Tasbih

Kresna BertasbihDSC00822

Menurut kamu apa yang lebih penting dari sebuah tasbih?

Ya, tasbih adalah sesuatu benda yang kerap kali dipakai ketika orang berzikir atau berdoa. Tasbih terdiri dari sejumlah manik-manik yang diuntai dalam sebuah tali dan kemudian ujungnya dibuat simpul sehingga berbentuk kalung atau gelang.

Tasbih tidak hanya ditemukan pada umat Islam saja, ternyata penganut agama lain juga memakainya (jika tak percaya, coba perhatikan beberapa film yang dibintangi Bo Bo Ho). Mungkin perbedaannya terletak pada jumlah butiran dalam tasbih itu atau terletak pada hiasan yang ada di ujung tasbih.

Tasbih bisa diibaratkan sebagai sebuah artian ‘tasbih’ yang sesungguhnya, yaitu perputaran yang tiada henti. Seperti telah kita buktikan dengan adanya tasbihnya bulan mengelilingi bumi, tasbihnya planet-planet mengelilingi matahari, tasbihnya untaian DNA kita, bahkan tasbih partikel terkecil semacam atom.

Lalu, kembali ke pertanyaan di atas tadi, kira-kira apa yang lebih penting dari sebuah tasbih?

Selama ini kita mungkin hanya fokus pada butirannya saja karena memang butiran itulah yang kita putar sehari-hari ketika berzikir. Sehingga kadang detail tentang butiran ini menjadi begitu penting. Misalnya jumlahnya harus 33 atau 99. Kemudian butiran/biji tasbihnya juga harus terbuat dari kayu berkualitas, kristal, atau gading.

Tapi, ternyata kita melupakan satu hal yang paling penting dari sebuah tasbih. Apa itu? Ya, hal itu adalah talinya. Mungkin kita telah lupa dengan talinya. Coba bayangkan jika butiran tasbih itu tanpa tali! Betapa merepotkan bukan? Saya juga pernah menyaksikan bagaimana seorang jamaah ketika tali tasbihnya putus dan butirannya tercerai berai di lantai. Akhirnya dia hanya sibuk memunguti butiran tasbihnya daripada berzikir.

Terkadang kita lebih mementingkan butiran tasbihnya daripada talinya, kutipan dari salah seorang pendeta Hindu di Bali.

Apa artinya?

Ini bisa kita gambarkan sebagai keadaan sebagian besar masyarakat kita, masyarakat Indonesia, bahkan mungkin masyarakat dunia. Atau lingkungan terkecil saja, di keluarga. Dimana orang-orang hanya mementingkan dirinya saja (butiran) tanpa memperhatikan satu hal yang mempersatukan kita (talinya). Kita tercerai berai begitu saja di lingkungan kita.

Di kampus misalnya, masing-masing Unit Kegiatan Mahasiswa saling bertahan dengan prinsip masing-masing tanpa ada keinginan untuk menyamakan langkah dan bersinergi karena sesungguhnya tujuannya sama, sama-sama memberdayakan mahasiswa. Tak jarang antarunit malah saling bentrok karena idealisme masing-masing.

Dalam lingkungan masyarakat Indonesia juga kita temukan hal senada. Masing-masing orang hanya sibuk dengan kepentingan dirinya sendiri sehingga kerap melupakan persatuan dan kesatuan yang telah digadang-gadangkan oleh pendiri negara ini. Bagaimana mau dipakai tasbihnya jika talinya saja tidak ada?

*Dalam sebuah percakapan dengan Bapak saya.

One thought on “Tasbih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s