Kembalikan Trah Musik Indonesia!

Hey, kita butuh lagu-lagu yang kembali ke akar rakyat Indonesia. Lagu yang penuh sahaja, sederhana, menyampaikan kekhasan lokal, dan bisa diambil manfaatnya.

Menilik tren perkembangan musik di Indonesia (yang kebanyakan didominasi oleh band baru dan solois-solois kacangan), rasanya kok miris banget ya. Semuanya sama dan seragam, korban dari majalah, kata SID dalam lirik lagunya. Kabarnya kini marak beredar Boyband dan Boygirl di mana-mana yang mana mereka hanya mengandalkan bodi daripada kualitas suara. Ayo ngaku, mau nonton 7 Icons atau dengar lagunya? Barangkali ketika memutar video klip 7 Icons dan suaranya di-mute-kan, kita tidak akan protes asal layarnya tidak digelapkan.

Ya, hampir kita tak bisa membedakan antara satu penyanyi dengan penyanyi lainnya, semua melagukan jenis musik yang sama. Entah yang namanya Hijau Daun, Klorofil, Asbak, Domino, Lacak, Togel, atau apapun namanya. (rasanya Kangen Band harus diseret ke meja hijau untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tapi rasanya vokalis dan keyboardis-nya saja sudah cukup lah)

Kita rindu dengan lagu-lagu bersahaja semacam lagu Loe Toe Ye milik /rif, Kau Cantik Kau Iblis-nya Edane, Kisah Klasik-nya Sheila On 7, atau Masih Bisa Tersenyum-nya Padi. Kita muak dengan judul lagu yang isinya hanya seputar pacar, selingkuh, dan playboy.

Lantas

Siapa yang mau bertanggung jawab ketika banyak muncul pemuda-pemudi galau dan alay di kehidupan kita. Siapa yang mengajarkan itu semua?

Yah, meskipun kita kecolongan dengan lagu Sephia-nya Sheila on 7 atau Jangan Datang Malam Ini-nya Padi, tapi mereka begitu bijak menyampaikan kemasan lagu itu sehingga kadang ketika pertama kali mendengar lagu ini kita tak tahu jika lagu itu tentang selingkuh dan lesbian.

Tapi coba dengar lirik lagu sekarang yang cenderung lebih vulgar dan telanjang. Kita simak lirik, “engkau selingkuh, aku selingkuh, kita sama-sama selingkuh”. Na’udzubillah, masa iya mengajari orang untuk memperparah keadaan dengan sama-sama selingkuh. Nanti bisa jadi muncul saduran lagu Possesif-nya Naif menjadi “kau bunuh aku, aku bunuh kamu, kita sama-sama bunuh-bunuhan”.

Ada baiknya sebagai seniman kita bisa sedikit lebih bijak untuk mengajari masyarakat. Mereka tahu bahwa itu tidak dipelajari di sekolahan, tapi di luaran. So, jika seniman bisa bijak, maka masyarakat pun bisa ikutan bijak. Karena secara sadar atau tidak, apa yang telah disajikan itulah yang disantap oleh masyarakat yang telah cenderung menjadi rakus dan omnivora, memakan apa saja yang tersaji di media.

rhoma-iramaSaya tak begitu mengharapkan apa-apa soal ini kepada pemerintah karena sama saja seperti berharap kambing bisa mendamaikan banteng yang sedang berkelahi. Percuma. Kalaupun ada jaminan, mungkin harus menunggu sampai lebaran kucing baru bisa teratasi. Alias hil yang mustahal, kata alm. Timbul.

Yang bisa saya ingatkan hanyalah, bisa jadi apa yang kita sajikan itu adalah salah satu “amal jariyah” yang akan menemani kita di alam kubur nanti. Ya, selama apa yang kita ajarkan lewat lirik lagu itu diikuti banyak orang, maka pahala akan tetap mengalir kepada kita. Jadi, ketika kita mengajarkan kebaikan, maka kebaikan pula yang menemani kita. Jika keburukan, bayangkan saja sendiri!

“Bagaimana mungkin kita telah mengajarkan orang buat selingkuh dan pakai shabu bisa masuk surga?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s