Mendadak OVJ

OVJ sevenfold

Siapa yang tidak tahu OVJ alias Opera Van Java. Komedi yang tayang setiap malam di salah satu stasiun TV swasta Indonesia itu telah menjadi salah satu tontonan wajib bagi kita. Bagaimana kita bisa tertawa dengan gaya gombalnya Andre, tingkah latahnya Parto dan Azis Gagap, goyangan Sule, dan juga candaaan khas Nunung.

Siapa juga yang menyangka bahwa OVJ ini pun bisa kembali mengulang sukses acara serupa di stasiun TV saudara tuanya, yaitu Extravaganza yang dulu juga sempat menjadi ikon stasiun TV tersebut. Dan kini, OVJ-lah anak emasnya.

Pada awalnya, jalan cerita dalam OVJ memiliki benang merah atau ada jalan cerita yang dibangun dalam setiap segmennya. Tapi, lama kelamaan jargon ‘walau ceritanya agak sedikit ngawur’ menjadi inti dari setiap tayangan OVJ dimana pemain bebas saja membelokkan jalan cerita begitu saja atau bahkan menghancurkan jalan ceritanya.

Tapi, kemudian ada satu hal yang kemudian bisa kita soroti dari tayangan komedi ini bahwa tayangan ini telah ditonton oleh sebagian besar pemirsa TV, baik itu anak-anak maupun dewasa. Dan sebagai sebuah tayangan di TV, mau tidak mau setiap apa yang diperbuat dalam tayangan itu akan ditiru oleh penontonnya. “Tontonan bisa jadi tuntunan”.

Nah, yang kemudian menjadi sisi negatif dari tayangan ini adalah ketika pemainnya kemudian bebas berbuat, bebas berkata, dan bertingkah apa saja asal bisa bikin ketawa (biarpun pemain dan dalang bingung, yang penting bisa ketawa) sehingga terkadang apa yang mereka lakukan itu melewati batas sewajarnya.

Misalnya, ketika pemain menyebutkan kata kasar atau kata yang tidak lazim diucapkan, kemudian tingkah menjahili sesama pemain, atau bahkan sengaja mencelakai sesama pemain ataupun penonton meskipun tujuannya hanya untuk banyolan.

Tontonan komedi sekarang itu sudah melenceng dari batas sewajarnya, dimana orang jatuh atau kena musibah bukannya simpati malah diketawai, bapak saya.

Bisa kita lihat, ketika pemain dijatuhkan dalam properti (meskipun terbuat dari bahan aman dan tidak melukai), dipukul dengan properti, atau dibuat celaka dan memalukan (misalnya adegan Nunung dibuat beser atau ada pemain yang dipelorotkan celananya). Belum lagi tawa yang terdengar dari penonton selalu terbahak-bahak, padahal tawa dengan terbahak itu tidak bagus, baik untuk pendengaran maupun etika kesopanan (coba perhatikan tawa khas penonton di acara OVJ atau Bukan Empat Mata, misalnya).

Dan itulah yang dikhawatirkan akan ditiru oleh penontonnya, terlebih anak kecil. Meskipun di situ dituliskan BO, tapi tetap saja kadang ada orang tua yang tak acuh terhadap tontonan anaknya. Mereka dibiarkan nonton TV asalkan bisa diam dan tidak mengganggu pekerjaan. Bisa saja nanti terjadi misalnya seorang anak mendorong teman atau adiknya ke sebuah meja makan, padahal itu meja asli, bukan busa styrofoam.

Hal ini tidak hanya berlaku untuk OVJ saja, tapi juga acara komedi senada yang kini banyak bermunculan di TV. Dan jam tayangnya pun sengaja dibuat dalam waktu-waktu yang tidak tepat, misalnya waktu untuk beribadah, belajar, ataupun untuk istirahat.

Misalnya, dari jam enam sore kita sudah disuguhkan acara komedi, dan itu berlanjut hingga jam sepuluh malam nanti. Jadi, tidak ada kesempatan seorang anak untuk beribadah atau belajar ketika dia sudah berada di depan TV. Kecuali di rumah itu ada aturan tertulis yang menyatakan TV tidak boleh hidup dari jam enam sore hingga jam delapan malam. Dengan begitu ada waktu untuk beribadah, belajar, dan istirahat sebelum menikmati tayangan TV.

Dalam islam kita tahu, bahwa Nabi pun pernah bercanda dan pernah juga tertawa. Tapi Nabi tidak mengejek atau membuat celaka sahabatnya agar terkesan lucu. Nabi hanya mengusili (seperti cerita bji kurmanya sahabat Ali) atau menceritakan peristiwa lucu tapi itu ada benarnya (misalnya cerita tidak ada nenek-nenek yang masuk surga).

Sejarah mengatakan, tawa Nabi yang paling ‘ketawa’ adalah hanya tampak gigi bagian sampingnya dan suaranya wajar saja, tidak sampai tertawa keras hingga terbahak-bahak. Selebihnya Nabi tertawa sambil tersenyum. Nah lho…!

Jadi, ada baiknya dalam sebuah keluarga (karena jam tayangnya biasanya saat jam kumpul keluarga) agar lebih bijak dalam memilih tontonan ataupun jam untuk melihatnya. Ada baiknya anak-anak didampingi saat nonton TV dan anak diberi pengertian bahwa yang dilakukan dalam TV itu hanyalah rekayasa.

Juga terlalu lama menonton TV. Jangan sampai hanya karena menonton TV kita melupakan kewajiban kita, baik untuk diri sendiri ataupun agama. Inilah yang kita sebut sebagai tontonan maksiat. Bukan hanya karena isinya, tapi lebih karena tontonan itu melenakan kita untuk beribadah kepada Allah SWT.

(Dalam sebuah obrolan dengan Bapak saya ketika menonton OVJ)

2 thoughts on “Mendadak OVJ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s