Ketika Mamak Bisa Naik Motor

DSC00360

Akhirnya kami punya sepeda motor lagi, dan pastinya motor BARU. Setelah Adik saya selalu mendesak agar dia tidak dikucilkan dalam dunia remaja yang baru saja dia jajaki, akhirnya Bapak mengalah untuk membeli satu sepeda motor lagi. Sungguh kejam dunia anak muda sekarang.

Tapi lantas motor itu pun juga punya kegunaan lain, yaitu bisa untuk Mamak belanja ke pasar karena motor yang satunya pun akhirnya diakui sebagai hak milik oleh Adik saya yang satu lagi, jadi tak perlu menunggu minta diantar yang jika Mamak kelamaan maka Mamak akan pergi naik sepeda saja.. Hiks, malah saya yang keseringan minjem motor jadinya.

Karena motor BARU ini jenisnya bebek matik tanpa gigi dan tinggal pancal (baca: gas) makanya Adik dan Mamak saya langsung bisa mengendarainya tanpa harus belajar mengendalikan kopeling dan gigi seperti ketika saya belajar dengan motor federal milik Bapak dulu. Tercatat saya sudah jatuh tiga kali sepanjang belajar naik motor itu, dan baru seminggu kemudian berani bawa motor sendirian.

Tapi kemudian timbul satu kekhawatiran dalam benak sayaketika menyadari akan ada perubahan yang mencolok setelah adanya motor BARU itu. Apa itu? Yap, karena Mamak saya sudah bisa mengendarainya motor BARU itu maka Mamak bisa bebas kapan saja ke pasar atau belanja tanpa menunggu saya terlebih dahulu untuk memboncengnya ke pasar. *Panik.

Kekhawatiran itu kemudian menimbulkan praduga bahwa nanti Mamak tidak mau lagi saya antar ke pasar dan saya dianggurin begitu saja. Mengingat begitu mudahnya motor itu dikendarai akan menyebabkan Adik saya pun akhirnya juga berebutan ingin mengantarkan Mamak ke pasar. Padahal aku selalu ingin mengantarmu, Mak. Aku selalu ingin ada di depanmu, itu artinya aku selalu di dekatmu.

Yah, mudah-mudahan saja praduga saya ini salah dan Mamak masih tetap mau saya antar ke pasar meski Mamak sudah bisa naik motor sendiri.

Karena sungguh, kenikmatan terbesar saya dengan Mamak adalah bisa mengantar Mamak ke pasar atau pengajian mingguan. Dengan begitu saya selalu ada di dekat Mamak. I Lop Yu Pull, Mamak.

NB: Mamak adalah sebutan penuh cinta dari saya buat ibu saya

3 thoughts on “Ketika Mamak Bisa Naik Motor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s