Cinta itu Murah

Siapa bilang cinta itu mahal? Nggak tahu.

Siapa bilang cinta itu berat di ongkos? Project Pop, Mas.

Cinta itu murah, tapi bukan berarti harus diobral hingga seribu tiga. Cinta tidak bisa disamakan dengan pacaran karena levelnya beda. Cinta itu suara hati, sedangkan pacaran adalah suara nafsu.

Mau bukti kalau cinta itu murah? Sini saya bisikin…!

Saya punya Mbak (atau kakak perempuan) yang tinggal nun jauh di sana. Kami terpisah beberapa derajat lintang utara dan perbedaan waktu satu jam. Dan Mbak saya itu ada di luar negeri.aku sayang kakak

Ya, meskipun dia ke luar negeri bukan dalam rangka pelesir atau melancong, tapi dalam rangka menjaga agar dapur keluarganya tetap ngebul. Saya tetap bangga, meskipun di negara kita orang semacam Mbak sering dipandang sebelah mata, tapi Mbak telah berjuang untuk anak istrinya. Eh, untuk anak dan keluarga kecilnya.

 

Bahkan ukuran kebanggaan saya lebih dari itu. Mungkin dari sekian orang anggota dewan dan menteri yang ada di Senayan sana tidak kenal siapa itu Mbak saya. Tapi, di negeri tempatnya bekerja, siapa yang tak tahu dia. Bahkan menteri pertahanan dan sebagian anggota dewan di sana telah kenal sosok Mbak saya karena Mbak saya paling jago jadi orator waktu demonstrasi di kedutaan. Hehe…

Haduh, kok jadi ngomongin Mbak saya sih. Kan tadinya saya mau ngasih bukti kalau cinta itu murah kan ya…. Hmm, baiklah ini dia.

Meskipun Mbak jauh di sana dan saya di sini, tapi Mbak tetap ingin menjalin komunikasi dengan saya. Dengan jalan apa? Hus, bukan teleportasi, tapi telepon saja.

Coba kita perhatikan tarif telepon seluler di negeri kita! Semua provider berlomba-lomba menggembar-gemborkan dirinya paling murah. Toh, tarif telepon seluler utawa GSM negara kita terbilang mahal dari negara lain. Taruhlah yang paling murah kita bisa menelepon GSM dalam negeri Rp 6.000 sejam. Itupun harus sesama provider.

Padahal Mbak selalu menelepon saya setiap hari. Bahkan kalau lagi kumat, Mbak bisa menelepon saya sampai tiga kali. Apa? Iya, tiga kali. Setiap kali menelepon bisa habis satu sampai dua jam.

Iya juga sih, saya emang nggak pernah nanya Mbak habis berapa duit setiap kali menelepon saya. Takutnya mengganggu keharmonisan rumah tangga. Hehehe… karena Mbak pernah berpesan kalau apapun akan dia perbuat demi saya dan tak usah dipertanyakan lagi mengenai masalah dunia dan segala macam perabotnya itu. Wuaduh, bukan lebay ya…!😀

Tapi itu sudah membuktikan bahwa cintanya Mbak saya kepada saya itu nggak pandang duit dan nggak pandang-pandang yang lain. Termasuk cintanya Mbak kepada keluarganya sendiri, buat anak semata wayangnya dan suami semata wayangnya juga. Hehehe…

Bahkan Mbak bersedia mengurangi jatah gajinya hanya ketika memergoki saya kehabisan uang di negeri orang karena keseringan beli buku. Ups…

Inilah salah satu bukti hebat bahwa cinta itu sebenarnya memang murah. Cinta sejati tidak akan mengenal hitung-hitungan harta benda (meskipun jika dihitung-hitung memang muaHal).

Cinta sejati itu mengorbankan dengan ikhlas dan penuh kasih sayang.

Sangat berbeda dengan orang pacaran. Mau tahu? Mau tahu? Mau tahu? Cari tahu sendiri saja ya, kebetulan saya nggak pernah (dikasih kesempatan buat) pacaran. Jadi ya nggak paham gitu deh. Katanya sih sama kayak Project Pop bilang, berat di ongkos. Mending pacaran sama supir angkot atau tukang ojeg aja kali ya, bisa gratis ongkos. Hehe…

One thought on “Cinta itu Murah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s