulis puisi, hitung-hitung untuk mengasah kemampuan puitik dengan mengapresiasi lirik lagu.

Saya tidak tahu pasti apakah lirik lagu bisa dikatakan sebagai puisi. Saya juga melihat banyak penyair yang beberapa puisinya dibuatkan musik, tidak sekedar untuk hal deklamasi saja, tapi sudah dilagukan. Diantaranya puisi Taufik Ismail yang baru-baru ini dinyanyikan oleh Iwan Fals, berjudul Aku menyayangimu.

Tapi menurut saya, suatu lirik lagu bisa dikatakan sebagai puisi jika memang memiliki unsur-unsur dalam puisi, seperti keindahan rima, pemilihan diksi, ataupun makna yang dapat dipetik darinya. Dan, dalam album Pejantan Tangguh milik SO7 ini saya menemukan kata-kata puitis yang sebelumnya belum pernah dibuat oleh Eross Candra.

Pertama, tentu saja Pejantan Tangguh. Frasa yang sempat diganti menjadi Pria Terhebat di Malaysia ini (yang kemudian jadi terasa aneh ketika dilafalkan) begitu memikat. Ditambah lagi dengan tambahan lirik yang sangat puitis, seperti menatap matahari pun aku tak mampu, udara malam pun terlalu menusuk langkahku.

Kemudian pada lagu Itu Aku, saya kembali menemukan barisan lirik puitis yang dibuat oleh Eross. Misalnya tahukan lagu yang kau suka, tahukan bintang yang kau sapa, tahukah rumah yang kau tuju, itu aku… terasa begitu romantis, yang pasti akan membuat perempuan yang mendengarnya akan tersanjung.

Rapalan ala rap vokal Duta di lagu Pemuja Rahasia pun tetap menampilkan barisan lirik-lirik puitis. Satu baris yang sangat saya suka adalah akulah orang yang selalu menaruh bunga di atas meja kerjamu. Di sini disiratkan sebuah penghargaan laki-laki kepada perempuan yang dikaguminya, sebuah perhatian yang tulus.

Sebuah anomali perumpamaan saya temukan di lagu Ketidakwaarasan Padaku dan Pendosa. Simak saja barisan lirik pada lagu Ketidakwarasan Padaku berikut ketidakwarasan padaku, membuat bayangmu slalu ada, menetramkan malamku, mendamaikan ridurku atau aku mulai nyaman berbicara pada dinding kamar. Penggambaran yang terbalik sebenarnya, bagaimana mungkin sebuah ketidakwarasan justru membuat kita nyaman. Tapi itulah sisi puitisnya. Lagu tentang laki-laki yang ditinggal pergi kekasihnya itu menjadi begitu manis ketika dibalut dengan lirik yang puitis dan tidak biasa.

Begitu pula di lagu Pendosa. Seorang kekasih bahkan diibaratkan sebagai sebuah keadaan berdosa. Simak lirik berikut akulah pendosa yang sedang menjalani hukuman, memikirkanmu kriminalku, akulah pendosa yang sedang menunggu kebebasan, menantimu kejahatanku. Lagu yang menyatakan penggambaran pikiran yang tersita karena mengangankan seseorang diumpamakan sebagai sebuah hukuman, kesalahan, atau bahkan pendosa tadi. Simak saja reffrain dari lagu ini, hati dan raga ini terlalu mengharapkanmu hingga kagum menjadi duri.

Kemudian lagu penutup di album ini, Khaylila. Lagu yang diperuntukkan untuk adik Eross Candra ini juga memuat sejumlah kata-kata puitis. Seperti dengan senyummu, senjata membeku, tentara bernyanyi, ikuti tingkahmu, tak ada lagi naluri menguasai, perlahan berganti…naluri berbagi. Di sini begitu jelas digambarkan kehadiran seorang anak kecil (atau katakanlah balita) dalam kehidupan kita bisa meluluhkan segenap ego diri kita. Diri kita yang wibawa, yang gagah berani akan luruh jika berhadapan dengan seorang anak kecil. Mungkin inilah perasaan Eross ketika berada bersama dengan adiknya itu.

Selain lagu-lagunya dalam album ini, saya tetap mengagumi sosok Eross Candra melalui karya-karyanya yang lain, semisal OST. Gie yang berjudul Gie dan Cahaya Bulan, sangat puitis. Sepertinya, Eross memang sangat memperhitungkan lirik yang dia buat sehingga terdengar pas, ditambah lagi dengan balutan musik SO7 yang segar dan nyaman untuk didengar semua kalangan. Saya sempat bengong ketika ayah saya sendiri pun ikut mengangguk-anggukkan kepala ketika mendengar beberapa lagu SO7. Jika tidak percaya, silakan dengarkan beberapa lagu yang saya rekomendasikan itu.

Di mata saya, Eross juga merupakan pencipta frasa yang unik dan kaya. Semisal dusta lelaki, pejantan tangguh, senjata membeku, bunga liar, jejak tuhan, terjamah yang lain, mencoba cintaku, dan sebagainya. Satu kata yang selalu saya cermati, dan itu sering dipakai Eross dalam lagu-lagunya, yaitu hebat.

Secara keseluruhan, saya katakan Eross memang pencipta lirik yang puitis, meskipun tak banyak diketahui apakah Eross juga menulis puisi. Yang pasti, lirik puitis plus racikan musik yang apik telah berhasil mendaratkan nama SO7 di hati pendengar dan penikmat musik di Indonesia.

One thought on “Romantisme Eross Candra di album “Pejantan Tangguh”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s