[bukan] Imam Biasa

Foto0159

Banyak orang menanyakan kenapa saya tak serajin dulu shalat berjamaah di masjid.

Nggak ada yang nanya tuh…!

OK. Nggak masalah. Saya cuma mau kasih tahu saja jikapun ada nanti yang bertanya, katakan saya sedang (di)pulang(kan) ke rumah orang tua saya. Hahaha…. Nggak kok. Saya cuma agak sebel karena semakin hari kok imam shalat makin asal-asalan.

Kok gitu?

Iya. Menurut saya, orang itu begitu membuat ‘mudah’ makna apa itu imam. Imam adalah pemimpin dalam shalat berjamaah. Itu saja. Tetapi tidak dipelajari bagaimana menjadi imam shalat yang benar.

Dan yang paling sering saya temukan adalah imam yang tak mau tahu dengan keadaan makmumnya. Maksudnya, dia berusaha membagus-baguskan bacaan ataupun gerakan shalatnya agar terlihat ‘lebih’ di mata makmumnya. “Astaghfirullah, maaf jika saya salah.”

Dan kesalahan yang paling sering saya temukan adalah aba-aba yang ambigu. Hal ini sebenarnya lebih mengacu pada bagaimana melafalkan aba-aba semacam “Allahu Akbar” dengan intonasi yang tepat sehingga makmum yang tidak melihat imam pun bisa menerka itu aba-aba untuk gerakan apa.

Kadang ada imam yang sengaja memanjangkan lafaz “Allaaaaaaahu Akbaaarr” tidak pada tempatnya sehingga terkadang terdengar ambigu dan membuat ragu makmunya, ini gerakan apa ya. Ada juga yang hanya melafazkan “Allaaah…” saja dan “Akbar”-nya dibuat lirih atau kadang tak terdengar.

Menurut saya, aba-aba dalam shalat itu sama saja dengan aba-aba dalam gerakan baris berbaris. Makna pengucapan “Allah” pada gerakan takbir misalnya, itu jadi semacam aba-aba “Hormaaat…” dan disambung dengan lafaz “Akbar” yang menandakan perintah semacam “Grak…!” sehingga komando shalat itu terdengar jelas dan mantap terdengar oleh makmum.

Jadi, jika ada imam yang tidak pas dalam melafazkan aba-aba ini atau imam tidak mengucapkan semua aba-abanya, maka makmum akan didera keraguan (jiaah, galau yak….) Dan tentu saja akan mengganggu konsentrasi makmum karena ragu memulai gerakan sehingga gerakan makmum pun terlihat tidak serentak.

Siapakah yang perlu disalahkan?

Saya juga nggak mau menyalahkan siapapun dalam hal ini. Anda pun telah salah karena membaca tulisan ini, lalu akan menyalahkan saya nantinya. Hahaha…. Yang pasti saya hanya ingin mengingatkan bahwa menjadi imam shalat itu susah-susah gampang karena sama saja melatih jiwa kepemimpinan kita. Jika ketika mengimami saja kita sudah seenaknya saja, maka bisa kita prediksi bagaimana di kehidupan sosialnya.

But, easy…. Kita hanya butuh belajar saja. Tergantung kita, mau belajar atau tidak.

One thought on “[bukan] Imam Biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s