Kabar Lebay nan Berbahaya

Lantas

Saya boleh menulis untuk siapa? Saya boleh mengadu kepada siapa untuk menyampaikan ini.

Ya, menikmati berita (kabar, warta, atau fokus, atau apapun namanya) kok sepertinya sama ketika menikmati infotainment (informasi, investigasi, silet, parang, gergaji, atau apapun namanya). Setidaknya ini berlaku bagi sebagian saja stasiun TV yang katanya intens kepada warta dan olahraga.

Nggak tahulah ya. Kecuali jika mungin nanti TVRI ikut-ikutan latah mengikuti tren pemberitaan saat ini. Ketika ada sebuah kasus, maka itulah topik berita hingga seminggu ke depan. Bisa jadi berita Firrman Utina yang gagal menjebol gawang Malaysia di final pertama piala AFF, atau ketika kembarannya Judika (Tibo) bermain optimal di tim U-23 SEAG. Lalu mereka akan diundang ke studio, ditanya ini itu oleh pembaca berita yang tak lebih pintar dari tablet-nya. Apa bedanya dengan berita Saiful Jamil ketika kehilangan istri keduanya lalu dibuatkan sinetron dan filmnya? Mungkin saja nanti akan ada film Indonesia yang judulnya “Kutemukan Cinta di Wisma Atlet Palembang”.

Tren pemberitaan ini kemudian memberikan doktrin kepada masyarakat bahwa segala sesuatu bisa jadi isu yang menarik, bisa jadi topik, bisa jadi sebuah gosip bahkan. Sehingga wajar jika kita mengikutinya sepanjang hari, sepanjang waktu. Menikmati pemberitaan Nazaruddin misalnya, kok seperti menikmati perseteruan Depe dan Jupe.

Mari kita simak kabar dari Bu Nunun yang masih hangat (taik ayam), akan bertahan berapa harikah berita tersebut. Apakah bisa masuk chart berita terlebay se-nusantara?

nunun-wanted

 

Hah!

Saya harap TVRI sebagai televisi pendidikan milik bangasa (seperti halnya RRI) tak ikutan latah mengikuti tren pemberitaan (tak penting) seperti itu. TVRI harus tetap pro rakyat, tetap memberitakan apa benih padi terbaru, atau pupuk yang cocok bagi petani kelapa sawit agar tanahnya tidak terlalu manja dengan urea dan NPK, atau laporan cuaca terbaru buat para nelayan, atau berita dari desa teladan, atau, atau, atau….

Lalu

Siapa yang mau disalahkan atas ini semua? Demokrasi berlebihan yang tidak terkontrol pasca reformasi membuat media massa telah berubah menjadi media gosip. Semua kita bebas membuat berita, memberitakan apa saja, dan mengapasajakan berita. Kemajuan atau kemunduran pers? Harusnya Pak Amien Rais harus dimintai tanggung jawabnya atas ini semua.

Mungkin salah satu faktor banyaknya perpecahan dalam keluarga di Indonesia adalah peran dari stasiun TV yang katanya terdepan mengkhawatirkan itu. Bagaimana tidak, ketika bapaknya (misalnya) terlibat korupsi, maka wajah bapaknya (atau minimal namanya) akan sering muncul atau diperbincangkan di TV. Lalu, anak-anak mereka yang secara nyata mungkin tak pernah tahu tingkah bapaknya itu akan sangat-sangat menderita tekanan batin sehingga mereka harus kabur entah ke mana gitu agar tidak dicaci siapapun. Padahal mereka tak tahu bahwa mungkin saja istri (yang diberitakan tadi) adalah istri yang bijaksana yang terpaksa harus mengasingkan diri demi perkembangan anak-anaknya sehingga tak harus menerima imbas dari pemberitaan bapaknya di TV.

Siapa yang tahan jika ketika baru masuk kelas sudah dikatai “anak koruptor” misalnya. Atau ketika belanja di pasar ditanyai, “Bu, ini uangnya bukan hasil suami anda yang korupsi kan?” Mungkin saran-saran konyol dari Raditya Dika di saat-saat genting ini akan segera dipraktikkan di sini, PURA-PURA MATI!

Ya, setidaknya mereka (tukang mencari sensasi berita) bisa sedikit mikir bagaimana jika yang diberitakan itu bapak mereka, atau bahkan sepupu mereka. Lalu seluruh media juga akan menyorot mereka, rasakan betapa tersiksanya menjadi bagian dari “terdakwa media”. Kasihan, sungguh kasihan nasib media dan pers kita akhir-akhir ini.

Hmm.

Pagi ini saya memilih mendengarkan RRI Pro II ketika teman serumah memilih mendengarkan “Apa Kabar Indonesiapasajabolehngobralberitaapasaja”-nya salah satu stasiun TV. Bukan apa-apa, saya kurang suka pada gaya pembawa acaranya yang mencoba lebih pintar dari tablet-nya dimana dia baru saja menggantikan pembawa acara yang lama yang telah sakaw kebanyakan syuting menayangkan kabar ber(l)i(n)ta(h).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s