Khutbah Kosong

tidur jumat Gambarnya minjem dari sini.

Saya terbangun ketika hari nyaris masuk waktu dzuhur. Saya kembali tertidur setelah setengah hari ini badan saya terasa lemas sekali. Langsung saja saya menuju kamar mandi untuk membersihkan badan. Agak lega ketika marbut masjid mengatakan waktu shalat Jumat masuk tujuh menit lagi. Kali ini saya memilih masjid dekat rumah saja (yang mana masjid ini masih menganut dua kali adzan sebelum khutbah) dengan alasan agar tidak terlambat hadir shalat Jumat.

Alhamdulillah, saya masih sempat hadir di masjid sebelum khatib naik mimbar atau mulai berkhutbah. Itulah keuntungan tersendiri shalat Jumat di masjid ini karena setelah adzan pertama dan shalat qabliyah Jumat usai, khatib baru akan menaiki mimbar, setelah itu adzan satu kali lagi baru khatib memulai khutbahnya.

Ah, kok jadi ngomongin perihal ‘telat’ saya ini. Kan saya ingin mengulangi apa isi khutbah kali ini.

Jujur, untuk shalat Jumat kali ini saya hanya mendapatkan satu pelajaran, yaitu saya tidak mendapatkan apa-apa dari isi khutbah yang disampaikan. Itulah salah satu kelemahan masjid ini, khutbahnya kurang (atau malah jarang) up-to-date. Biasanya jabatan ini hanyalah hegemoni orang-orang yang berumur di atas 45 tahun. Kalau sudah begini, biasanya isi khutbah sangatlah hambar dan sulit ditarik benang merahnya. Isi khutbahnya mengambang. Padahal khutbah Jumat itu didesain untuk disampaikan dalam waktu singkat perihal sesuatu yang tengah terjadi di tengah-tengah umat. Sangat berbeda dengan ceramah biasa.

Lihat saja jamaahnya. Ada yang bengong, ada yang celingukan, ada yang diam-diam mencetin tombol HP, ada yang tidur memeluk lutut, ada pula yang sebentar-sebentar terjaga sambil menyeka sudut bibirnya. Mata mereka hanya akan nyalang dan kepala tegak ketika khatib mengatakan, “Faktabiru ya ulil abshar…,” yang menandakan khutbah pertama usai. Miris saya menyaksikan jamaah yang sebagian di isi oleh anak-anak muda, tetapi khutbahnya disampaikan ala orang lanjut usia.

Akhirnya saya tak hanya fokus pada khatib dan isi khutbahnya, tapi pikiran saya juga terpecah untuk memperhatikan tingkah para jamaah hari ini. Saya hanya bisa menangkat satu-dua kalimat khatib lantaran speaker masjid yang sember, entah karena pengerasnya yang uzur atau karena sang khatib terlalu dekat meletakkan bibirnya di mikrofon, padahal alat itu sangat sensitif, jarak 15 cm saja sudah bisa nyaman terdengar.

Khatib mengambil judul khutbah kali ini adalah tentang hijrah. Hijrah yang disampaikannya hanyalah perihal-perihal umum, bukan langkah nyata dari bentuk-bentuk hijrah itu di masa kini. Tidak mungkin rasanya mencekoki pikiran anak muda zaman sekarang (yang udah kelewat bebas) dengan doktrin-doktrin tua peninggalan tiga generasi di atas kita.

“Kita harus mengambil makna hijrah itu dengan meninggalkan segala apa yang dilarang-Nya dan mengerjakan apa yang disuruh-Nya.” kata sang khatib.

Saya rasa kalimat itu sudah pernah saya dengar dari saya kecil dulu. Kalimat itu terasa mengambang. Mengapa tidak disampaikan bentuk-bentuk hijrah itu seperti apa di era modern ini, lalu apa sih yang perlu ditinggalkan dan perlu dilakukan? Kasihan saya lihat pemuda di depan saya yang hanya celingukan melihat-lihat sudut pilar dan langit-langit masjid. Mungkin dalam pikirannya, Kali aja ada sarang burung walet di sana, bisa buat beli rokok sebatang.

Sudah sepatutnya isi khutbah itu disusun berdasarkan kondidi zaman, tidak melulu dari teks buku yang diterbitkan satu dekade lalu, bahkan ada yang terbitan zaman orde baru. Sudah saatnya khutbah itu dibuat sangat ringkas dan up-to-date. Itulah mengapa saya lebih suka shalat di Sendik BRI ketimbang masjid ini, biarpun saya harus jalan 15 menit ke sana, panas-panas pula. Karena di sana khatibnya pandai sekalu merangkai isi khutbah dengan kejadian terkini, jadi bisa saja nanti ada yang menyebut Anggodo Wijoyo, Barack Obama, bahkan David Beckham dalam khutbahnya. Mereka sadar dan paham bahwa mayoritas jamaah Jumat adalah mahasiswa, maka isinya pun juga dibuat ‘rasa’ mahasiswa. Kalaupun masih ada yang tertidur, itu kebangetan sekali jamaahnya.

Ketika saya akan berangkat tadi, saya sempat mengurut dada berkali-kali. Bisa-bisanya adzan sudah berkumandang, teman indekos saya ini baru akan mandi dan masih sempat-sempatnya bercanda ria. Atau mungkin dia sadar dan paham bahwa isi khutbahnya akan ‘itu-itu’ saja makanya dia hanya akan datang ketika shalat hampir didirikan. Miris sekali. Lebih miris lagi saya yang tak mampu berbuat apa-apa padanya. Dasar dia yang ngeyel sih. Padahal ketika dia di-SMS pacarnya suruh datang tanpa boleh telat, dia akan grasak-grusuk, takut kalau pacarnya ngambeg kalau dia datang telat. Bagaimana jika Allah yang ngambeg?

Hmm, entahlah saya dapat berkah Jumat kali ini atau tidak. Saya telah tidak fokus mendengarkan khutbah gara-gara memperhatikan tingkah jamaah. Tapi saya yakin, bahwa apapun yang saya dapatkan sepulang shalat Jumat itu, itulah berkah. Tinggal sepandai apa kita mengolah. Kita disuruh membaca, kita disuruh belajar, kita disuruh mengaji. Mengaji alam, mengaji bumi, mengaji semesta.

Seperti itulah pengibaratan Allah kepada hamba yang mau mengingat-Nya dalam keadaan berdiri, duduk, atau berbaring. Mengingat kebesaran Allah melalui ciptaan-ciptaan-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s