Anjing

Anjing ashabul kahfi part 2 Anjing itu baik. Manusialah yang membuatnya menjadi ‘anjing’. Manusia seenaknya saja memakainya dalam serapah. Mereka tak tahu bahwa kadang anjing yang kan datang memapah, kala kita terkapar kalah.

Anjing itu tak berdosa. Manusialah yang telah berdosa dengan memakai namanya. Lupakah kalian ada satu anjing yang telah mendapat jaminan masuk syurga? Mengapa harus anjing yang menjadi ‘penunjuk jalan’ kepada ashabul kahfi dalam upaya penyelamatannya? Sedang kalian, jangankan jaminan, perbuatan kita mungkin belum pantas untuk mendapatkan jaminan syurga.

Beragam cerita pun telah menyatakan bahwa anjing bisa diibaratkan sebagai pernjelmaan malaikat. Bagaimana seorang pelacur bisa mendapat kartu pass masuk syurga hanya karena memberi minum anjing yang kehausan. Lalu ada seorang muallaf yang bisa langsung masuk syurga lantaran dia meninggal sebelum sampai ke tempat tujuannya karena makanannya dia berikan kepada anjing yang kelaparan.

mbakyu (2) Kalian tentu tak percaya mendengar cerita ini sewaktu kakak saya mendaki gunung. Di tengah perjalanan muncullah seekor anjing yang tampak letih karena kelaparan dan kehausan. Anjing itu tampak gemuk sehat, wajahnya teduh sekali, tapi langkahnya gontai setelah mengikuti para pendaki menyusuri track pendakian.

Tiada yang mau memberi makan dan minum, bahkan justru mencaci itu anjing. kecuali beberapa orang, termasuk kakak saya. Dia berikan separuh jatah makan dan minumnya kepada anjing itu. Anjing itu bahkan tidak mencakar dan menggigitnya karena kelaparan, justru berterima kasih karena telah memberinya makan dan minum. Anjing itu raib ketika mereka turun gunung dan bertemu pantai. Siapa dia? Wujudnya memang seekkor anjing, tapi siapa tahu jika dia jelmaan malaikat. Wallaahu ‘alam.

Di antara semua hewan peliharaan, anjing adalah hewan yang paling setia pada tuannya. Pernah baca atau melihat filmnya kan? Belum pernah ada cerita bahwa ada anjing yang kabur dari rumah. Tak seperti ayam yang kadang suka tiur di kandang tetangga hanya karena ada betina semok di sana. Atau kucing yang kabur lantaran ngambeg nggak dikasih makan ikan panggang.

Anjing juga akan menjaga tuannya dengan sepenuh hati dan segenap upayanya. Dia akan rela kupingnya sobek atau perutnya luka asal tuannya selamat. Tentu kita tahu alasannya mengapa hanya anjing yang dipakai sebagai hewan penjaga, bukan monyet, atau beruang.

Anjing tak pandai bermanis-manis seperti kucing. Anjing tak bisa menyembunyikan cakarnya seperti kucing. Anjing itu jujur apa adanya. Sedangkan kucing, bisa saja dia bersikap manis, tapi diam-diam telah menyiapkan cakarnya untuk melukai kita.

Anjing adalah hewan yang bisa bersahabat pada siapa saja, bukan hanya kepada manusia. Ada anjing yang berkawan dengan monyet, ada yang berkawan dengan seekor bebek, ada induk anjing yang mau menyusui anak kucing, ada anjing yang bersahabat dengan kambing. Jika tak percaya, cari saja gambarnya. Banyak sekali.

Anjing mungkin hanyalah seekor anjing. Apapun hakikat di balik penciptaannya dan segenap pengharaman yang ia terima, ternyata dia menyimpan sejuta rahasia. Banyak anjing yang terasa begitu ‘manusia’ bahkan terasa seperti malaikat. Tapi tak sedikit pula manusia yang terasa seperti ‘anjing’ yang ia serapahkan sendiri.

Mungkin itulah sebabnya lidahnya terus menjulur dan meneteskan liurnya, mungkin hanya itulah cara untuknya mampu mengurangi sakit atas segala bentuk per’anjing’an yang dibuat manusia, atas segala stempel buruk yang dilekatkan padanya.

Jika saja tak diharamkan, memelihara anjing mungkin akan lebih baik daripada seekor kucing yang manja. Sudah saatnya telinga kita menjadi ramah ketika mendengar, “Anjing.” Selama ini kita hanya akrab memanggilnya dengan sebutan “guk guk”, atau “guguk”, atau “wawaw”, atau “doggy”, atau “tamara”, atau “bleki”. Kita malu menyebutnya dengan ‘anjing’. Padahal dia memang benar-benar seekor anjing.

Dan sudah saatnya pula lidah kita tak lagi kasar menyebut “Anjing!” Dia bukanlah representasi dari sebuah keburukan. Anjing tetaplah anjing. Anjing bisa menjadi sebuah tolak ukur keimanan seseorang. Seperti disebutkan, iman manusia bisa saja melebihi malaikat jika mampu mengendalikan hawa nafsunya. Tapi manusia juga bisa lebih rendah derajatnya dari seekor anjing jika dia tak mampu menguasai nafsunya.

2 thoughts on “Anjing

  1. beneran bro..anjin bukan representasi dari sbuah keburukan..bahkan anjing lebih taat dari manusia…anjing ga mau oprasi plastik,anjing g mau bnuh diri,anjing mentaati dan mematuhi takdir yg di garis ilahi..trims sob udah ngingetin moga pd memahaminya g skdar ‘tau’kekeliruan nilai yg dah sperti tradisi slama ini..amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s