Aku dan Kresna

kresna (2)

Bapak adalah penyuka wayang. Dulu, aku sering diajak untuk nonton wayang hingga larut malam (yang mana setelah punakawan selesai tampil, aku tertidur di pundak Bapak). Bapak hampir hapal dengan tokoh-tokoh wayang dan sebagian cerita dalam pewayangan tersebut.

Hingga suatu kali, aku secara iseng menanyakan seperti siapakah aku dalam dunia pewayangan. Bapak memberikan jawaban yang cukup menenangkan dan menyenangkan. Kata Bapak, aku mirip dengan Kresna, atau Prabu Kresna, raja dari negeri Dwarawati. Kresna termasuk dalam kaum pandawa, yaitu seteru Kurawa.

Kaum Pandawa adalah lambang dari setiap kebaikan, dan Kurawa adalah lambang dari setiap kejahatan. Satu tokoh yang kutahu dari pihak Kurawa adalah Patih Sengkuni yang terkenal sangat licik. Sedangkan dari pihak Pandawa tentu saja lima ksatria yang memiliki julukan Pandawa Lima, Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa.

 

Masa kecil Kresna dikenal sebagai anak yang lain dari biasanya. Dia agak nakal, tapi cerdas dan sudah mampu menunjukkan kebijaksanaannya dalam menengahi setiap permasalahan, baik itu antara sesama teman ataupun masalah di tempat tinggal mereka. Ketika dewasa, Kresna digambarkan sebagai pemuda yang tampan, berkulit agak gelap, dan berkumis tipis.

kresna_ensikKetika menjadi raja pun Kresna dikenal sebagai raja yang bijaksana. Kresna juga dikenal sebagai kreator di belakang layar alias penyusun strategi. Dalam perang melawan Kurawa pun, Kresna bertindak sebagai kusir kereta kuda yang ditumpangi Arjuna.

Kresna jarang sekali maju ke depan. Tapi, jika dia melihat tak ada lagi yang mampu melakukan, barulah dia turun tangan. Seperti saat ingin menyelamatkan Arjuna dari sumpahnya karena tak mampu membunuh Jayadatra.

Kresna dikenal pula dengan tiga macam perwujudan. Yang pertama adalah wujud Kresna sebagai manusia biasa. Kedua adalah wujud seorang dewa karena Kresna juga dikenal sebagai titisan dari Dewa Wisnu atau Dewa Pemelihara dan Pelindung. Dan yang terakhir adalah wujud raksasa Brahalasewu, atau dikenal dengan wujud Tiwikrama.

Wujud yang terakhir hanya muncul jika hanya ketika Kresna dilanda murka yang sangat. Seperti saat-saat sebelum perang Bharatayudha di Padang Kurukhsetra, Kresna sempat menjadi raksasa sebelum akhirnya luluh oleh ulah Antasena.

Senjata Kresna yang paling terkenal adalah cakra dan bunga Wijayakusuma. Cakra adalah semacam anak panah yang ujungnya berbentuk cakram dan jika dilepaskan dapat kembali ke pemiliknya. Lalu bunga Wijayakusuma bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit dan menghidupkan orang yang mati sebelum takdirnya. Kelebihan-kelebihan yang dia miliki kemudian membuatnya menjadi sebuah pribadi yang istimewa.

Kresna juga menyukai bunga dan keindahan. Itu terbukti ketika Kresna mendadak Tiwikrama dan berubah menjadi raksasa, lalu menghancurkan apa saja yang dilaluinya. Hingga kemudian dia melihat padang bunga yang begitu indah yang merupakan hasil perwujudan dari Antasena. Akhirnya Kresna luluh dan perlahan tubuhnya mengecil dan berubah menjadi wujud manusia kembali.

Lantas apa hubungannya denganku?

Baiklah, kuceritakan sedikit tentangku.

PD_Chibipack__Kresna_by_HNDRNT26Ibuku pernah bercerita bahwa ketika kecil aku lebih sering menjadi penengah atau pendamai ketika ada teman-temanku yang bertengkar. Aku senang sekali mendengar cerita ini. Ini indikasi pertama.

Lalu Bapak menambahkan bahwa aku bisa memberikan nasihat kepada orang lain dan biasanya mereka mau menerima nasihat dariku, lalu melakukannya. Ya, sedari remaja aku sudah menjadi tempat curhat teman-temanku, bahkan tanpa kusadari sesuatu apa yang membuat mereka bisa percaya padaku.

Kata orang aku pendiam. Jika sedang kumat bisa diam seribu bahasa. Bahkan tersenyum pun tidak, datar saja ekspresinya. Tapi jika marah, aku bisa mengamuk dan menghancurkan apa saja. Untung saja sifat yang terakhir itu jarang sekali keluar.

Selain itu, di rumah hanya aku dan ibu saja yang menyukai tanaman dan bunga. Hampir separuh tanaman atau bunga di halaman rumah dan kebun belakang adalah hasil dari tanganku. Kata ibu, tanganku adem, jadi biasanya setiap tanaman yang kutanam bisa tumbuh dengan baik.

Dalam organisasi, aku jarang sekali berada di posisi yang berhubungan langsung dengan dunia luar. Aku lebih suka berada di belakang layar dan tak banyak yang mengenal. Jarang sekali aku berada di bidang humas misalnya, atau bidang acara yang menuntut kita ada di depan layar. Tapi aku juga pernah mencicipi posisi sebagai ketua. Mungkin bagi mereka yang mengenal tokoh pewayangan sudah mampu menebak bagaimana gaya kepemimpinanku.

Terlepas dari benar tidaknya, atau ada tidaknya tokoh Kresna itu, aku senang sekali bisa menemukan sosok yang mirip denganku. Aku mengira adanya tokoh-tokoh dalam pewayangan adalah sebagai penggambaran sifat-sifat manusia yang umum yang ada di dunia ini.

Hingga kini, aku tetap memajang sebuah wayang kulit berbentuk sosok Prabu Kresna. Bukan hanya karena secara tidak sengaja sifat dan perilakuku sedikit banyak mirip dengannya, terlebih dari itu aku ingin menghargai sebuah karya dalam bentuk pewayangan ini. Dari benda seni itu kita bisa belajar mengenai sifat-sifat baik dan buruk manusia dan bagaimana menyikapinya. Yah, meskipun aku tak bisa sehebat Bapak dalam menikmati cerita pewayangan. Smile

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s